Krisis Hunian di Eropa, Kisah Lansia 87 Tahun Terusir dari Rumah Picu Protes

Harga rumah Portugal melonjak 124% dalam sembilan tahun. Di Spanyol, kenaikan sewa 230% membuat kasus penggusuran lansia memicu aksi massa.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 19 Oktober 2026, 13:15 WIB
Sejumlah demonstran berlindung di belakang barisan polisi setelah terjadi bentrokan dalam aksi protes terhadap tingginya biaya hidup di Milan, Italia, Sabtu (17/10/2026). (Dok. Stefano Porta/LaPresse via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian warga Eropa, memiliki atau menyewa rumah yang layak semakin sulit dijangkau. Lonjakan harga hunian dan biaya hidup mendorong masyarakat turun ke jalan, mendirikan tenda, hingga berhadapan dengan aparat.

Di balik demonstrasi yang meluas dari Spanyol dan Prancis ke Portugal serta Italia, terdapat keresahan warga yang merasa semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar, terutama tempat tinggal.

Di Lisbon, Portugal, sejumlah demonstran mendirikan tenda di Rossio Square, kawasan ramai yang menjadi salah satu pusat aktivitas ibu kota. Mereka berjanji bertahan semalam di lokasi tersebut untuk menyuarakan tuntutan agar pemerintah mengambil langkah nyata menghadapi krisis perumahan dan kenaikan biaya hidup.

Aksi itu berlangsung setelah demonstrasi yang diikuti ribuan orang di berbagai wilayah Portugal. Pada malam harinya, ratusan orang berkumpul di sekitar patung Raja Pedro IV di Rossio Square. Sebagian menyanyikan lagu sambil duduk di sekitar tenda yang didirikan sebagai simbol perjuangan mendapatkan hunian terjangkau.

Bagi Elena Costa, seorang pekerja sosial berusia 46 tahun, persoalan perumahan bukan sekadar urusan harga properti. Ia menilai masyarakat yang bekerja dan membayar pajak justru semakin kesulitan memperoleh hak dasar untuk tinggal di tempat yang layak.

“Kelas sosial Portugal yang membayar pajak, yang membuat negara ini terus berjalan, sedang diserang dan kehilangan hak-haknya, terutama hak atas perumahan,” kata Elena Costa mengutip The Guardian, Senin (19/10/2026).

“Jadi, kami semua di sini bersama-sama untuk mencoba menjelaskan bahwa kami sedang tercekik," tambah dia. 

Pernyataan Elena menggambarkan tekanan yang dirasakan sebagian warga ketika pendapatan dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup tidak sebanding dengan kenaikan biaya tempat tinggal.

Antonio Margado, seorang insinyur berusia 52 tahun, juga mengkritik kebijakan pemerintah terkait pasar sewa. Menurut dia, pemilik properti semakin terlindungi, sementara penyewa yang membutuhkan rumah justru memperoleh perlindungan lebih sedikit.

Ia menilai, “liberalisasi sewa secara total” membuat posisi penyewa semakin rentan di tengah mahalnya hunian.

 

Harga Rumah Portugal Naik 124 Persen

Para demonstran bentrok dengan polisi antihuru-hara saat berlangsungnya aksi protes terhadap tingginya biaya hidup di Milan, Italia, Sabtu (17/10/2026). (Dok. Stefano Porta/LaPresse via AP)

Data resmi yang dikutip dalam laporan menunjukkan harga rumah di Portugal meningkat 124 persen sepanjang 2015–2024. Kenaikan itu sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata Uni Eropa.

Dampaknya terutama dirasakan kelompok masyarakat berusia muda dan penduduk Lisbon. Sekitar seperempat dari total penduduk Portugal yang berjumlah lebih dari 11 juta orang tinggal di kawasan metropolitan ibu kota tersebut.

Kamp tenda di Lisbon juga bukan aksi yang berdiri sendiri. Sebelumnya, puluhan tenda telah didirikan dalam demonstrasi di Porto, kota di bagian utara Portugal. Aksi di Lisbon memperluas tuntutan warga agar pemerintah menangani persoalan hunian yang semakin sulit dijangkau.

Dalam demonstrasi lain yang digelar serikat pekerja utama Portugal, CGTP, warga turut menuntut perbaikan layanan publik, peningkatan pensiun dan upah, serta langkah konkret untuk mengatasi mahalnya perumahan.

Bagi para demonstran, persoalan tersebut saling berkaitan. Ketika biaya tempat tinggal menyerap semakin banyak pendapatan, ruang untuk memenuhi kebutuhan lain pun semakin terbatas.

