Liputan6.com, Jakarta - Upaya Gedung Putih untuk merundingkan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina gagal. Moskow melancarkan serangan drone dalam jumlah rekor pada malam hari dengan menyasar infrastruktur di Ukraina tengah, sementara Kyiv tampaknya kembali menyerang kilang minyak Rusia meski telah mendapat peringatan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Moskow menuduh Ukraina melancarkan serangan terhadap sebuah kilang minyak di wilayah Ryazan, Rusia. Serangan tersebut menjadi yang pertama sejak Trump secara tiba-tiba mengumumkan “gencatan senjata energi”, meskipun Rusia maupun Ukraina menyatakan tidak pernah menyepakati kesepakatan tersebut.
Advertisement
Trump mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Ia mengeklaim serangan tersebut menjadi penyebab kenaikan harga bahan bakar diesel secara global.
Di tengah meningkatnya serangan, dua kapal sipil yang tidak terlibat dalam konflik turut menjadi sasaran di perairan teritorial Rumania, dekat muara Sungai Donau. Insiden ini mengindikasikan bahwa serangan terhadap sasaran komersial yang rentan berpotensi meluas.
Presiden Rumania Nicușor Dan mengatakan dua drone Rusia melanggar wilayah udara negaranya dan menghantam dua kapal tanker kimia hingga terbakar. Tim penyelamat mencari sedikitnya tujuh awak kapal yang dilaporkan hilang.
“Situasi di Laut Hitam serius,” kata Dan.
“Kapal-kapal komersial diserang dan ditenggelamkan. Pelaut tewas, terluka, dan hilang, sangat dekat dengan pantai Rumania dan Bulgaria. Ini tidak dapat diterima dan harus dihentikan.”
Ukraina Kembali Serang Kilang Minyak Rusia
Zelenskyy pada Rabu mengatakan Ukraina akan kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia setelah sempat menghentikannya untuk menunjukkan kesiapan Kyiv mengikuti perundingan damai.
“Pembatasan terhadap serangan ke kilang minyak sudah dicabut. Kami sudah selesai,” kata Zelenskyy kepada Financial Times.
Ia juga mengkritik kesenjangan dalam pertukaran informasi intelijen dengan AS dan menyebutnya sebagai situasi yang berbahaya.
Gambar-gambar dari Ryazan memperlihatkan kobaran api di sebuah kilang minyak. Pejabat setempat mengatakan fasilitas tersebut menjadi sasaran 69 drone dan empat rudal jelajah Flamingo.
Namun, Moskow mengklaim kebakaran terjadi setelah puing-puing drone yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara menghantam kilang tersebut.
Selain menyerang fasilitas energi, Ukraina juga mengklaim telah menyerang kekuatan militer Rusia. Zelenskyy mengatakan empat pesawat tempur sekaligus pengebom Sukhoi Su-34 berhasil dihantam, sementara dua pesawat lainnya mengalami kerusakan.
Militer Ukraina menyatakan serangan tersebut menggunakan rudal jelajah Neptune yang diarahkan ke sebuah pangkalan udara di wilayah Voronezh, Rusia selatan.
“Pesawat-pesawat tempur ini siap melancarkan serangan baru ke Ukraina dan telah dilengkapi bom udara,” kata Zelenskyy sembari mengunggah foto satelit yang memperlihatkan kerusakan di pangkalan udara tersebut.
Rusia Kerahkan Ratusan Drone ke Ukraina
Di wilayah Ukraina, lebih dari 360 drone Rusia menyasar Kirovohrad, sebuah wilayah di Ukraina tengah yang selama ini tidak mengalami serangan separah daerah-daerah lain yang lebih dekat dengan Rusia.
Serangan tersebut menewaskan tiga orang dan melukai enam lainnya.
“Musuh sengaja menyerang infrastruktur penting, perusahaan transportasi, fasilitas logistik, dan rumah-rumah penduduk,” kata Gubernur Kirovohrad Andriy Raikovych dalam sebuah pernyataan.
Zelenskyy mengatakan Rusia telah menyerang Ukraina menggunakan lebih dari 850 drone Shahed ketika kemampuan pertahanan Ukraina disebutnya sedang dibatasi secara artifisial.
Pernyataan itu merujuk pada pembatasan mendadak terhadap penggunaan terminal internet satelit bergerak Starlink dan Starshield oleh Ukraina.
Dalam unggahan di media sosial X, Zelenskyy menuduh Rusia sengaja meningkatkan serangan setelah memperoleh keringanan sanksi dan melihat upaya untuk menekan Ukraina.
