Inflasi AS Naik 3,7% pada September 2026, Harga Bensin Melonjak

Inflasi Amerika Serikat (AS) yang mencapai 3,7% berada di atas target the Federal Reserve (the Fed).

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 15 Oktober 2026, 13:40 WIB
Seseorang mengendarai skuter melewati toko pencairan cek dan pinjaman gaji di pusat kota Los Angeles, California, AS. (Patrick T. FALLON/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada September 2026 dengan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) atau inflasi naik 3,7% secara tahunan, melampaui perkiraan ekonom sebesar 3,6% pada periode sebelumnya.

Lonjakan harga energi, terutama bensin, menjadi salah satu pendorong utamanya, membuat inflasi tetap jauh di atas target Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%. Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), laporan Bureau of Labor Statistics (BLS) mencatat peningkatan CPI 0,6% pada September 2026 dibandingkan bulan sebelumnya, setelah penyesuaian musiman.

Inflasi inti turut meningkat 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Kedua angka itu lebih tinggi daripada proyeksi ekonom, masing-masing sebesar 0,2% dan 2,5%. Sebagai perbandingan, inflasi umum pada Agustus mencapai 3,4%, sedangkan inflasi inti berada di level 2,4%.

BLS mencatat indeks energi melonjak 5,2% di tengah konflik AS dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari. Harga bensin naik 9,1% dan menyumbang sekitar separuh kenaikan CPI umum pada September. Secara tahunan, harga bensin meningkat 34,2%, sementara harga bahan bakar minyak pemanas melonjak 74,2%.

Di luar energi, harga pangan tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 2,5% secara tahunan. Harga tempat tinggal meningkat 0,4%, sedangkan harga mobil dan truk bekas naik 0,7%. Harga pakaian yang sensitif terhadap tarif impor bertambah 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan.

Kenaikan inflasi ini tentunya memengaruhi pergerakan pasar keuangan. Setelah laporan dirilis, kontrak berjangka saham AS melemah, sedangkan imbal hasil obligasi naik tajam.

Menurut alat FedWatch CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada rapat The Fed 27–28 Oktober meningkat menjadi sekitar 54%. Kemungkinan kenaikan sebelum akhir tahun melampaui 96%, termasuk peluang hampir berimbang untuk kenaikan sebesar 0,5 poin persentase hingga Desember.

 

Pasar Perkirakan The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga

Logo Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) di Washington. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Kepala Strategi Makro Carson Group, Sonu Varghese, mengatakan tekanan inflasi tidak hanya berasal dari bahan bakar, namun juga menunjukkan kenaikan harga yang meluas, sementara dampak penuh kenaikan harga diesel dan pesatnya perkembangan industri artificial intelligence (AI) belum terlihat.

Inflasi CPI telah melampaui target 2% The Fed sejak Maret 2021. Setelah cenderung menurun pada awal 2026, inflasi kembali melonjak menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Pada September, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase ke kisaran 3,75–4%. Pasar memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga pada Oktober sebelum kembali menaikkannya pada Desember.

 

 

Kekhawatiran The Fed

Ilustrasi Federal Reserve, The Fed. (Photo by Joshua Hoehne on Unsplash)

Sejumlah pejabat The Fed juga menilai tidak perlu buru-buru menaikkan suku bunga kembali, meskipun mayoritas masih memperkirakan pengetatan tambahan tahun ini. Pasar turut memperhitungkan sedikitnya dua kenaikan suku bunga pada 2027.

The Fed mengkhawatirkan konflik berkepanjangan bisa membuat tekanan harga menyebar ke sektor lain dan memengaruhi ekspektasi konsumen serta pelaku usaha. Tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump dan permintaan barang untuk pengembangan infrastruktur AI juga menambah tekanan inflasi.

Laporan CPI September menjadi data inflasi terakhir yang tersedia sebelum rapat The Fed pada Oktober. BLS dijadwalkan merilis indeks harga produsen (producer price index/PPI) September pada Kamis, sedangkan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), acuan inflasi utama The Fed, baru akan terbit pada akhir bulan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya