Pertumbuhan Ekonomi Singapura Melambat dari Level Tertinggi 4 Tahun

Manufaktur menjadi salah satu sektor utama pertumbuhan perekonomian Singapura.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 14 Oktober 2026, 12:30 WIB
Ilustrasi Singapura. Ekonomi Singapura tumbuh 5,4% pada kuartal III 2026, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat level tertinggi dalam empat tahun. (AP/Wong Maye-E)

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Singapura tumbuh 5,4% pada kuartal III 2026, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat level tertinggi dalam empat tahun.

Meski demikian, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) itu masih melampaui perkiraan ekonom sebesar 5% berdasarkan survei Reuters.

Dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026), data pemerintah menunjukkan sektor manufaktur mengalami penurunan, tetapi dampaknya diimbangi pertumbuhan sektor konstruksi. Manufaktur menjadi salah satu sektor utama perekonomian Singapura dengan kontribusi sekitar 20% terhadap PDB.

Pemerintah Singapura sudah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi 4,5%–5,5%, pada Agustus lalu.

Proyeksi ini dipertahankan setelah sektor terkait kecerdasan buatan (AI) dan ekspor mendorong kinerja ekonomi, melampaui perkiraan pada paruh pertama 2026 dan meningkat signifikan dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni 2%–4%.

Pemerintah telah dua kali menaikkan proyeksi pertumbuhan sepanjang tahun ini. Awal 2026, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 1%–3%.

Data pertumbuhan PDB ini dirilis ketika Otoritas Moneter Singapura (MAS) memutuskan mempertahankan kebijakan moneternya.

Keputusan ini menandai jeda setelah bank sentral mengetatkan kebijakan secara berturut-turut pada April dan Juli untuk mengantisipasi risiko inflasi akibat kenaikan harga energi.

 

MAS Waspadai Inflasi dan Perlambatan Siklus AI

Kota dengan Properti Termahal di Dunia (Telegraph)

MAS memperkirakan inflasi masih akan tinggi dalam waktu dekat akibat lonjakan harga energi dan pangan. Namun, tekanan biaya diproyeksikan mereda mulai pertengahan 2027 seiring penurunan ongkos impor dan tekanan harga domestik yang tetap terkendali.

"Ekonomi Singapura diperkirakan terus berkembang dengan laju yang kuat dalam beberapa kuartal mendatang, lalu melambat ketika siklus AI mereda dari laju luar biasanya dan kondisi keuangan global semakin ketat," MAS menyatakan.

Di sisi lain, Sngapura tidak menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama kebijakan moneter. Negara itu mengelola nilai tukar dolarnya terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama, dengan membiarkan kurs bergerak dalam rentang kebijakan yang tidak diumumkan kepada publik.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya