Liputan6.com, Bogota - Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai wilayah Kolombia pada Rabu untuk mengecam perang Israel di Gaza dan keputusan pemerintah membuka kedutaan di Yerusalem. Kebijakan tersebut menandai perubahan besar dalam arah politik luar negeri negara itu.
Dikutip dari Anadolu, Kamis (15/10/2026), di ibu kota Bogota, ratusan mahasiswa, aktivis gerakan sosial, dan demonstran lainnya berunjuk rasa sambil mengibarkan bendera Palestina. Mereka mengecam keputusan Presiden Abelardo de la Espriella untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel.
Advertisement
Aksi tersebut merupakan bagian dari mobilisasi nasional untuk menentang kebijakan luar negeri dan dalam negeri presiden konservatif itu. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah upaya pemerintah mempererat hubungan dengan Israel dan menyelaraskan kebijakan Kolombia lebih dekat dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Para demonstran membawa spanduk bertuliskan, "Kami bukan halaman belakang Anda."
Mereka juga meneriakkan sejumlah slogan, termasuk "Tolak intervensi Amerika", "Zionis keluar, orang Amerika keluar, Abelardo mundur".
Dalam aksi di Bogota, para demonstran juga membakar bendera AS.
Kolombia Buka Kembali Kedutaan di Yerusalem
Demonstrasi tersebut berlangsung bersamaan dengan peresmian kedutaan Kolombia di Yerusalem pada Rabu. Pembukaan kedutaan itu membalikkan keputusan pemerintahan sebelumnya yang memutus hubungan diplomatik dengan Israel.
De la Espriella, yang mulai menjabat pada Agustus, memulihkan hubungan diplomatik yang diputus mantan Presiden Gustavo Petro pada 2024 sebagai bentuk protes terhadap perang Israel di Gaza.
Pemerintahan De la Espriella juga memberlakukan kembali perjanjian perdagangan bebas dengan Israel yang sebelumnya ditangguhkan pada masa pemerintahan Petro.
Menteri Luar Negeri Kolombia Omar Bula menghadiri upacara peresmian kedutaan di Yerusalem. Ia menyebut langkah tersebut sebagai upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
Bula mengatakan hubungan diplomatik Kolombia dan Israel seharusnya tidak pernah diputus.
"Israel adalah mitra strategis. Sejak dulu memang demikian, dan mulai sekarang, hubungan itu akan menjadi lebih kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, pembukaan kedutaan tersebut merupakan langkah nyata untuk memulihkan hubungan bilateral kedua negara secara penuh.
Sementara itu, para pejabat Palestina mengecam peresmian kedutaan tersebut. Mereka memperingatkan bahwa keputusan Kolombia itu melemahkan hukum internasional dan merusak posisi diplomatik negara tersebut yang selama ini dipegang dalam konflik Israel-Palestina.