Bank Terbesar di Rusia Kantongi Izin Layani Transaksi Kripto

Volume perdagangan kripto di Rusia diprediksi melonjak setelah Sberbank bisa menawarkan kripto.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 Oktober 2026, 12:00 WIB
Aset kripto Bitcoin, Altcoin, hingga Meme Coin. (Ilustrasi By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Rusia telah memasukkan Sberbank ke dalam daftar organisasi yang diizinkan untuk melakukan pertukaran mata uang digital, sehingga memungkinkan bank terbesar di negara tersebut untuk membeli dan menjual kripto atas nama dan menggunakan dananya sendiri. Keputusan ini diumumkan di situs web regulator, seperti dilaporkan oleh kantor berita Rusia, Interfax.

Mengutip Yahoo Finance, Kamis (15/10/2026), persetujuan ini diberikan enam hari setelah bank sentral memasukkan Sberbank ke dalam daftar terpisah untuk penyimpan aset digital (digital depositories), yaitu perusahaan yang memelihara catatan resmi mengenai kepemilikan aset kripto.

Memiliki kedua status tersebut memungkinkan bank untuk bertindak sebagai lawan transaksi bagi nasabah sekaligus mengelola catatan kepemilikan aset nasabah tersebut, tanpa perlu mengalihkan transaksi ke pihak eksternal.

Sberbank menyatakan, status sebagai penyimpan aset digital memungkinkannya menawarkan layanan kripto melalui antarmuka yang sudah digunakan nasabah. Layanan ini mencakup SberBank Online, SberInvestments, dan SberBusiness, menurut layanan pers bank, mereka berencana memulai layanan ini dengan aset Bitcoin, Ethereum, dan USDT (dari Tether) pada 1 Desember.

Bank tersebut sebelumnya memberikan catatan tanggal peluncuran itu bergantung pada keputusan bank sentral serta kesiapan peraturan pelengkap tepat pada waktunya. Kini, kedua persetujuan dari Bank Sentral Rusia telah diperoleh, sehingga peraturan pelengkap menjadi satu-satunya variabel penentu utama yang tersisa.

Berdasarkan laporan kinerja kuartalan, Sberbank menutup kuartal kedua dengan 110,6 juta nasabah ritel dan 3,5 juta nasabah korporat. Integrasi layanan kripto ke dalam basis pengguna tersebut mengubah akses masuk (on-ramp) yang teregulasi menjadi sekadar salah satu menu tambahan dalam aplikasi yang sudah digunakan nasabah untuk kebutuhan perbankan sehari-hari.

Wakil Ketua Anatoly Popov memperkirakan volume perdagangan kripto di Rusia dapat mencapai 4 triliun rubel (sekitar US$ 46 miliar atau Rp 824,98 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.930 ) pada tahun pertama penerapan aturan ini, dan meningkat menjadi 7,5 triliun rubel (hampir US$ 89,7 miliar atau Rp 1.608 triliun) pada 2029.

 

Bukan Sebagai Alat Pembayaran

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Bank tersebut juga berencana menerima Ethereum dan USDT selain Bitcoin sebagai jaminan pinjaman setelah bank sentral mengizinkan peredaran aset-aset tersebut secara publik.

Berdasarkan undang-undang yang ditandatangani Putin pada Agustus, investor non-kualifikasi dapat membelanjakan hingga 300.000 rubel (sekitar US$ 3.800 atau Rp 68,15 juta) per tahun melalui setiap perantara, pembeli wajib lulus tes pengetahuan, dan daftar aset kripto yang dapat diperdagangkan menurut rancangan bank sentral hanya mencakup Bitcoin, Ethereum, dan USDT.

Pada Januari 2022, Bank Sentral Rusia mengusulkan pelarangan total terhadap penggunaan, penambangan, dan perdagangan kripto dengan alasan adanya ancaman terhadap stabilitas keuangan.

Kurang dari lima tahun kemudian, bank tersebut justru memberikan izin kepada bank pemberi pinjaman terbesar di negara itu untuk mengoperasikan layanan transaksi kripto.

Hingga saat ini, penggunaan kripto sebagai alat pembayaran di dalam wilayah Rusia masih ilegal. Karena itu, nasabah Sberbank dapat membeli Bitcoin tetapi tidak dapat menggunakannya untuk membayar produk.

Bank sentral menyatakan perusahaan yang telah terdaftar memiliki waktu hingga 1 September 2027 untuk menyesuaikan seluruh kegiatan operasional mereka agar sepenuhnya mematuhi undang-undang baru tersebut.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya