Liputan6.com, Jakarta - Petugas dan relawan yang berjibaku memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah menghadapi sejumlah tantangan berat. Warga Palangka Raya, Winney Amiani mendapatkan informasi, petugas yang berjuang di lokasi mengalami kesulitan akses air akibat kekeringan.
Selain air, kata Winney, akses yang ditempuh menuju lokasi dan area kebakaran yang sulit dijangkau menjadi tantangan lain bagi para petugas.
Advertisement
"Teman-teman relawan yang berjuang langsung di lapangan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Api terus meluas, sementara akses menuju lokasi kebakaran tidak selalu mudah," kata Winney saat bercerita kepada Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).
Winney mengatakan penyebab karhutla tidak berdiri sendiri. Kondisi musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino, pembukaan lahan, dugaan pembakaran yang disengaja, serta karakteristik lahan gambut menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Karakteristik tanah gambut turut menyulitkan proses pemadaman. Menurut Winney, api memang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar mati karena masih dapat merambat di bawah tanah dan menyebar ke wilayah sekitarnya.
"Banyak titik api yang 'terlihat' padam di permukaan, nyatanya masih aktif dan merambat ke daerah sekitar di dalam tanah. Ini yang pada akhirnya menyebabkan kabut asap berkepanjangan di Kalteng," ujarnya.
Winney menambahkan, faktor-faktor itu membuat api mudah menyebar dan meluas, sehingga tidak heran tiap hari warga menyaksikan petugas berlalu-lalang di pusat kota setelah mendapat laporan kebakaran hutan dan lahan. Bahkan, kebakaran dilaporkan merembet hingga menyebabkan kebakaran di permukiman warga.
"Setiap hari petugas pemadam kebakaran berlalu-lalang di pusat kota, dengan berbagai laporan kebakaran hutan dan lahan, serta kebakaran perumahan warga akibat api yang merambat. Terlebih kendalanya adalah air semakin sulit diakses karena kekeringan berkepanjangan ini," ungkap Winney.
Logistik Terhambat, Makanan Relawan Basi
Selain kendala teknis pemadaman, distribusi kebutuhan bagi relawan di lapangan juga menghadapi hambatan. Winney mengaku mendengar dari rekan-rekan relawan bahwa makanan yang dikirim pernah basi karena terlambat tiba di lokasi.
"Saya bahkan mendengar dari teman relawan bahwa ada makanan untuk mereka yang akhirnya basi karena terlambat sampai ke lokasi. Ini menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang sedang kami hadapi," kata Winney.
Menurutnya, keterlambatan distribusi makanan menjadi persoalan penting karena relawan membutuhkan konsumsi, air minum, dan dukungan logistik agar dapat terus menjalankan tugas di lapangan.
Winney berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah meluas. Pemerintah juga perlu memperkuat pencegahan, pengawasan, pengelolaan lahan, serta evaluasi terhadap penyebab kebakaran yang terus berulang.
Ia juga menilai akses air bersih bagi warga dan kebutuhan logistik petugas maupun relawan harus menjadi perhatian dalam penanganan bencana.
"Menurut saya, penanganan tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah meluas, tetapi juga perlu menyentuh upaya pencegahan, pengelolaan lahan, pengawasan, serta evaluasi terhadap penyebab kebakaran yang terus berulang," tuturnya.