Liputan6.com, Jakarta - Tiga bank terbesar di Jepang dilaporkan telah menyelesaikan uji coba bersama penerbitan stablecoin berbasis yen dan penyelesaian pembayaran lintas negara. Langkah ini menjadi bagian dari upaya lembaga keuangan Jepang mengembangkan infrastruktur mata uang digital berbasis blockchain.
Mengutip CoinMarketCap, Sabtu (17/10/2026), uji coba tersebut menggabungkan dua fungsi, yakni penerbitan stablecoin yang nilainya mengacu pada yen dan penggunaannya untuk menyelesaikan transaksi internasional.
Advertisement
Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk menjaga nilai relatif stabil dengan mengacu pada aset tertentu, seperti mata uang fiat. Dalam proyek ini, stablecoin berbasis yen berpotensi digunakan untuk transaksi lintas negara tanpa perlu melalui konversi mata uang pada setiap transaksi.
Mekanisme tersebut dapat membantu mengurangi biaya valuta asing dan mempercepat penyelesaian pembayaran internasional.
Sebelumnya, uji coba antara SBI dan Kyobo Life juga mengeksplorasi penyelesaian transaksi yen-won menggunakan token uji coba. Hal ini menunjukkan adanya perhatian dari lembaga keuangan terhadap penggunaan aset digital untuk transaksi lintas negara di kawasan Asia.
Uji Coba Belum Berarti Peluncuran Komersial
Meski uji coba dilaporkan telah rampung, belum ada kepastian mengenai jadwal peluncuran komersial, perluasan koridor transaksi, maupun persetujuan regulator untuk penggunaan publik.
Penyelesaian uji coba dalam lingkungan terbatas tidak otomatis berarti layanan dapat langsung beroperasi secara komersial. Penerbitan stablecoin di Jepang tetap harus memperhatikan ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan Jepang juga telah mengkaji sejumlah model struktural untuk obligasi pemerintah yang ditokenisasi. Kajian tersebut merupakan bagian dari perkembangan tokenisasi aset di Jepang, meski berbeda dari proyek stablecoin perbankan ini.
Namun, informasi yang tersedia belum mengungkap nama ketiga bank yang terlibat, jaringan blockchain yang digunakan, volume transaksi selama pengujian, maupun kecepatan penyelesaiannya.
Belum ada pula keterangan terperinci dari Badan Jasa Keuangan Jepang mengenai tahapan berikutnya.
Koordinasi Tiga Bank Jadi Sorotan
Uji coba bersama tiga bank besar memiliki tantangan tersendiri karena setiap institusi perlu menyelaraskan teknologi, kepatuhan, dan tata kelola. Kerja sama semacam ini juga membutuhkan kesepakatan mengenai interoperabilitas sistem dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Pembayaran lintas negara menjadi salah satu penggunaan stablecoin yang dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi. Teknologi ini dapat mengurangi jumlah perantara dalam transaksi dan memangkas waktu penyelesaian yang pada sistem perbankan koresponden bisa berlangsung beberapa hari.
Meski demikian, belum diketahui apakah uji coba tersebut mencakup transaksi Jepang dengan Asia Tenggara, Korea Selatan, atau koridor lainnya.
Regulasi juga menjadi faktor penting sebelum stablecoin yen digunakan secara luas. Jepang memiliki kerangka hukum tersendiri untuk penerbitan dan pengelolaan stablecoin, sehingga hasil uji coba perlu diikuti dengan kejelasan perizinan dan mekanisme pengawasan.
Untuk saat ini, rampungnya uji coba menjadi perkembangan awal. Informasi lebih lanjut mengenai bank peserta, teknologi, dan rencana operasional masih diperlukan untuk menilai potensi penerapannya secara komersial.