Harga Pangan Ada yang Turun, Beras Termurah Dijual Rp 13.850 per Kg

Pada pantauan Rabu (13/10/2026), harga beras kini mulai melandai. Berikut rincian lengkapnya.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 14 Oktober 2026, 12:00 WIB
Harga pangan beras kini mulai melandai, pada pantauan Rabu (13/10/2026). Berikut rincian lengkapnya. (Liputan6.com/Cahya Alena Fauza).

Liputan6.com, Jakarta - Harga pangan beras terpantau kembali turun pada hari ini dibandingkan kemarin. Seperti pada harga beras kualitas super tipe I dan super tipe II.

Hasil pantauan di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, Rabu (14/10/2026), harga beras kualitas super tipe I dijual Rp 19.200 per kilogram (kg), kini turun ke Rp 18.250 per kg. Sementara beras kualitas super tipe II turun dari Rp 18.250 ke Rp 16.000 per kg.

Sementara, pada beras kualitas medium, tipe I sebelumnya dijual dengan harga Rp 17.850, lalu kini turun ke Rp 15.700 per kg. Sementara tipe II tadinya dijual di harga Rp 17.250 per kg, namun kemudian turun ke Rp 14.800 per kg.

Selain itu, beras kualitas bawah tipe I kemarin diberi harga Rp 16.500 per kg, yang turun hari ini menjadi Rp 13.950 per kg. Sementara itu, tipe II turun dari Rp 15.950 per kg ke Rp 13.850 per kg.

Harga Beras

  • Kualitas Super: Tipe I dijual seharga Rp 18.250 per kg, dan tipe II di harga Rp 16.000 per kg.
  • Kualitas Medium: Tipe I dan tipe II dijual seharga Rp 15.700 dan Rp 14.800 per kg.
  • Kualitas Bawah: Tipe I diberi harga Rp 13.950 per kg, sedangkan tipe II seharga Rp 13.850 per kg.

Mentan Amran Endus Dugaan Mafia Pangan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jumat (6/03/2026). Mentan memastikan stok beras Indonesia aman. (Dok Kementan)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti dugaan praktik mafia pangan di balik anomali harga sejumlah komoditas utama, mulai dari ayam, telur, beras, hingga minyak goreng. Ia meminta aparat penegak hukum menindak tegas dugaan permainan harga yang dinilai merugikan produsen maupun konsumen.

Amran menilai kondisi harga ayam dan telur saat ini sangat janggal. Pasalnya, para peternak mengeluhkan harga jual di tingkat produsen yang anjlok, sementara konsumen di pasar tetap harus membayar dengan harga tinggi. Situasi anomali ini terjadi meski stok pasokan pangan nasional dipastikan melimpah.

"Ini dulu kalau stok tidak ada, harga naik. Nah, sekarang lebih anomali benar, karena yang punya ayam, produsen ayam dan telur itu demo kemarin karena harga turun, hancur," kata Amran dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2026 di Kantor Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

Menurut Amran, harga ayam dan telur di tingkat peternak menyusut hingga di kisaran Rp 20.000, sedangkan harga di tingkat konsumen melambung tinggi mencapai Rp 40.000 hingga Rp 50.000. 

Dia menduga kuat adanya celah bermasalah dalam rantai distribusi yang memicu disparitas harga extrem tersebut. "Selama tidak diberesi, ini kerja kita terus," tegasnya.

Lebih lanjut, Amran menegaskan bahwa tindakan hukum harus menjangkau pemilik (owner) atau pihak pengendali utama perusahaan, tidak hanya berhenti di jajaran direksi.

Dia menilai persoalan penimbunan atau permainan harga akan terus berulang jika pihak yang paling bertanggung jawab tidak tersentuh hukum.

"Yang dimasukkan cuma direksinya, Pak. Owner-nya tidak masuk, enggak kena. Dia ganti direksi aja," ujar Amran.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya