Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan (AI) Google Gemini memprediksi harga Bitcoin berpotensi mencapai US$ 175.000 pada 1 Januari 2027. Skenario ini bergantung pada kebijakan strategis Amerika Serikat (AS) dan peningkatan pembelian Bitcoin oleh investor institusi serta sejumlah dana investasi besar.
Dikutip dari CoinMarketCap, Jumat (16/10/2026), dalam simulasi tersebut, AS mengumumkan strategi keuangan bernilai triliunan dolar yang mempercepat akumulasi Bitcoin. Sejumlah dana kekayaan negara dan dana pensiun besar juga mulai mengalokasikan investasi dalam jumlah signifikan ke aset kripto tersebut.
Advertisement
Kombinasi kebijakan dan pembelian institusi itu diperkirakan memicu reli harga Bitcoin, diperkuat oleh fenomena short squeeze, yakni kondisi ketika trader yang bertaruh harga turun terpaksa menutup posisinya saat harga justru naik.
Skenario tersebut dinilai ekstrem, tetapi memiliki sejumlah landasan, termasuk pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis AS dan meningkatnya akses investasi Bitcoin melalui produk spot exchange-traded fund (ETF).
Dalam 11 pekan berikutnya, pemerintah AS berpotensi memperluas cadangan Bitcoin melalui program pembelian multiyear yang didukung kesepakatan bipartisan. Sementara itu, dana investasi internasional dapat mulai memperlakukan Bitcoin sebagai aset cadangan strategis.
Pembelian Institusi Jadi Kunci Kenaikan Bitcoin
Kejelasan regulasi juga berpotensi membuka akses yang lebih luas bagi dana pensiun untuk berinvestasi melalui ETF Bitcoin. Jika harga Bitcoin menembus US$ 100.000, tekanan terhadap trader yang memasang posisi bearish dapat memicu short squeeze dan mempercepat kenaikan harga.
Namun, skenario tersebut membutuhkan komitmen pembelian baru dalam jumlah besar dari pemerintah dan institusi. Dengan pasokan Bitcoin yang dibatasi maksimal 21 juta koin, lonjakan permintaan berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama ketika likuiditas penjualan terbatas.
Meski demikian, pengumuman kepemilikan cadangan tidak menjamin pembelian benar-benar terjadi. Begitu pula, tersedianya ETF tidak otomatis mendatangkan arus dana masuk. Karena itu, skenario kenaikan tersebut membutuhkan pembelian nyata dan berkelanjutan.
Dari sisi teknikal, Bitcoin masih menghadapi tekanan. Pada 15 Oktober, harga BTC berada di kisaran US$ 80.743 setelah sempat turun ke sekitar US$ 80.247. Inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan juga memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Untuk memulai pemulihan, Bitcoin perlu bertahan di area dukungan US$ 80.000–US$ 81.500, menembus resistensi US$ 84.000–US$ 85.000, lalu melewati kisaran US$ 87.000–US$ 88.000.
Menuju US$ 175.000, Bitcoin Masih Hadapi Risiko
Jika mampu menembus level-level tersebut dengan dukungan volume perdagangan dan arus dana institusi yang kuat, Bitcoin berpeluang menguji level psikologis US$ 100.000. Setelah itu, pasar perlu memasuki fase penemuan harga baru untuk membuka peluang kenaikan menuju US$ 125.000, US$ 150.000, hingga US$ 175.000.
Namun, level-level tersebut merupakan tahapan bersyarat, bukan sinyal bahwa reli besar sudah dimulai. Indikator teknikal terbaru masih menunjukkan momentum bearish dalam jangka pendek sehingga pemulihan yang berkelanjutan diperlukan.
Koreksi Bitcoin juga menunjukkan bahwa guncangan ekonomi dapat mengalahkan prospek positif jangka panjang. Jika level dukungan gagal dipertahankan, trader mungkin mencari peluang lain dengan risiko lebih tinggi.
Salah satu proyek yang disorot sumber adalah Bitcoin Hyper (HYPER), solusi Layer 2 Bitcoin yang menggabungkan Solana Virtual Machine (SVM) dengan jembatan terdesentralisasi untuk transfer BTC. Proyek ini menawarkan transaksi lebih cepat, biaya lebih rendah, dan dukungan kontrak pintar dalam ekosistem Bitcoin.
Sumber menyebut harga tokennya US$ 0,0136875, dana yang terkumpul lebih dari US$ 33,1 juta, serta imbal hasil staking 60 persen APY bagi pembeli awal. Periode presale disebut tersisa kurang dari 40 hari. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen dan bukan jaminan keuntungan investasi.