Ukraina Keluhkan Pembatasan Starlink, AS Bantah Terlibat

Teknologi komunikasi satelit menjadi salah satu penopang penting strategi pertahanan Ukraina dalam menghadapi serangan Rusia.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 Oktober 2026, 15:00 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melihat ke luar jendela mobil saat tiba untuk menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, Selasa (7/7/2026). (Dok. Metin Aktaş/Pool Photo via AP)

Liputan6.com, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada Sabtu (17/10/2026) bahwa negaranya masih belum bisa menggunakan sistem pencegat drone secara maksimal untuk menghadapi serangan Rusia. Kendala itu disebabkan pembatasan kecepatan pada Starshield, versi militer dari layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk.

Persoalan tersebut mencuat di tengah ketegangan antara Zelenskyy dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Sayangnya, saat ini kami tidak bisa menggunakan teknologi Starlink atau Starshield di wilayah Ukraina untuk menembak jatuh drone Shahed bermesin jet," kata Zelenskyy dalam percakapan daring dengan sejumlah wartawan saat menghadiri KTT Uni Eropa seperti dilaporkan CBS News.

"Kami bisa menghadang drone-drone itu menggunakan pesawat dan sistem pertahanan udara lainnya. Namun, sayangnya, kami tidak bisa menggunakan Starlink untuk keperluan tersebut. Mudah-mudahan kemampuan itu bisa segera dipulihkan."

Zelenskyy mengatakan pemerintah Ukraina telah membahas masalah tersebut dengan para pejabat AS. Menurut penjelasan yang diterimanya, pembatasan itu terjadi karena kendala teknis. Namun, ia mempertanyakan mengapa layanan Starlink di wilayah Uni Eropa tetap bisa digunakan pada kecepatan yang lebih tinggi.

"Kami terus berkomunikasi melalui jalur militer, Kementerian Pertahanan, dan diplomatik. Kami sudah menghubungi semua pihak, termasuk SpaceX. Namun, sampai sekarang SpaceX belum menanggapi pihak militer maupun Kementerian Pertahanan kami," tutur Zelenskyy.

"Di berbagai tingkatan, mereka mengatakan bahwa masalahnya bersifat teknis."

Zelenskyy menjelaskan bahwa layanan Starlink di Ukraina akan terputus apabila perangkat yang menggunakannya bergerak melampaui batas kecepatan tertentu.

"Di Ukraina, Starlink hanya berfungsi hingga kecepatan 161 kilometer per jam, lalu mati. Sementara itu, di Uni Eropa, Starlink tetap berfungsi pada kecepatan di atas 180 kilometer per jam tanpa terputus," jelasnya.

"Di sini, setelah kecepatan melewati 161 kilometer per jam, koneksinya terputus pada menit kedua dan berhenti berfungsi. Akibatnya, kami kehilangan drone sekaligus koneksi komunikasi."

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menanggapi persoalan tersebut ketika dimintai keterangan oleh wartawan di landasan Pangkalan Gabungan Andrews pada Sabtu.

"Starshield merupakan produk pertahanan, produk militer. Seperti yang sudah saya katakan, sistem itu digunakan oleh militer Amerika Serikat," ujar Rubio. "Saat ini, Ukraina belum memiliki akses ke sistem tersebut. Kami masih membahas bagaimana mereka ingin menggunakannya."

Ketika ditanya apakah pemerintah AS bertanggung jawab atas gangguan layanan di Ukraina, Rubio menjawab tegas, "Tidak."

Ia menyatakan bahwa militer Ukraina sebenarnya tidak pernah memiliki akses ke Starshield. Menurut Rubio, selama ini Ukraina hanya menggunakan layanan Starlink.

"Saya tidak tahu apa yang dikatakan Zelenskyy. Saya bahkan tidak yakin Zelenskyy memahami apa yang sedang dibicarakannya. Namun, gangguan itu bukan sesuatu yang disengaja," kata Rubio.

"Kami tidak ada hubungannya dengan masalah tersebut. Tidak ada seorang pun di pemerintah AS yang memerintahkan pembatasan kecepatan Starlink. Masalah itu terjadi begitu saja. Namun, setahu saya, layanannya sudah pulih dan kembali seperti semula."

Rubio kembali menegaskan bahwa Starshield merupakan sistem yang berada di bawah kontrak militer AS dan tidak berkaitan dengan Ukraina.

"Saya tahu Ukraina ingin mendapatkan akses ke Starshield, tetapi mereka belum memilikinya. Mereka meminta akses untuk melakukan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia," ujarnya.

"Sampai sekarang, akses itu belum diberikan. Starlink dan Starshield adalah dua produk yang berbeda."

 

Belum Ada Penjelasan soal Pembatasan Starshield

Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Kepresidenan Ukraina, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (kanan) dan mantan Presiden AS Donald Trump tampak berbincang di sela menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (26/4/2025). (Dok. Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP)   

Sementara itu, Kuasa Usaha Ukraina untuk AS Denys Sienik mengatakan kepada CBS News melalui pernyataan tertulis pada Sabtu bahwa pihaknya masih belum mendapat tanggapan dari Pentagon maupun SpaceX terkait layanan Starlink dan Starshield.

Ukraina juga belum menerima kepastian apakah pembatasan kecepatan telah dicabut sepenuhnya dan apakah Starshield sudah kembali berfungsi seperti sebelumnya.

"Berdasarkan data yang kami miliki saat ini, kami belum dapat memastikan bahwa seluruh kemampuan tersebut telah pulih sepenuhnya," kata Sienik.

Sebelumnya, pada Jumat (16/10), Trump membantah telah membatasi akses Ukraina ke Starlink. Ia juga mengaku tidak yakin Elon Musk bertanggung jawab atas gangguan tersebut.

