Jerome Polin Bahas Kemiskinan Struktural, Diduga Singgung Utas Maia Estianty

Jerome Polin menyoroti kemiskinan struktural, menekankan bahwa kerja keras tak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Utasan Jerome Polin ini diduga mena

oleh Fatimah AzzahraDiterbitkan 14 Oktober 2026, 16:47 WIB
Jerome Polin (dok.Instagram@jeromepolin/https://www.instagram.com/p/BrU6cQKhKyR//Devita

Liputan6.com, Jakarta - Kreator konten Jerome Polin kembali menjadi sorotan publik usai membagikan utasan mengenai kemiskinan stukturan dan kerja keras. Unggahan tersebut ramai di perbincangkan di tengah kontroversi pernyataan Maia Estianty terkait rezki, usaha, dan sedekah yang sebelumnya menuai kritik dari netizen.

Meski tidak secara gamblang menyebut nama Maia Estianty, pembahasan Jerome mengenai orang-orang yang tetap mengalami kesulitan ekonomi  meski telah bekerja keras membuat unggahannya diduga berkaitan dengan polemik tersebut.

Dalam utasannya itu, Jerome mengajak masyarakat melihat kemiskinan dari sudut pandang yang lebih luas, termasuk faktor sistem dan kondisi sosial yang memengaruhi kesejahteraan seseorang.

 


Jerome Polin Singgung Pekerja Keras yang Masih Hidup Susah

Jerome Polin bahas kemiskinan struktural dan kerja keras di unggahan Threads (Threads.com/jeromepolin)

Dalam utasannya, Jerome menjelaskan bahwa bnayak sekali orang yang bekerja keras. Akan tetapi belum mendapatkan penghasilan atau apresiasi yang setimbal dengan apa yang dikerjakan.

Ia mencontohkan profesi guru honorer, tenaga kesehatan, hingga tukang becak yang masih  mengahdapi tantangan ekonomi.

"Banyak orang yang kerjanya keras banget, tapi masih susah. Karena memang tidak  mendapat gaji/apresiasi yang besar. Guru Honorer, naker, tukang becak, dll." tulis jerom dalam unggahan Threadsnya.

Menurutnya, kondisi yang demikian tidak bisa dilepaskan dari sistem yang berlaku di sebuah negara. Pekerjaan yang sama dapat memberikan kesejahteraan yang berbeda apabila dilakukan dalam lingkungan dan kebijakan, kondisi sosial, dan budaya yang berbeda.

"Ini disebabkan oleh sistemnya. Pekerja yang sama, di negara dua negara (sistem) yang berbeda, bisa punya tingkat kesejahteraan yang berbeda." lanjut Jerome.

 

 

 


Pengalaman Jerome Polin Tinggal di Jepang Buka Perspektif Baru

Unggahan tersebut diduga singgung utasan Maia Estianti yang sempat menjadi sorotan publik (Threads.com/jeromepolin)

Pemahaman Jerome menganai kemiskinan struktural semakin berkembang ketika ia tinggal dan menempuh pendidikan di Jepang. Ia bercerita bahwa sejumlah temannya bekerja paruh waktu sebagai staf restoran, pegawai toko pakaian, hingga kasir minimarket.

Meski bekerja di sektor yang umum dijalani mahasiswa, Jerome mengungkapkan bahwa teman-temannya tetap bisa menikmati berbagai kegiatan hiburan, mengunjungi kafe populer, hingga membeli gawai terbaru.

Pengalaman tersebut membuat Jerome melihat bahwa kesejahteraan tidak hanya bergantung pada jenis pekerjaan atau seberapa keras seseorang bekerja. Sistem yang mencakup kebijakan, politik, budaya, dan kondisi sosial juga berperan dalam menentukan kualitas hidup masyarakat.

Lanjut Baca:

"Aku makin paham, bahwa kesejahteraan atau kemiskinan itu tergantung pada sistem (kebijakan, politik, budaya, sosial, dll)." "Dua orang yang pekerja, kerja keras, waktu kerjanya sama, bisa sangat berbeda kondisinya bergantung sistem di mana dia hidup." jelas Jerome. Meski demikian, Jerome tidak menampik bahwa ada orang yang malas atau tidak menggunakan waktunya secara produktif sehingga mengalami kesulitan ekonomi. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada semua orang yang hidup dalam kemiskinan. “Tapi bukan berarti SEMUA yang hidupnya susah, adalah orang yang malas dan tidak bekerja keras, karena balik lagi, ada sistem yang bikin mereka emang susah untuk lepas dari kelas itu,” tulisnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya