Bukan Bobol Sistem Bank, CIMB Niaga Ungkap Modus Peretasan Rekening

CIMB Niaga menegaskan kasus kejahatan siber belakangan ini terjadi akibat pencurian kredensial lewat social engineering.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 17 Oktober 2026, 14:10 WIB
(Ki-Ke) Amir Mirza, Joni Hermanto, dan Amir Widjaya dalam acara CIMB Niaga Business Summit 2026: Vision Made Possibe di Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Keamanan transaksi digital menjadi perhatian utama dunia perbankan, terutama dalam melindungi data akses nasabah. Selama ini sebagian besar pembobolan rekening nasabah terjadi bukan karena kerentanan sistem.   

Head of Bank Transaction Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk, Joni Hermanto, menegaskan bahwa sebagian besar insiden pembobolan yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh kegagalan sistem internal bank, melainkan peretasan pada akun nasabah.

"Yang terjadi di market akhir-akhir ini, kebanyakan yang dijebol itu pihak lain. Jadi bukan sistemnya yang dibobol," ujar Joni dikutip Sabtu (17/10/2026).

Hal senada disampaikan Executive Vice President (EVP) – Head of Transaction Banking Product CIMB Niaga, Amir Mirza. Ia menyoroti pencurian kredensial melalui modus social engineering dalam insiden kejahatan siber belakangan ini.

"Itu bukan sistemnya yang dibobol, melainkan kredensialnya yang dicuri melalui social engineering," tegas Amir dalam kesempatan yang sama.

Untuk menjaga keamanan transaksi nasabah, CIMB Niaga menerapkan tiga lapis pengamanan pada layanan transaksi digital OCTOBIZ. Pengamanan tersebut meliputi perlindungan di dalam platform, pemantauan oleh tim keamanan siber, serta pemeriksaan pola transaksi nasabah.

 

Pengamanan di Dalam Platform

(Foto: CIMB Niaga)

Lapisan pertama berada di dalam platform transaksi OCTOBIZ. Menurut Joni, sistem tersebut dilengkapi parameter keamanan untuk melindungi transaksi nasabah, termasuk pengamanan 128 bit.

“Di dalam platform transaksi, ini adalah sistem statis yang kita sudah jagain dengan parameter tertentu. Transaksi di sini itu dijaga 128 bit, security sudah kita secure,” kata Joni.

Lapisan kedua dilakukan oleh tim cyber security yang bertugas memantau potensi serangan terhadap sistem CIMB Niaga selama 24 jam. Pemantauan ini mencakup pengawasan terhadap situs dan alamat email palsu yang menyerupai layanan resmi bank.

Jika menemukan situs atau alamat email yang menyerupai OCTOBIZ maupun layanan CIMB Niaga, tim akan segera meminta pihak terkait untuk menurunkannya.

“Tim cyber security kita itu tiap hari patroli. Ada enggak sih muncul-muncul alamat email atau alamat situs-situs yang mirip-mirip dengan OCTOBIZ atau aplikasi platformnya CIMB Niaga, itu mereka yang akan minta take down. Jadi patroli 24 jam,” ujar Joni.

 

Pemantauan Pola Transaksi Nasabah

Lapisan ketiga dilakukan melalui Fraud Detection Team yang memantau pola transaksi nasabah selama 24 jam. Pemantauan ini bertujuan mendeteksi transaksi yang menyimpang dari kebiasaan nasabah.

Joni mencontohkan, perusahaan yang biasanya melakukan sekitar 1.000 transaksi per hari dapat diberikan batas toleransi hingga 1.200 transaksi. Jika jumlah transaksi melampaui parameter yang ditetapkan, sistem akan memberikan peringatan dan transaksi dapat dikunci sementara untuk dikonfirmasi kepada nasabah.

“Di atas itu ini akan alert, kita kunci. Nah, kita akan inform balik dulu ke customer, ‘Pak, Bu, benar enggak transaksi Ibu atau Bapak hari ini memang mendadak mengalami peningkatan?’ Kalau benar dan mereka konfirmasi, kita buka,” jelas Joni.

Menurut Joni, transaksi yang berasal dari akun nasabah tetap perlu dipantau karena peretasan bisa terjadi pada sistem milik nasabah sendiri.

“Yang kebanyakan sekarang terjadi adalah situsnya nasabah yang di-hack, dan di mana mereka melakukan transaksi di kita. Di kita, karena ini bacanya adalah genuine dari nasabah, itu lewat. Lewat di platform, tapi dicegat di e-fraud karena parameternya sudah tidak sesuai dengan pattern-nya nasabah,” lanjutnya.

 

Imbauan untuk Nasabah

Selain pengamanan internal, Joni mengimbau nasabah agar tetap waspada saat mengakses layanan perbankan digital. Ia menyarankan nasabah menyimpan alamat resmi layanan perbankan melalui fitur bookmark agar tidak perlu mencarinya melalui mesin pencari.

“Misalnya kayak untuk login ke OCTOBIZ, jangan menggunakan Google Search. Coba di-bookmark,” imbau Joni.

Di sisi lain, CIMB Niaga juga rutin melakukan pengujian keamanan sistem dengan melibatkan pihak ketiga. Amir menjelaskan, pengujian berupa penetration test tersebut dilakukan untuk menguji ketahanan sistem terhadap upaya peretasan sesuai regulasi Bank Indonesia.

“Semua bank itu diwajibkan melakukan namanya penetration test secara berkala, di mana bank harus hire pihak ketiga, ini secara sistemnya, untuk cobalah bobol, cobalah hack,” tutup Amir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya