Kabut Asap Berpotensi Rugikan Malaysia hingga Rp 6,59 Triliun per Bulan

Malaysia menghadapi kerugian ekonomi akibat kabut asap, dengan biaya kesehatan, produktivitas pekerja, dan pariwisata terdampak.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 15 Oktober 2026, 11:20 WIB
Seorang ibu bersama anaknya yang mengenakan masker melihat kondisi sekitar dari atas jembatan di tengah kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (12/10/2026). Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama beberapa pekan terakhir akibat kebakaran yang melanda kawasan hutan di Kalimantan dan Sumatra. (Reina/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap lintas negara menimbulkan kerugian ekonomi bagi Malaysia hingga 20 juta ringgit-50 juta ringgit per hari atau sekitar Rp 87,9 miliar-Rp 219,75 miliar (estimasi kurs Rp 4.395 per Ringgit). Kerugian tersebut berasal dari terganggunya aktivitas ekonomi, meningkatnya biaya kesehatan, dan menurunnya produktivitas pekerja.

Profesor ekonomi Sunway University, Dr. Yeah Kim Leng, memperingatkan bahwa angka tersebut merupakan perkiraan konservatif. Jika berlangsung berkepanjangan, dampaknya dapat membengkak hingga ratusan juta ringgit setiap bulan.

“Kerugian ekonomi yang sebenarnya berpotensi membengkak hingga RM 600 juta sampai RM 1,5 miliar per bulan,” ujarnya dikutip dari Malay Mail, Kamis (15/10/2026). 

Jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp 2,64 triliun-Rp 6,59 triliun per bulan.

Yeah menyebut sektor pariwisata dan penerbangan sebagai bidang yang paling rentan terdampak kabut asap. Polusi udara dapat menekan jumlah kedatangan wisatawan hingga 8 persen dan memicu kerugian produk domestik bruto (PDB) hingga RM 1,5 miliar atau sekitar Rp 6,59 triliun.

Sektor pertanian dan perkebunan juga menghadapi tekanan. Petani sayuran di Johor melaporkan penurunan produksi, sementara hasil panen buah disebut berkurang hingga separuh. Industri kelapa sawit pun berpotensi merasakan dampak tertunda selama enam hingga 12 bulan.

Biaya Kesehatan Meningkat

Seekor monyet ekor panjang mencari minuman di tengah kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (10/10/2026). Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama beberapa pekan terakhir akibat kebakaran yang melanda kawasan hutan di Kalimantan dan Sumatra. (REINA/AFP)

Selain mengganggu produksi, kabut asap juga menghambat distribusi barang akibat jarak pandang yang terbatas dan kualitas udara yang berbahaya. Aktivitas konstruksi dapat terhenti, sementara jumlah pengunjung pusat perbelanjaan dan toko berpotensi menurun.

Pakar kedokteran kesehatan masyarakat dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr. Mohd Hafiz Jaafar, mengatakan biaya pengobatan langsung hanya mencerminkan sebagian kecil dari dampak kabut asap.

“Secara nasional, biaya akibat penyakit meningkat dari sekitar RM 21 juta pada kabut asap 1997 menjadi RM 410 juta pada 2013,” katanya.

Angka tersebut setara dengan sekitar Rp 92,3 miliar dan Rp 1,8 triliun.

Hafiz menjelaskan, biaya itu baru mencakup pengobatan penyakit pernapasan. Kabut asap juga berdampak terhadap jantung dan pembuluh darah, yang belum sepenuhnya diperhitungkan.

Kerugian tidak langsung juga muncul ketika pekerja absen, tetap masuk tetapi tidak dapat bekerja optimal, atau mengalami penurunan produktivitas.

“Jadi, kabut asap bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah ekonomi,” ujarnya.

Hafiz mendorong kerja sama lintas negara dengan Indonesia untuk memadamkan kebakaran sejak dari sumbernya. Menurut dia, pencegahan regional jauh lebih hemat dibandingkan menanggung kerugian yang berulang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya