Liputan6.com, Jakarta - Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, sehingga menghadapi beragam risiko bencana alam, mulai dari gempa bumi hingga erupsi gunung berapi. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi bencana, tetapi juga dapat menjalar ke sektor transportasi dan pariwisata.
Salah satu contohnya adalah sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan. Demi menjaga keselamatan, maskapai dan pengelola bandara dapat menyesuaikan jadwal, menunda, atau membatalkan penerbangan.
Advertisement
Kondisi ini bisa membuat penumpang menghadapi perubahan rencana hingga biaya tambahan yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) mencatat, hampir separuh pengajuan klaim asuransi perjalanan (travel insurance) yang diterima sepanjang September 2026 berasal dari nasabah yang terdampak gangguan perjalanan akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pengajuan tersebut mencakup pembatalan perjalanan (trip cancellation), keterlambatan perjalanan (travel delay), serta perubahan jadwal penerbangan.
Marketing Director GEGI, Linggawati Tok, mengatakan perlindungan perjalanan dapat membantu konsumen menghadapi risiko yang tidak terduga.
“Travel insurance dirancang untuk membantu konsumen menghadapi berbagai risiko perjalanan yang tidak terduga jadi mempunyai Travel Insurance bukan lagi sekadar pelengkap perjalanan, melainkan bagian penting dari manajemen risiko bagi setiap pelaku perjalanan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2026).
Meski demikian, manfaat perlindungan bergantung pada ketentuan polis yang dimiliki masing-masing nasabah.
Apa Saja Risiko Perjalanan yang Bisa Ditanggung?
Gangguan perjalanan akibat bencana alam dapat menimbulkan kerugian finansial, terutama ketika tiket pesawat, hotel, atau paket wisata sudah dibayar sebelum keberangkatan. Dalam kondisi tertentu, asuransi perjalanan dapat memberikan penggantian atas biaya yang tidak dapat dikembalikan akibat pembatalan perjalanan yang dijamin dalam polis.
Risiko lain muncul ketika abu vulkanik, kabut asap, atau cuaca buruk menyebabkan penerbangan tertunda maupun koneksi penerbangan terputus. Bergantung pada manfaat yang dipilih, perlindungan dapat mencakup kerugian akibat keterlambatan transportasi, penutupan bandara atau pelabuhan, hingga biaya akomodasi dan pengalihan rute.
Gangguan alam juga berpotensi memengaruhi kesehatan wisatawan. Paparan abu vulkanik atau kabut asap, misalnya, dapat memicu iritasi mata dan gangguan pernapasan. Sejumlah polis asuransi perjalanan menyediakan manfaat biaya pengobatan akibat sakit atau cedera selama perjalanan, sesuai syarat dan batas pertanggungan.
Namun, tidak semua pembatalan, keterlambatan, atau biaya tambahan otomatis mendapatkan penggantian. Wisatawan perlu memeriksa penyebab kejadian yang ditanggung, pengecualian, batas manfaat, serta prosedur klaim sebelum membeli polis.
Perlindungan perjalanan juga tidak hanya relevan untuk perjalanan ke luar negeri. Risiko serupa dapat terjadi ketika seseorang bepergian untuk berlibur, bekerja, belajar, atau mengunjungi keluarga di dalam negeri.
Langkah Mengantisipasi Gangguan Perjalanan
Bencana alam dan perubahan cuaca ekstrem sulit diprediksi secara pasti. Karena itu, wisatawan perlu menyiapkan langkah antisipasi sebelum berangkat, terutama jika perjalanan melibatkan penerbangan atau jadwal yang saling terhubung.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak gangguan perjalanan:
- Memantau informasi cuaca dan aktivitas gunung berapi melalui sumber resmi.
- Memeriksa jadwal penerbangan serta kondisi destinasi menjelang keberangkatan.
- Menyimpan tiket, boarding pass, bukti pembayaran, dan dokumen perjalanan lainnya.
- Memahami prosedur bantuan darurat dari maskapai maupun penyedia transportasi.
- Mempelajari manfaat, pengecualian, dan prosedur klaim asuransi perjalanan jika memilih menggunakan perlindungan tersebut.
Apabila perjalanan dibatalkan atau mengalami keterlambatan, penumpang sebaiknya menyimpan pemberitahuan resmi dari maskapai atau penyedia transportasi sebagai bukti. Dokumen tersebut dapat diperlukan ketika mengajukan klaim.
Pengajuan klaim juga perlu disampaikan kepada perusahaan asuransi sesuai batas waktu dan ketentuan polis. Lengkapi dokumen pendukung yang diminta agar proses verifikasi dapat berjalan lebih lancar.
Pada akhirnya, persiapan perjalanan bukan hanya soal menentukan tujuan dan menyusun jadwal. Memahami risiko, menyiapkan dokumen, serta mengetahui pilihan bantuan ketika terjadi gangguan dapat membantu wisatawan mengambil keputusan dengan lebih baik.
Asuransi perjalanan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengelola risiko finansial, tetapi wisatawan tetap perlu memahami cakupan perlindungannya dan tidak menganggap seluruh kerugian pasti diganti.