Liputan6.com, Jakarta - Kesuksesan Gadis Kretek di Netflix menjadi bukti bahwa cerita yang berakar pada sejarah dan budaya lokal punya peluang besar untuk dikenal di panggung internasional. Berawal dari novel karya Ratih Kumala, kisah tentang cinta, perjuangan perempuan, dan industri kretek Indonesia itu berhasil menjangkau penonton dari berbagai negara.
Serial yang tayang pada November 2023 tersebut bahkan masuk daftar Top 10 serial TV nonbahasa Inggris Netflix secara global. Pencapaian ini menunjukkan bahwa cerita Indonesia tidak harus kehilangan identitas lokalnya untuk bisa diterima audiens dunia. Justru, keunikan budaya dan latar sejarah bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Advertisement
Melihat potensi tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif ingin mendorong lahirnya lebih banyak penulis Indonesia yang karyanya bisa berkembang melampaui buku. Harapannya, akan muncul karya-karya baru yang mengikuti jejak Gadis Kretek, Laskar Pelangi, hingga karya-karya Eka Kurniawan dalam menjangkau pembaca dan penonton internasional.
Kesuksesan Gadis Kretek Buktikan Cerita Lokal Punya Daya Tarik Global
Sebelum menjadi serial Netflix, Gadis Kretek lebih dulu hadir sebagai novel pada 2012. Ratih Kumala menghabiskan hampir empat tahun untuk menulisnya, termasuk melakukan riset ke sejumlah kota di Jawa Tengah, seperti Kudus, Magelang, dan Semarang. Latar keluarga besarnya yang memiliki hubungan dengan usaha kretek turut menginspirasi dunia dalam cerita tersebut.
Novel ini menghadirkan Dasiyah atau Jeng Yah, perempuan yang punya ambisi meracik saus kretek di tengah industri yang didominasi laki-laki. Perjuangan Dasiyah menjadi bagian penting dari kisah yang memadukan sejarah, dinamika keluarga, dan percintaan.
Ketika diadaptasi menjadi serial Netflix pada 2 November 2023, Ratih turut terlibat dalam penulisan naskah bersama tim adaptasi. Serial yang disutradarai Kamila Andini dan Ifa Isfansyah itu dibintangi Dian Sastrowardoyo sebagai Dasiyah.
Berdasarkan data Netflix periode 6–12 November 2023, Gadis Kretek menempati peringkat ke-10 dalam daftar Top 10 global serial TV nonbahasa Inggris, dengan 1,6 juta penayangan dalam sepekan. Serial ini juga masuk daftar Top 10 di enam negara, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Bagi Ratih, keberhasilan tersebut bukan sekadar soal jumlah penonton, tetapi juga bagaimana cerita Indonesia bisa dipahami oleh audiens lintas negara.