“Jelas bahwa Rusia sengaja memilih untuk meningkatkan serangannya setelah memperoleh keringanan sanksi dan melihat upaya untuk menekan Ukraina,” tulis Zelenskyy.
“Ukraina membutuhkan dukungan yang konsisten, terutama untuk mempertahankan wilayah udara kami. Kami membutuhkan KEJUJURAN dari para mitra mengenai perang ini. Penting bagi semua orang di Amerika untuk tidak berpihak kepada agresor, melainkan mendukung upaya kami melindungi nyawa, mengakhiri perang ini, dan menjamin keamanan.”
Inggris Sebut Akses Starlink Ukraina Telah Dipulihkan
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting kemudian mengatakan kepada BBC bahwa ia telah mendapat kepastian langsung dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahwa akses ke sistem komunikasi penting Starlink telah dipulihkan.
Streeting mengatakan Inggris belum mengetahui secara pasti penyebab gangguan tersebut.
“Ini bukan pertama kalinya kita melihat perselisihan antara Washington dan Kyiv,” ujarnya.
Pekan lalu, Trump secara tiba-tiba mengumumkan gencatan senjata energi melalui platform Truth Social. Ia menyatakan kedua negara telah menyepakati penghentian serangan terhadap sektor energi.
“Berlaku segera, ada GENCATAN SENJATA ENERGI dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah sepakat. Jangan melanggarnya!” tulis Trump.
Namun, klaim tersebut tidak menghentikan Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur sipil Ukraina. Rusia menggunakan rudal hipersonik dan balistik untuk menyerang sejumlah pembangkit listrik utama, sehingga beberapa kota, termasuk Kyiv, mengalami pemadaman listrik dan gangguan pasokan air selama berjam-jam.
Ukraina sebelumnya menyatakan akan menahan diri dari serangan terhadap kilang minyak Rusia untuk sementara waktu sebagai bukti kesiapan mengikuti perundingan.
Meski demikian, Gedung Putih terus meningkatkan tekanan terhadap Zelenskyy agar menerima tuntutan Rusia. Washington mengancam akan menghentikan program pengiriman senjata ke Ukraina dan berbagi informasi intelijen medan perang.
AS tampaknya mulai merealisasikan sebagian ancaman tersebut. Ukraina mengatakan tidak menerima peringatan dini dari Washington mengenai serangan rudal Rusia selama beberapa hari pada pekan ini.
Pada Rabu, tentara Ukraina juga mengeluhkan pembatasan akses terhadap program Starshield yang dikendalikan militer AS. Gangguan tersebut disebut menghambat misi drone di garis depan pertempuran.
Pada Kamis, sekelompok senator AS dari kedua partai politik utama mengirim surat kepada Pentagon. Mereka meminta penyelidikan untuk mengetahui apakah layanan satelit dan intelijen sengaja dibatasi serta apakah pemerintahan Trump bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
“Kami sangat khawatir terhadap insiden ketika personel diplomatik, militer, dan keamanan AS tidak dapat mencapai tempat perlindungan yang telah ditentukan selama serangan udara Rusia, di tengah laporan gangguan terhadap pertukaran informasi intelijen dan kemampuan peringatan dini,” tulis para senator tersebut, menurut The New York Times.
Perselisihan Trump dan Zelenskyy Kian Memanas
Perselisihan antara Zelenskyy dan Trump semakin tidak terkendali selama sepekan terakhir.
Trump, yang meyakini dukungan AS kepada Ukraina seharusnya memberinya tingkat kendali tertentu atas kepemimpinan negara tersebut, bahkan mengatakan Ukraina seharusnya “memiliki presiden baru”.
Ketika ditanya Piers Morgan pada Kamis apakah dirinya merasa dikhianati, Zelenskyy menjawab ya.
“Sayang sekali kami kehilangan, kami kehilangan mitra yang kuat,” katanya.
Sementara itu, Elon Musk, pemimpin SpaceX yang memproduksi terminal Starlink yang digunakan militer Ukraina, muncul sebagai salah satu pengkritik utama Zelenskyy di AS.
Pada Kamis, Musk membantah membatasi sistem Starlink dan mengatakan bahwa sistem tersebut berada di bawah kendali pemerintah AS.
Namun, dalam unggahan di media sosial yang menanggapi pernyataan Zelenskyy bahwa Ukraina akan terus berjuang hingga Rusia kalah, Musk menulis:
“Dan dengan demikian pembantaian terus berlanjut ... Sudah waktunya Zelenskyy pergi.”