 

Dari Penggusuran Lansia hingga Protes di Jalanan

Para demonstran menyerang kantor pariwisata saat berlangsungnya aksi protes terhadap kenaikan biaya hidup yang juga menyuarakan keluhan para pelajar di Lyon, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (Dok. AP Photo/Laurent Cipriani)

Keresahan serupa juga terlihat di Spanyol. Salah satu pemicunya adalah kasus María del Carmen Abascal, seorang perempuan berusia 87 tahun yang kehilangan tempat tinggal setelah tidak mampu memenuhi kenaikan sewa sebesar 230 persen yang diminta perusahaan investasi pemilik apartemennya.

Kasus tersebut menyita perhatian publik karena memperlihatkan bagaimana lonjakan biaya hunian dapat berdampak pada kelompok rentan, termasuk warga lanjut usia.

Peristiwa yang menimpa María memicu demonstrasi di jalanan dan pendirian kamp protes di pusat Madrid. Persoalan yang semula berkaitan dengan nasib seorang perempuan lansia kemudian berkembang menjadi tuntutan yang lebih luas mengenai akses terhadap tempat tinggal.

Pemerintah Spanyol yang dipimpin Perdana Menteri Pedro Sánchez merespons tekanan tersebut dengan mengusulkan langkah darurat untuk mempermudah dan melindungi akses masyarakat terhadap perumahan.

Namun, usulan itu ditolak oleh partai-partai sayap kanan dan kanan jauh di parlemen. Setelah penolakan tersebut, Sánchez mengumumkan pemilihan umum lebih awal yang dijadwalkan berlangsung pada akhir November.

Kisah María memperlihatkan bahwa persoalan hunian tidak hanya menyangkut kemampuan membeli rumah. Bagi penyewa, perubahan harga dan kebijakan pemilik properti juga dapat menentukan apakah mereka mampu bertahan di tempat tinggalnya sendiri.

 

Protes Meluas, Warga Hadapi Tekanan Berbeda

Sejumlah demonstran berdiri di depan sepeda yang terbakar saat aksi menentang kenaikan biaya hidup sekaligus menyuarakan tuntutan mahasiswa di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AP Photo/Thibault Camus)

Di Portugal, tuntutan akses perumahan berjalan beriringan dengan persoalan upah, pensiun, dan layanan publik. Sementara itu, demonstrasi di Italia dan Prancis juga diwarnai bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.

Di Milan, Italia, aksi menentang kenaikan biaya hidup pada Sabtu awalnya berlangsung damai. Namun, demonstrasi kemudian berubah menjadi kericuhan ketika sejumlah orang bertopeng melempar batu, pecahan paving, dan benda lain ke arah polisi antihuru-hara serta membakar barikade.

Polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Sedikitnya dua petugas terluka dan sekitar 50 demonstran, termasuk banyak anak di bawah umur, dilaporkan ditahan oleh aparat.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan demonstrasi merupakan hak masyarakat, tetapi kekerasan tidak dapat dibenarkan. Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga menyatakan bahwa alasan di balik protes dapat dipahami, tetapi tindakan kekerasan dan kerusakan kota tidak bisa dibenarkan.

Di Prancis, kemarahan terkait ketidakhadiran guru dan buruknya fasilitas sekolah di kawasan pinggiran utara Paris yang berpenghasilan rendah berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Demonstran menyoroti ketimpangan, lemahnya belanja publik, dan penurunan standar pendidikan.

Lebih dari 1.200 orang dilaporkan ditangkap di Prancis pada Sabtu setelah demonstran yang mendukung pelajar sekolah menengah bentrok dengan polisi. Sejumlah aksi kemudian berkembang menjadi kerusuhan, disertai pembakaran bangunan dan penjarahan toko.

Sementara itu, di Albania, demonstrasi dipicu persoalan kondisi universitas dan tingginya biaya kuliah. Para mahasiswa dan demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama. Aksi tersebut juga diwarnai pembakaran kendaraan dan kerusakan sejumlah bangunan.

 

Keresahan Terhadap Kondisi

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa pemicu demonstrasi di setiap negara tidak sepenuhnya sama. Namun, di balik tuntutan mengenai hunian, pendidikan, upah, dan layanan publik, terdapat keresahan masyarakat terhadap kondisi hidup yang mereka hadapi.

Bagi warga yang kesulitan membayar sewa, kehilangan tempat tinggal, atau merasa kebutuhan dasarnya semakin sulit dipenuhi, persoalan ekonomi bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Dampaknya hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari ketidakpastian tempat tinggal hingga kekhawatiran mengenai masa depan.

Kisah warga yang mendirikan tenda di Lisbon dan perempuan lansia yang kehilangan rumah di Spanyol menjadi pengingat bahwa akses terhadap hunian tetap menjadi persoalan mendasar. Ketika kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi, keresahan masyarakat dapat berkembang menjadi tuntutan terbuka agar pemerintah menghadirkan kebijakan yang lebih melindungi warga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya