Strategi Bank Dunia Tarik Investasi Swasta untuk Negara Berkembang

Bank Dunia memobilisasi US$ 112 miliar modal swasta pada tahun lalu, meningkat tiga kali lipat dibandingkan sekitar US$ 35 miliar pada 2022.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 19 Oktober 2026, 10:00 WIB
Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga. (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga mengungkapkan mobilisasi modal swasta untuk pembangunan meningkat tiga kali lipat menjadi US$ 112 miliar pada tahun fiskal terakhir, dibandingkan sekitar US$ 35 miliar pada tahun fiskal 2022.

Bank Dunia ingin memperbesar peran investasi swasta untuk mendukung pembangunan dan penciptaan lapangan kerja di negara berkembang.

"Total pembiayaan, termasuk pendanaan Bank Dunia sendiri, telah melampaui US$ 230 miliar pada tahun lalu," jelas dia di Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) 2026, di Bangkok, Thailand, dikutip Senin (19/10/2026).

Menurut dia, pembangunan ke depan membutuhkan kombinasi pembiayaan publik, investasi swasta, filantropi, dan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap negara.

Banga menjelaskan pembiayaan publik dan konsesional tetap penting bagi negara yang menghadapi kebutuhan besar dan risiko tinggi. Seiring menguatnya perekonomian, investasi swasta dan akses ke pasar diharapkan mengambil peran lebih besar.

Namun, tantangan masih terlihat di negara berpendapatan rendah karena modal komersial lebih sulit masuk. Bank Dunia berupaya mengatasinya melalui penguatan usaha kecil dan menengah serta perluasan akses pembiayaan.

 

Enam Bank Pembangunan Siapkan Mekanisme Baru

Banga menilai besarnya pembiayaan saja tidak cukup. Dana perlu diarahkan pada kebutuhan pembangunan yang jelas, mulai dari infrastruktur, energi, pertanian, kesehatan, pariwisata, hingga manufaktur bernilai tambah.

Bank Dunia juga tengah memperluas cara untuk menghubungkan proyek pembangunan dengan investor jangka panjang, seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan dana kekayaan negara.

Dalam pidatonya, Banga menyebut enam bank pembangunan multilateral sedang menyusun mekanisme bersama untuk menilai, mendokumentasikan, mengemas, dan mengalihkan investasi.

Melalui skema tersebut, proyek yang sebelumnya dibiayai bank pembangunan dapat dialihkan kepada investor lain. Dengan demikian, modal yang digunakan dapat kembali tersedia untuk membiayai proyek pembangunan berikutnya.

Banga berharap pendekatan ini membantu membentuk kelas aset pembangunan di pasar negara berkembang. Jika berhasil, kapasitas pembiayaan tidak lagi sepenuhnya dibatasi oleh ukuran neraca lembaga pembangunan.

“Uang publik digunakan ketika pasar belum dapat menjangkau. Modal swasta digunakan ketika dapat menciptakan lapangan kerja dan memperbesar skala usaha. Filantropi untuk mengambil risiko awal dan membuka peluang bagi gagasan baru. Teknologi untuk membuat setiap dolar bekerja lebih jauh,” kata Banga.

Ia menegaskan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Dunia membangun model pembangunan yang mampu mengikuti kebutuhan negara dan generasi mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya