Midterm Elections AS 2026: Pertaruhan Partai Demokrat untuk Batasi Kekuasaan Trump

Bagi Partai Demokrat, pemilu ini membuka peluang untuk menguasai Kongres dan membatasi ruang gerak pemerintahan Donald Trump.

Didin Nasirudin, Managing Director Bening Communication dan pemerhati politik Amerika Serikat yang kini menjadi mahasiswa Program Doktor Komunikasi Politik & Diplomasi Universitas SAHID. (Abdillah/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Midterm elections atau pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 mendatang menjadi ujian penting bagi pemerintahan Presiden Donald Trump. Partai Republik menghadapi ancaman kehilangan mayoritas di DPR sekaligus persaingan yang semakin ketat untuk mempertahankan Senat. Bagi Partai Demokrat, pemilu ini membuka peluang untuk menguasai Kongres dan membatasi ruang gerak pemerintahan Trump dalam dua tahun terakhir masa jabatannya.

Turunnya elektabilitas anggota DPR dan Senat Partai Republik menjelang midterm elections tidak lepas dari anjloknya popularitas Presiden Donald Trump di mata masyarakat AS. Situs analisis jajak pendapat independen, Silver Bulletin, mengungkapkan bahwa hanya 37,3% warga AS yang setuju atau favorable dengan kinerja Trump, sedangkan 59,6% tidak setuju atau unfavorable. Artinya, marjin tingkat favorabilitas warga AS terhadap Trump mencapai -22,3 poin. Marjin tingkat favorabilitas terhadap Trump berada di zona merah, terutama terkait inflasi (−47,5 poin), ekonomi (−29,9 poin), perdagangan (−28,2 poin), perang Iran (−22,7 poin), dan imigrasi (−11,7 poin). 

Partai Demokrat juga memimpin dalam jajak pendapat generic congressional ballot dengan keunggulan mencapai 8,8 poin, yang berarti pemilih AS secara nasional lebih menginginkan Partai Demokrat menguasai DPR daripada Partai Republik.

DPR: Demokrat Sangat Berpeluang Merebut Mayoritas

Situs analisis pemilu nonpartisan The Cook Political Report, Partai Demokrat diproyeksikan memperoleh tambahan bersih 9 hingga 19 kursi, sehingga bisa meraih 224-234 dari total 435 kursi. Perhitungan ini terutama disebabkan oleh adanya pergeseran di 18 distrik atau dapil kompetitif di negara bagian Iowa, Pennsylvania, dan Washington.

Sementara itu, platform prediksi pemilu The Race to the White House memproyeksikan Partai Demokrat akan meraih 234 kursi, sedangkan Partai Republik hanya 201 kursi. Silver Bulletin mengungkapkan proyeksi yang lebih optimistis untuk Partai Demokrat: 238 berbanding 197.

Senat: Persaingan Meluas, Hasil Belum Pasti

Partai Republik saat ini menguasai 53 kursi di Senat, sementara Partai Demokrat memiliki 47 kursi, termasuk dua kursi senator independen yang masuk dalam koalisinya. Untuk merebut mayoritas di Senat, Partai Demokrat harus meraih minimal empat kursi tambahan hingga mencapai mayoritas 51–49. Jika kedua partai sama-sama kuat dengan perolehan 50-50, Partai Republik tetap menguasai Senat karena Wakil Presiden JD Vance memiliki satu suara untuk memecahkan kebuntuan.

Selain berpeluang besar memenangkan kursi senat di Maine dan North Carolina, yang saat ini dikuasai Partai Republik, para kandidat senator Partai Demokrat juga unggul dalam jajak pendapat rata-rata Silver Bulletin: Sherrod Brown di Ohio (+3,7 poin), James Talarico di Texas (+3,4 poin), Mary Peltola di Alaska (+3,4 poin), Jason Turek di Iowa (+1,5 poin), dan Adam Hamilton di Kansas (+1,2 poin). Keunggulan di Kansas tentunya sangat mengejutkan karena Partai Demokrat belum pernah memenangkan kursi senat di sana dalam hampir satu abad.

Silver Bulletin memproyeksikan Partai Demokrat memiliki peluang 73,4% untuk menguasai Senat dengan meraih rata-rata 52 kursi berdasarkan simulasi. Menurut model simulasi The Race to the White House, Partai Demokrat memiliki peluang 72,4% untuk meraih mayoritas di Senat dengan perolehan 52–53 kursi. 

Bayang-Bayang Pemilu 2006 dan Risiko Kesalahan Survei

Analis ekonomi Steve Rattner melihat bahwa midterm elections 2026 memiliki banyak kesamaan dengan midterm elections 2006 pada era periode kedua George W. Bush, ketika Perang Irak memicu kenaikan harga BBM, inflasi, dan suku bunga KPR. Saat itu, Partai Demokrat berhasil menambah 31 kursi di DPR dan 6 kursi di Senat.

Namun, mantan kepala strategi politik George W. Bush, Karl Rove, dalam The Wall Street Journal meminta Partai Demokrat untuk tidak terlalu optimistis dalam menyikapi hasil jajak pendapat. Mengutip pengamat jajak pendapat Partai Republik, Patrick Ruffini, yang menganalisis 3.312 hasil jajak pendapat dalam empat pemilu sebelumnya, Rove menyatakan bahwa 73% jajak pendapat menunjukkan perolehan suara kandidat Demokrat yang lebih tinggi dibandingkan hasil pemilu aktual, terutama di negara bagian yang lebih condong ke Partai Republik (Republican-leaning).

Hal serupa disampaikan oleh chief data analyst CNN, Harry Enten. Menurutnya, pada pemilu 2024 lalu, kandidat Partai Republik mengungguli hasil jajak pendapat pada bulan September sebesar 9 poin di Iowa, 6 poin di Ohio, dan 5 poin di Michigan.

Dengan kata lain, jajak pendapat dan model simulasi saat ini, yang rata-rata mengunggulkan Partai Demokrat dalam pemilu, memiliki faktor ketidakpastian yang membuat hasil aktual dapat berbeda.

Republik Masih Unggul dalam Pendanaan Politik

Kandidat anggota DPR dan Senat dari Partai Demokrat unggul dalam penggalangan dana, yakni US$1,62 miliar dibandingkan dengan Partai Republik yang hanya mengumpulkan US$1,18 miliar. Namun, kelompok pendukung Partai Republik membelanjakan US$532,7 juta, sedangkan kelompok pendukung Partai Demokrat membelanjakan US$354,5 juta.

Selain itu, organisasi-organisasi politik utama yang berafiliasi dengan Partai Republik masih memiliki dana US$1 miliar, hampir dua kali lipat dana organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan Partai Demokrat, yang hanya memiliki US$579 juta.

Dukungan dana yang besar sangat penting, terutama untuk mendukung para kandidat di Texas, Ohio, dan Michigan, yang biaya iklan dan mobilisasi massanya sangat mahal. Dengan keunggulan finansial ini, Partai Republik berharap bahwa dalam beberapa minggu ke depan, mereka dapat memengaruhi opini pemilih sehingga hasil jajak pendapat para kandidat mereka menjadi lebih baik. 

Proyeksi Pasar Prediksi dan Skenario Alternatif

Pasar prediksi (prediction markets) seperti Polymarket dan Kalshi juga mencoba menawarkan proyeksi hasil midterm elections. Polymarket menyatakan bahwa Partai Demokrat memiliki peluang 91% untuk menguasai DPR dan 63% untuk menguasai Senat. Menurut Kalshi, Partai Demokrat memiliki peluang 90% untuk meraih mayoritas di DPR dan 62% untuk meraih mayoritas di Senat.

Di sisi lain, panel pengamat politik AS dalam diskusi tentang midterm elections di NBC News belum lama ini mengungkapkan berbagai skenario hasil pemilu Senat pada 3 November nanti. Hasil paling optimistis bagi Partai Demokrat adalah sukses mempertahankan kursi di Senat Georgia dan Michigan yang dianggap paling rentan serta merebut kursi Senat dari Partai Republik di North Carolina, Maine, Texas, Ohio, Alaska, Iowa, dan Kansas, sehingga menghasilkan komposisi 54-46.

Skenario lain yang tidak terlalu ekspansif memproyeksikan Partai Demokrat meraih mayoritas dengan komposisi 53–47, 52–48, atau 51–49. Skenario yang lebih pesimistis memperkirakan komposisi 50–50 atau 49–51, yang berarti Partai Republik tetap menjadi penguasa Senat.

Menguasai DPR Saja Bisa Membatasi Trump

Memenangkan mayoritas di DPR dan Senat dari Partai Republik tentunya menjadi impian terbesar Partai Demokrat dan para pemilih AS yang tidak menyukai Perang Iran serta berbagai kebijakan Trump yang memicu banyak masalah di dalam negeri. Namun, jika Partai Demokrat sukses meraih mayoritas di DPR saja, dampaknya mungkin akan cukup signifikan.

Dengan kewenangan menetapkan anggaran dan melakukan pengawasan (appropriation and oversight powers) yang dimilikinya, DPR yang mayoritas anggotanya berasal dari Partai Demokrat dapat memperketat pengawasan terhadap pengeluaran pemerintahan Trump untuk perang di Iran, deportasi oleh ICE, penegakan hukum di perbatasan, dan operasi militer di luar negeri, serta menginvestigasi kontrak-kontrak federal dan berbagai keputusan lembaga pemerintahan Trump.

Bagi Trump sendiri, kehilangan mayoritas Partai Republik di DPR akan membuat dua tahun terakhir pemerintahannya jauh lebih sulit. Meski Demokrat tidak dapat secara sepihak menghentikan kebijakan Trump, kendali mereka atas DPR akan memaksa pemerintahannya menghadapi negosiasi anggaran yang lebih alot, investigasi Kongres yang lebih intensif, serta ruang gerak politik yang semakin terbatas.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya