Bank Dunia: 1,2 Miliar Anak Muda Masuk Pasar Kerja, Hanya 400 Juta Pekerjaan Tersedia

Ajay Banga memperingatkan kesenjangan 800 juta lapangan kerja. Dalam 10–15 tahun, 1,2 miliar anak muda masuk pasar kerja.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 19 Oktober 2026, 09:15 WIB
Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga. (MONEY SHARMA / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan dunia menghadapi kesenjangan besar dalam penyediaan lapangan kerja. Dalam 10–15 tahun ke depan, sebanyak 1,2 miliar anak muda diperkirakan memasuki pasar kerja, sementara peluang pekerjaan yang tersedia hanya sekitar 400 juta.

Banga menegaskan penciptaan lapangan kerja menjadi tantangan utama pembangunan global. Kondisi ini semakin kompleks karena konflik masih berlangsung, ruang fiskal negara menyempit, beban utang meningkat, serta biaya kebutuhan pokok, termasuk energi dan pupuk, tetap tinggi.

“Pekerjaan bukanlah sekadar statistik. Pekerjaan adalah martabat,” kata Banga dalam pidatonya di Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) 2026, di Bangkok, Thailand, dikutip Senin (19/10/2026).

Menurut dia, keputusan yang diambil saat ini akan menentukan masa depan generasi muda sekaligus arah perekonomian dunia pada abad mendatang.

Banga menilai dua tantangan perlu diatasi bersamaan, yakni memaksimalkan sumber daya yang terbatas dan membantu negara menciptakan lapangan kerja dalam skala besar.

 

Investasi dan Keterampilan Jadi Kunci

Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Dunia mendorong pembangunan infrastruktur fisik dan sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta peningkatan investasi swasta.

Banga menyebut dunia usaha membutuhkan pasokan listrik, air, transportasi, dan konektivitas digital yang memadai. Sementara itu, masyarakat memerlukan akses terhadap kesehatan, pendidikan, dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Bank Dunia juga mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui peningkatan akses pembiayaan, pemanfaatan catatan digital, serta koneksi dengan pasar dan pembeli yang lebih besar.

Teknologi kecerdasan buatan (AI) turut dipandang berpotensi membantu petani meningkatkan hasil panen, guru menyesuaikan pembelajaran, tenaga kesehatan mengambil keputusan, dan pengusaha menjangkau pelanggan baru.

Banga menegaskan kesenjangan lapangan kerja yang diproyeksikan tersebut tidak harus menjadi kenyataan.

“Kesenjangan lapangan kerja adalah sebuah proyeksi. Itu tidak harus menjadi masa depan kita,” ujarnya.

Ia mendorong negara-negara mempercepat pelaksanaan program pembangunan agar kesempatan kerja dapat tumbuh sesuai kebutuhan generasi mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya