Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga hari ini masih meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kabut asap akibat kebakaran semakin menyelimuti kota tersebut.
Langit terlihat kekuningan, sementara jarak pandang terus menurun hingga kurang dari 1 kilometer. Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari.
Advertisement
"Situasinya sangat memprihatinkan. Kabut asap semakin menyelimuti kota, langit terlihat kekuningan, dan jarak pandang terus menurun," kata warga Palangka Raya, Winney Amiani saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).
Perempuan yang berprofesi sebagai dokter ini mengungkapkan, pada 13 Oktober 2026, indeks kualitas udara dilaporkan berada di angka 4.000-an. Sementara itu, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Tengah dilaporkan mencapai sekitar 91.000 kasus.
Kondisi tersebut berdampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat. Kegiatan sekolah, pekerjaan, dan rutinitas sehari-hari ikut terganggu akibat kabut asap yang menyelimuti kota.
Menurut Winney, titik kebakaran juga tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Tengah, termasuk kawasan perkotaan Palangka Raya. Jarak antara permukiman dan kawasan hutan membuat kebakaran berpotensi merembet hingga membakar rumah warga.
"Jadi ketika ada satu saja percikan api, maka hutan satu ke yang lainnya ikut terbakar bahkan berdampak pada kebakaran perumahan warga," ujar dia.
Winney mengatakan, kebakaran hutan dan kabut asap menjadi persoalan tahunan yang terus berulang. Kebakaran dipicu berbagai faktor, di antaranya puncak musim kemarau, dampak El Niño, serta pembakaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan dalam skala besar.
Kondisi tersebut diperparah oleh karakteristik tanah gambut di Kalimantan Tengah. Menurut Winney, tanah gambut menyebabkan titik api sulit terdeteksi. Banyak titik api yang terlihat padam di permukaan, tetapi ternyata masih aktif dan merambat ke daerah sekitarnya melalui lapisan tanah.
"Ini yang pada akhirnya menyebabkan kabut asap berkepanjangan di Kalteng," terang Winney.
Kebutuhan Mendesak Warga
Selain kebakaran dan kabut asap, kekeringan berkepanjangan semakin menyulitkan masyarakat memperoleh air. Gangguan listrik dan komunikasi juga menambah kesulitan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Sekolah, pekerjaan, dan berbagai kegiatan sehari-hari juga ikut terkena dampaknya," ungkap dia.
Untuk mengurangi paparan asap, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak dan menggunakan masker yang sesuai. Warga yang mengalami keluhan pernapasan juga diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan.
Menurut Winney, kebutuhan mendesak masyarakat Palangka Raya saat ini meliputi udara bersih, akses air bersih dan kebutuhan dasar, pembagian masker, serta layanan kesehatan yang mudah dijangkau, terutama bagi anak-anak dan lansia.
"Karena di tengah situasi bencana seperti ini, pada akhirnya masyarakat tetap harus bertahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya," tutup Winney.
Dia juga berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga memperkuat pencegahan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman dan sehat.