"Saya tidak tahu apakah ada pihak yang melakukannya, karena jelas bukan saya. Saya juga tidak berpikir Elon yang melakukannya," kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih untuk menghadiri kampanye di Georgia.

"Sejauh yang saya tahu, kondisinya masih sama seperti sebelumnya."

Pada Rabu (14/10), Musk menyatakan bahwa dirinya tidak berwenang menentukan bagaimana Starshield digunakan.

"Sistem Starshield dimiliki dan dikendalikan oleh pemerintah AS. Segala pembatasan kecepatan maupun penggunaan ditentukan oleh militer AS dan pada akhirnya oleh Presiden Amerika Serikat," tulis Musk di platform X.

Starshield disebut memiliki peran penting dalam mendukung operasi militer Ukraina karena teknologi tersebut memungkinkan personel militer berkomunikasi dan melancarkan serangan, termasuk menjaga koneksi dengan drone yang beroperasi dalam jarak jauh. Namun, pemerintah AS membantah bahwa Ukraina saat ini memiliki akses ke sistem tersebut.

Pada Sabtu, Zelenskyy mengatakan Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap sektor energi Ukraina. Serangan tersebut menyasar lebih dari 15 fasilitas penting pembangkit dan penyaluran listrik yang tersebar di berbagai wilayah negara itu.

Sehari sebelumnya, Zelenskyy mengatakan pembatasan Starshield membuat masyarakat Ukraina semakin rentan terhadap serangan drone Rusia. Ia menyebut situasi tersebut "sangat menyakitkan dan membuat frustrasi".

Sejumlah pejabat dan tentara Ukraina mengatakan kepada CBS News bahwa militer negara itu mulai mengalami gangguan mendadak pada perangkat Starshield sejak Selasa malam.

Gangguan tersebut mencakup pembatasan kecepatan yang menyulitkan pelaksanaan misi menggunakan drone berkecepatan tinggi.

Sejumlah sumber di Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan bahwa SpaceX memberlakukan pembatasan Starshield secara sepihak.

 

Ketegangan Trump dan Zelenskyy

Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Kepresidenan Ukraina, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (kanan) dan mantan Presiden AS Donald Trump tampak berbincang di sela menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (26/4/2025). (Dok. Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP) 

Di tengah persoalan tersebut, hubungan Trump dan Zelenskyy juga semakin memanas dalam beberapa hari terakhir. Trump berulang kali mengungkapkan kekesalannya terhadap Zelenskyy dan menyalahkan perang Rusia-Ukraina atas tingginya harga energi dunia.

Pekan lalu, pemerintahan Trump memberikan pengecualian terhadap pembatasan pembelian solar dari Rusia untuk meredakan tekanan harga energi.

Zelenskyy menilai kebijakan itu justru berpotensi membuat Presiden Rusia Vladimir Putin semakin berani.

Melalui unggahan media sosial pada Sabtu, Zelenskyy menyebut langkah tersebut sebagai sesuatu yang "disayangkan". Ia juga menyinggung sebuah undang-undang yang didorong oleh mendiang Senator Lindsey Graham, yang menurutnya "bisa sangat membantu".

Ketika berbicara kepada wartawan, Zelenskyy mengaku yakin pemerintahan Trump akan kembali melonggarkan sanksi terhadap Rusia.

"Sayangnya, pencabutan sanksi akan terus berlanjut. Saya yakin 'kesepakatan solar' ini hanyalah langkah pertama," kata Zelenskyy.

Menanggapi pertanyaan CBS News mengenai pencabutan sanksi itu, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers pada Sabtu menegaskan bahwa Trump ingin mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

"Presiden Trump telah menegaskan bahwa ia ingin perang brutal ini segera berakhir. Di tengah perundingan yang masih berlangsung, aturan ini memberikan kewenangan tambahan kepada Presiden untuk mengupayakan penyelesaian damai," ujar Rogers.

Menurut Rogers, penerapan ketentuan sanksi saat ini justru akan menghambat upaya AS mencapai kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia yang menyeluruh serta dapat bertahan lama.

"Presiden tetap memiliki kewenangan untuk menerapkan ketentuan tersebut kapan saja apabila dinilai dapat mendukung kepentingan nasional," lanjutnya.

Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa Ukraina dan Rusia telah sepakat menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing. Ia menyebut kesepakatan yang diumumkan pada akhir pekan itu sebagai "gencatan senjata energi".

Zelenskyy awalnya menyatakan Ukraina bersedia mematuhi kesepakatan tersebut. Namun, menurutnya, Rusia tidak pernah benar-benar menghentikan serangannya.

Beberapa hari kemudian, Zelenskyy mengatakan kepada Financial Times bahwa Ukraina tidak akan lagi menahan diri untuk menyerang kilang minyak Rusia selama Moskow terus menggempur infrastruktur energi negaranya.

Sementara itu, pemerintah Rusia tidak pernah mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyetujui gencatan senjata tersebut.

Ketegangan antara Trump dan Zelenskyy juga terlihat dalam wawancara Trump dengan Newsmax pada Kamis malam.

Dalam wawancara itu, Trump menyebut Zelenskyy sebagai sosok yang "bukan orang yang baik untuk diajak berurusan" oleh AS.

Trump juga menilai serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia sebagai tindakan yang "memalukan". Ia mendesak kedua negara segera mencapai kesepakatan damai dan mengaku lebih sulit berurusan dengan Zelenskyy dibandingkan dengan Putin.

"Saya tidak terlalu menyukai Zelenskyy," kata Trump.

Sementara itu, pada Rabu, Elon Musk juga melontarkan kritik terhadap Presiden Ukraina tersebut melalui unggahan di X.

"Sudah waktunya Zelenskyy lengser," tulis Elon Musk.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya