Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) atau West Texas Intermediate (WTI) naik pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026 (Jumat pagi Jakarta). Hal ini karena pelaku pasar menilai potensi gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Jumat (16/10/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November melonjak sekitar 3% atau US$ 2,88 dan ditutup di US$ 97,97 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Desember justru turun 14 sen ke US$ 105,92 per barel.
Advertisement
Data persediaan ikut menopang harga minyak AS. Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) melaporkan stok minyak mentah nasional turun 8 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober. Estimasi awal American Petroleum Institute (API) sebelumnya menunjukkan penurunan lebih dalam, yakni 11,1 juta barel. Data API juga menunjukkan stok distilat turun dan stok bensin naik, menurut sumber pasar. Libur Columbus Day pada Senin menunda rilis data resmi EIA sehari.
Sebuah kapal berbendera Singapura tenggelam di Selat Hormuz dan memicu kekhawatiran konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. “Serangan semacam ini tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, dan melanggar hukum internasional,” kata otoritas maritim Singapura dalam pernyataan pada Rabu. Pejabat maritim juga melaporkan pada Rabu bahwa sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal pengangkut curah kering tenggelam di dekat selat itu dalam 24 jam terakhir.
Iran menambah ketegangan lewat pernyataan terbaru. Teheran mengaku sedang “menghitung momen” hingga dapat mulai menyerang kapal perang AS. Serangan di sekitar jalur air itu melonjak dalam 10 hari terakhir, dan Iran menyebut peningkatan tersebut sebagai balasan atas blokade AS terhadap pelabuhannya serta sanksi lebih ketat yang Washington terapkan bulan lalu.
Militer AS menyusun rencana serangan baru terhadap Iran yang mencakup “mother of all bombs”, bahan peledak nonnuklir terbesar di gudang senjata Amerika, lapor CNN. Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak akan memulai kembali serangan sebelum pemilu sela AS pada 3 November.
Pelonggaran Sanksi terhadap Kapal Armada Bayangan
Pemerintahan Trump di sisi lain mempertimbangkan melonggarkan sanksi terhadap kapal “armada bayangan” yang mengangkut minyak dan produk minyak dari Rusia dan sejumlah negara lain, lapor Reuters.
Langkah itu bertujuan meredam harga. Seorang pejabat AS menyebut pembicaraan berpusat pada kemungkinan Washington mengizinkan “minyak legal” mengalir lewat kapal yang sebelumnya terkena sanksi. Perang Iran telah mendorong biaya angkut ke rekor tertinggi.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan Oktober pada Rabu memperingatkan keterbatasan pasar solar bisa berlanjut hingga tahun depan. Serangan baru terhadap Arab Saudi mengancam pemulihan pasokan minyak, menurut lembaga itu. Houthi menyerang kantor pusat Saudi Aramco pada sesi sebelumnya, dan WTI sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan.
Pasokan dari produsen lain menahan laju kenaikan harga. Produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari (bph) pada September ke 8,43 juta bph, tetapi masih turun 870.000 bph dibandingkan setahun lalu, kata IEA.
Percepatan Pelepasan Cadangan Darurat
Reuters melaporkan untuk membantu meredam harga, pemerintahan Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal "armada bayangan" (*shadow fleet*) yang mengangkut minyak dan produk minyak bumi dari negara-negara seperti Rusia.
Head of Business ICM, Firas Bechwaty mengatakan, pada Rabu malam kurangnya kemajuan dalam jalur diplomatik antara AS dan Iran menyisakan sedikit harapan dalam waktu dekat untuk pembukaan kembali jalur perairan tersebut sepenuhnya.
"Pada saat yang sama, minyak mentah Arab Saudi terus menjangkau pembeli internasional melalui jalur-jalur alternatif, sementara percepatan pelepasan cadangan darurat oleh negara-negara anggota IEA memberikan penyangga tambahan yang mencegah lonjakan harga yang tajam, bahkan di tengah ketegangan yang masih tinggi,” ujar Bechwaty.