IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1%

IMF juga melihat sejumlah negara di Asia Tenggara akan mendapatkan manfaat dari investasi pusat data atau data center.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 14 Oktober 2026, 20:27 WIB
IMF merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam laporan World Economic Outlook yang rilis Oktober 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional atau the International Monetary Fund (IMF) menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,1% pada 2026. Sebelumnya pada April 2026, IMF memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5% pada 2026.

Prediksi itu tertuang dalam laporan World Economic Outlook: Resilience Under Strain, Urgent Choices pada Oktober 2026, dikutip Rabu, (14/10/2026).

IMF prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1% pada 2026 dan 2027. Sementara itu, tingkat inflasi diprediksi sekitar 3,3% pada 2026 dan akan menurun menjadi 2,8% pada 2027.

Selain itu, IMF juga memprediksi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang menjadi 5,1% pada 2026, turun dari 5,6% pada 2025. Hal itu akibat krisis Timur Tengah yang kian memanas dan terus mendorong kenaikan harga minyak.

Dalam laporan World Economic yang dirilis dua kali setahun dan diluncurkan dalam Pertemuan Tahunan IMF serta Grup Bank Dunia di Bangkok, Thailand, juga mencatta perlambatan regional ini akan diredam oleh meningkatnya permintaan akan produk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mengingat beberapa negara ekonomi Asia yang sedang berkembang merupakan bagian dari rantai pasok artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, demikian mengutip China Daily.

IMF mengatakan, sejumlah negara ekonomi Asia Tenggara diperkirakan memperoleh keuntungan dari investasi pusat data, kebangkitan siklus teknologi global, serta langkah-langkah fiskal darurat.

Direktur Departemen Riset IMF, Silvana Tenreyro menuturkan, China dan India merupakan "penggerak utama pertumbuhan" di kawasan Asia yang sedang berkembang.

"Secara keseluruhan, (kawasan Asia yang sedang berkembang) adalah kawasan dengan tingkat pertumbuhan tertinggi," kata Tenreyro dalam konferensi pers saat peluncuran laporan tersebut.

 

Prospek Ekonomi Asia

Bendera Korea Selatan. (JUNG Yeon-je / AFP)

Prospek IMF untuk kawasan Asia yang sedang berkembang melampaui perkiraan pertumbuhan global 2026 yang sebesar 3,1%, dengan negara-negara pengimpor energi yang berada di luar rantai nilai teknologi diproyeksikan menghadapi "prospek paling sulit". Inflasi umum global diproyeksikan naik menjadi 4,7% tahun ini.

Tenreyro mengatakan, meskipun berstatus sebagai importir neto energi, kawasan ini "menunjukkan ketahanan yang luar biasa" berkat lonjakan sektor AI.

“Negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Republik Korea, dan Vietnam "terintegrasi dengan sangat baik dalam rantai pasok AI," ujar dia.

Laporan World Economic Outlook menyebutkan interaksi antara geopolitik dan teknologi telah menciptakan "ekonomi global yang terpecah", di mana ekspor dan investasi terkait teknologi memberikan keuntungan bagi sebagian negara, sementara negara lain harus menghadapi biaya impor yang lebih tinggi serta permintaan yang lebih lemah.

Tenreyro mengatakan, negara pengekspor energi di luar wilayah konflik dan negara yang terintegrasi erat dalam siklus AI diperkirakan akan "memiliki kinerja lebih baik", sedangkan negara pengimpor energi dan negara dengan partisipasi terbatas dalam lonjakan AI akan "menghadapi prospek pertumbuhan yang lebih lemah".

“Risiko terhadap prospek pertumbuhan cenderung mengarah ke sisi negatif akibat beberapa faktor, termasuk ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah yang dapat memicu kenaikan harga energi dan komoditas lainnya, ujar dia.

 

Gangguan akibat El Nino

Warga menggembala hewan ternaknya pada sawah yang retak akibat kekeringan di kawasan Weninggalih, Jonggol, Jawa Barat, Selasa, 25 Agustus 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Faktor lainnya mencakup kedatangan fenomena cuaca El Nino yang dapat mengganggu pasokan pangan, serta tingginya biaya pinjaman dan pembayaran bunga yang dapat menggeser alokasi belanja penting di sektor lain dan mengurangi bantalan fiskal untuk menghadapi guncangan di masa depan.

Lonjakan perkembangan AI telah menjadi pendorong utama pertumbuhan global dalam beberapa bulan terakhir, tetapi hal ini juga dipandang berpotensi menciptakan titik-titik hambatan (bottleneck).

Tenreyro mengatakan, hal ini disebabkan oleh konsentrasi rantai pasok AI yang sangat tinggi pada segelintir negara, sektor, dan perusahaan. Demikian pula, koreksi nilai pasar dan ancaman AI terhadap keamanan siber dapat menghambat pertumbuhan serta menambah ketidakstabilan keuangan.

"Ekonomi global telah menunjukkan ketahanan, namun ketahanan tersebut kini mendekati batasnya," ujar dia.

"Tugas ke depan adalah beralih dari sekadar bertahan menuju pemulihan, yakni dengan memulihkan ruang fiskal dan ketahanan sisi penawaran, sehingga pada akhirnya memperkuat kemampuan negara-negara untuk tumbuh secara berkelanjutan,” ia menambahkan.

 

Negara di Asia Hadapi Biaya Lonjakan Impor

Direktur Boston University Global Development Policy Center, Kevin Gallagher menilai laporan World Economic Outlook tersebut agak terlalu terlena.

"Di balik angka-angka agregat tersebut, banyak negara di Asia menghadapi lonjakan biaya impor akibat konflik di Timur Tengah, yang diperparah oleh guncangan terkait perubahan iklim seperti banjir dan kekeringan," ujar Gallagher kepada China Daily.

"IMF dan Bank Dunia tidak datang ke Bangkok dengan membawa instrumen baru untuk merespons situasi saat ini, padahal hal tersebut dapat memperparah risiko-risiko yang sudah tergolong serius ini,” ia menambahkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya