Vietnam Tambah 10 Minimarket Baru Setiap Hari, Geser Pasar Toko Kelontong

Jumlah minimarket di Vietnam diproyeksikan melonjak hingga 30.000 gerai pada 2030, terdorong oleh pergeseran gaya hidup praktis warga.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 16 Oktober 2026, 20:00 WIB
Ilustrasi Minimarket. Foto: Gemini

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah minimarket di Vietnam diperkirakan melonjak hingga 30.000 gerai pada 2030 atau naik tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini yang berkisar di angka 10.000 toko. Pertumbuhan pesat ini terdorong oleh meningkatnya kebutuhan konsumen akan tempat berbelanja yang praktis, dekat dengan hunian, serta selaras dengan pergeseran gaya hidup masyarakat perkotaan.

Ketua Tim Ahli Pasar di Business Studies and Assistance Center (BSA), Chinh Lê, menyampaikan proyeksi tersebut dalam diskusi perayaan 30 tahun program Vietnam High-Quality Goods.

"Laju pembukaan minimarket baru yang sebelumnya rata-rata lima gerai per hari, kini melonjak hingga 10 toko per hari," ujar Chinh Lê seperti dikutip dari VnExpress, Jumat (16/10/2026). Ia memproyeksikan laju pertumbuhan kanal ritel ini akan bertahan stabil di atas 20 persen per tahun.

Minimarket pertama di Vietnam sejatinya telah hadir di Ho Chi Minh City sejak awal 1990-an. Kini, format ritel tersebut kian berjamur lantaran konsumen lebih menyukai belanja kebutuhan harian secara ringkas tanpa harus melakukan pembelian besar secara sekaligus. Banyak warga perkotaan memanfaatkan waktu pulang kerja pada pukul 17.00 hingga 21.00 waktu setempat untuk berbelanja harian.

Perubahan perilaku ini juga dipicu oleh keinginan rumah tangga untuk menekan pemborosan bahan makanan segar hingga 20 persen di lemari pendingin. Alhasil, kebiasaan menumpuk pasokan makanan dan berbelanja berkala di supermarket berukuran besar mulai ditinggalkan.

Hasil survei daring Q&Me di Ho Chi Minh City dan Hanoi mencatat sebanyak 81 persen responden memilih minimarket dan toko serba ada lantaran lokasinya yang dekat dari tempat tinggal maupun kantor. Sementara itu, 28 persen responden mengemukakan fleksibilitas jam operasional sebagai alasan utama.

 

Ekspansi Masif Merambah Wilayah Pedesaan

Ilustrasi minimarket (created by AI)

Guna menjaga ritme pertumbuhan, jaringan minimarket mulai gencar merambah area pinggiran kota dan pedesaan. Sekitar 70 persen gerai baru tercatat beroperasi di tingkat komune atau wilayah administratif lokal, yang menandaskan terjadinya ekspansi masif di luar pusat kota.

Peta persaingan ritel juga makin memanas menyusul masuknya pemain asing, salah satunya jaringan Ohmee asal China. Kendati demikian, BSA memperkirakan merek lokal seperti WinMart+, Bách Hóa Xanh, Co.op Food, dan Satrafoods masih akan menguasai pangsa pasar utama.

Ekspansi ritel modern ini diperkirakan mendongkrak pangsa pasar ritel modern di Vietnam dari 16 persen menjadi 20 persen pada 2030. Sebaliknya, porsi ritel tradisional diproyeksikan menyusut dari 68 persen pada 2026 menjadi 60 persen pada 2030.

Kendati terdesak, toko kelontong tradisional memiliki peluang bertahan melalui adopsi teknologi. Direktur Strategi Bisnis Senior TT Group, Đinh Công Trí, mengungkapkan generasi penerus pemilik toko tradisional mulai mengoperasikan perangkat lunak manajemen stok, memanfaatkan media sosial dan aplikasi pemesanan seperti Zalo dan Facebook, hingga menggelar live streaming penjualan.

Transformasi ini mendorong toko tradisional bertransisi ke model bisnis hybrid yang memadukan layanan luar jaringan (offline) dan dalam jaringan (online). Perkembangan pesat minimarket pun tidak serta-merta mematikan toko kelontong, melainkan memicu peta persaingan baru yang mendorong efisiensi layanan bagi konsumen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya