Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan saham di pasar modal bak roller coaster. Harga saham bisa cepat naik, dan juga bisa tiba-tiba anjlok. Ibarat kata pengingat harus kuat jantung ketika investasi di saham. Menjelang akhir pekan ini, pasar saham Indonesia tiba-tiba kebakaran usai pengumuman penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI mengumumkan mulai konsultasi potensi mengubah status pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri).
Dalam laporan MSCI menyebutkan, pelaku pasar telah menyampaikan kekhawatiran yang signifikan terkait kemampuan untuk berinvestasi (investability) di pasar saham Indonesia.Kekhawatiran itu mencakup kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham serta ada dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.
Advertisement
MSCI menerima masukan dari pelaku pasar terkait usulan reklasifikasi untuk indeks MSCI Indonesia hingga 30 April 2027, dan akan mengumumkan keputusan paling lambat pada 30 Juni 2027.
Seiring pengumuman itu membuat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,57% menjadi 5.185,10 pada Jumat, 16 Oktober 2026. Koreksi IHSG itu membawa kinerja IHSG secara year to date (Januari-16 Oktober 2026) turun 40,04%. Dalam satu hari, kinerja IHSG ini penurunan terbesar sejak 1998. Pada 8 Januari 1998, IHSG anjlok 11,95%.
Di tengah anjlok IHSG dan MSCI berpeluang mengubah status pasar saham Indonesia, bagaimana pandangan investor saham?
Bagi investor saham Rico Bayu Wiranata (36), gejolak di pasar saham tidak menyurutkan berinvestasi di saham. Ia tetap minat investasi di pasar saham Indonesia meski dibayangi sentimen MSCI. Bagi lulusan mahasiswa ITS ini, keputusan investasi bukan hanya berdasarkan sentimen pasar.
“Bagi saya keputusan investasi tidak semata-mata didasarkan pada sentimen pasar atau perkembangan indeks, tetapi juga pada fundamental perusahaan yang saya analis,” kata Rico saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Sabtu (17/10/2026).
Membagi Saham untuk Jangka Panjang dan Trading
Rico yakin terhadap saham yang dipantaunya. Mayoritas saham yang ia memiliki termasuk kapitalisasi pasar besar. “Mayoritas saham big caps yang masuk dalam daftar pantauan saya masih memiliki fundamental yang baik, sehingga saya tetap percaya pada hasil analisis dan penilaian saya terhadap emiten-emiten itu,” tutur Rico.
Setelah keluar dari pekerjaannya di perusahaan tambang pada Desember 2025, Rico menjalankan bisnis dan juga investasi saham.
Pria yang mulai investasi saham sejak 2015 ini memiliki portofolio investasi saham 80% untuk jangka panjang sedangkan sisanya untuk transaksi harian. Rico menyiapkan investasi saham ini untuk dana pensiun. Ia bersama sang istri memiliki saham di sektor keuangan, bank dan batu bara.
"20% nya lagi untuk trading jangka pendek. Jujur saat ini saya memiliki beberapa usaha yang sudah berbadan PT (bidang transportasi/logistik, ritel, dan pendidikan/course), dan hasil dari usaha, sebagian saya putar ke usaha, sebagian lagi ke saham,” kata dia.
Rico menilai, investasi di saham ini memiliki manfaat karena hemat tenaga, fisik dan waktu. Sedangkan saham dalam waktu jangka panjang untuk dividen dan biaya hidup masa tua. Hal itu agar tidak mengganggu kehidupan anak dan tanpa harus bekerja.
Terkait sentimen MSCI yang menekan IHSG karena potensi perubahan status pasar saham Indonesia, Rico optimistis reklasifikasi pasar saham Indonesia tidak akan terjadi. Ia menilai, pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) akan berusaha. Ia melihat kondisi ini masih berpotensi diperbaiki dan berkembang ke arah lebih yang lebih baik."
Pengumuman MSCI tersebut masih berupa potensi, sehingga saya melihat masih ada ruang bagi otoritas terkait, seperti BEI dan OJK, untuk memberikan klarifikasi, melakukan evaluasi, serta mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan,” kata dia.
Ingatkan untuk Hati-Hati Ketika Serok Saham
Rico yakin perkembangan saat ini dapat menjadi momentum bagi regulator dan otoritas pasar modal untuk memperkuat transparansi, meningkatkan tata kelola, serta menegaskan komitmen terhadap integritas pasar. Rico akan tetap mencermati respons dan kebijakan yang diambil ke depan, sambil terus mengevaluasi setiap keputusan investasi berdasarkan fundamental, valuasi, dan risiko.
“Bagi saya, yang terpenting bukan sekadar bagaimana pasar bereaksi hari ini, melainkan bagaimana kualitas dan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia dapat terus diperbaiki dalam jangka panjang,” tutur Rico.
Ia juga akan melihat dan mem-follow dulu apa respons tindakan, dan klarifikasi dari pihak yang berkewajiban seperti BEI maupun OJK. Rico menuturkan, dalam kondisi IHSG yang masih bergejolak, investor harus mampu mengendalikan emosi dan tidak greedy dalam mengambil keputusan investasi.
"Kita juga perlu berhati-hati terhadap ajakan untuk langsung “serok bawah” di tengah kepanikan pasar, karena penurunan harga saham tidak selalu berarti saham tersebut sudah murah atau berada di titik terendah,” ujar dia.
Selain itu, ia juga menilai tidak perlu takut secara berlebihan hingga mengambil keputusan hanya karena panik.
“Menurut saya, pendekatan yang lebih bijak saat ini adalah wait and see,” sambil mencermati perkembangan pasar, respons otoritas terkait, serta pergerakan harga dan fundamental emiten yang kita incar. Saya pribadi lebih memilih menunggu sampai kondisi pasar mulai kondusif dan terlihat tren kenaikan yang lebih terkonfirmasi sebelum kembali menambah posisi investasi,” kata dia.
Rico menuturkan, saat investasi menjaga modal dan disiplin terhadap analisis jauh lebih penting daripada terburu-buru mengejar peluang.
“Kita tidak harus selalu masuk ke pasar di setiap momentum. Tang terpenting adalah mengambil keputusan dengan perhitungan yang matang, bukan karena keserakahan maupun ketakutan,” tutur dia.