WPP Media Hadirkan 400 Pemimpin Bisnis Asia Pasifik dalam Content Day 2026

Acara ini juga akan merilis laporan APAC Creator Economy Landscape Study 2026, yang merangkum wawasan dari 15 pasar di Asia Pasifik.

oleh NurmayantiDiterbitkan 14 Oktober 2026, 14:57 WIB
Tangkapan layar instagram WPP Media Indonesia akan menggelar edisi kelima acara bertajuk Content Day 2026: The Age of Influence, yang mempertemukan 400 pemimpin pemasaran Asia Pasifik di Jakarta. Instagram@wppmedia.id

Liputan6.com, Jakarta - WPP Media Indonesia akan menggelar edisi kelima acara bertajuk Content Day 2026: The Age of Influence, yang mempertemukan 400 pemimpin pemasaran Asia Pasifik di Jakarta. Acara ini akan berlangsung Kamis, 15 Oktober 2026, di Ciputra Artpreneur, Lantai 11, Jakarta.

Acara ini juga akan meluncurkan riset terbaru mengenai ekonomi kreator Asia Pasifik, yang mencatat GMV social commerce senilai US$ 23,2 miliar. Serta menghadirkan pembicara dari Meta, Google, TikTok, WARC, Unilever, L’Oréal, Samsung, dan Paragon.

“Selama bertahun-tahun, pemasaran merek bertumpu pada formula yang dianggap aman, yaitu keyakinan bahwa relevansi dapat dibeli dengan data dan belanja iklan yang memadai,” ujar Sri Widowati, Chief Executive Officer WPP Media Indonesia.

Menurut dia, era tersebut telah berlalu. Merek modern bukan lagi sekadar iklan linier berdurasi 30 detik, melainkan sebuah mosaik dinamis yang terbentuk melalui ribuan titik interaksi dengan kreator dan komunitas.

"Content Day 2026 dan riset terbaru kami memberikan kerangka operasional konkret bagi para pemimpin bisnis untuk mengubah pengaruh menjadi ROI yang terukur,” jelas dia.

Pertemuan khusus undangan ini menghadirkan lebih dari 400 eksekutif pemasaran terkemuka dari berbagai negara di Asia Pasifik untuk membahas pergeseran mendasar di industri. Mulai dari membeli jangkauan media yang tertarget menuju membangun kepercayaan dalam skala luas melalui ekosistem berbasis kreator.

Pada acara Content Day 2026: The Age of Influence ini menghadirkan beberapa sorota antara lain: Peluncuran Studi Eksklusif tentang Kreator: Peluncuran APAC Creator Economy Landscape Study, yang mengungkap bagaimana GMV social commerce senilai US$23,2 miliar dan 19,4 juta afiliator aktif di Asia Pasifik telah mengubah strategi merek di seluruh kawasan.

Kemudian Panel C-Suite Terkemuka: Para pemimpin yang turut membentuk arah industri, termasuk Andi Airin (Head of Mobile Experience Demand Generation and Marketing, Samsung), Ana Maria Paslaru (General Manager for Personal Care, Unilever), Isabel Falco (Chief Digital and Marketing Officer, L’Oréal Indonesia), dan Niken Sistha Sasmaya (Digital Transformation Brand Growth & Influence Director, Paragon Corp), akan membahas transformasi bisnis, ketahanan margin, serta ekuitas merek di tengah ketidakpastian ekonomi. Sesi ini akan dimoderatori oleh Sri Widowati (Chief Executive Officer, WPP Media).

Selain itu, Lab AI Interaktif: Demonstrasi langsung berbagai platform AI generasi terbaru, termasuk WPP Open, Brand AI, dan Influencer.AI.

Adapula Keynote Teknologi dan Platform Global: Wawasan mengenai pencarian berbasis AI dan kepercayaan konsumen dari Meta (Matthew Drury), Google Indonesia (Veronica Utami), Meltwater (Dean Lanauze), TikTok Global Solutions (Xu Zhe), dan WARC (Rica Facundo). Sesi ini turut menghadirkan panelis industri dari AnyMind (Aditya Aima) dan PopStar (Yosuke Fukada).

Pamungkas Akbar besama Kreator Terkemuka: Dialog di panggung utama bersama kreator regional dan pendiri media terkemuka, termasuk kreator TikTok Shadira Firdausi, sutradara film Umay Shahab (Sinemaku Pictures), serta pionir podcast Angga Nggok dan Imam Darto (Podkesmas). Sesi ini akan dimoderatori oleh Pandu Brodjonegoro (L’Oréal Dermatological Beauty).

 

 

Tiga Perspektif yang Membentuk Pasar Regional

Adapun riset akan dikeluarkan WPP Media bersama Kalodata akan meluncurkan laporan unggulan APAC Creator Economy Landscape Study 2026, yang merangkum wawasan dari 15 pasar di Asia Pasifik.

Studi terbaru ini menawarkan perspektif baru terhadap berbagai asumsi pemasaran yang telah lama digunakan, dengan menyoroti tiga temuan utama yang membentuk pasar regional:

1. Berakhirnya Surface Engagement dan Munculnya Commerce Action

Meskipun volume konten (+37%) dan jumlah penayangan (+9%) mencapai rekor tertinggi di pasar dengan pertumbuhan utama seperti Indonesia, tingkat engagement tradisional turun 11% secara tahunan (year-on-year atau YoY), atau 3% secara regional.

Perilaku konsumen kini bergerak melampaui likes dan comments yang pasif menuju tindakan komersial berbasis intensi, seperti klik Keranjang Kuning, tautan afiliasi, dan kartu produk. CPE (Cost per Engagement) tidak lagi memadai sebagai tolok ukur utama. Merek perlu beralih ke Commerce Efficiency Metrics dan atribusi GMV secara langsung.

2. Ledakan Nano-Kreator dan Pergeseran Menuju Automated Mass-Seeding

Pangsa nano-kreator dalam volume pasar meningkat sekitar empat kali lipat hingga mencapai 22% dari total kreator. Fragmentasi yang masif ini membuat pengelolaan influencer secara manual semakin tidak efektif.

Merek-merek unggulan kini beralih dari pendekatan KOL manual ke platform CRM terotomatisasi dan mass-seeding engine, dengan memanfaatkan ratusan video organik dari nano-kreator sebagai ruang uji materi kreatif sebelum meningkatkan skala aset berkinerja terbaik melalui paid media.

3. Dominasi Afiliasi: 65% GMV Social Commerce Didorong oleh Kreator

GMV social commerce di Asia Pasifik melampaui US$23,2 miliar, naik 81% secara tahunan. GMV afiliasi melonjak 121% menjadi US$14,0 miliar dan kini menyumbang 65% dari seluruh transaksi social commerce.

Didukung oleh 19,4 juta afiliator aktif, konten afiliasi menyumbang lebih dari 80% visibilitas kreator pada momen belanja utama seperti Ramadan dan 12.12.

 

Chief Executive Officer WPP Media APAC, Helen McRae, mengatakan, Asia Pasifik merupakan episentrum transformasi media global, tempat konten, komunitas, dan perdagangan melebur dalam satu guliran singkat.

“Dengan mempertemukan para pengembang platform, pengelola merek, dan kreator, kami dapat mendorong standar yang lebih jelas untuk efektivitas kinerja, optimalisasi AI, dan kekuatan merek dalam jangka panjang,” jelas dia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya