Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melemah tipis pada Selasa, 13 Oktober 2026 (Rabu pagi Jakarta). Koreksi harga emas ini terjadi seiring investor menantikan data inflasi Amerika Serikat (AS) dan pernyataan dari Ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh akhir pekan ini untuk mengukur arah kebijakan moneter pada masa depan.
Mengutip CNBC, Rabu (14/10/2026), harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.154,99 per ons pada pukul 13.36 EDT. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,35 menjadi US4 4.719 per ons.
Advertisement
“Ada data inflasi yang akan dirilis akhir pekan ini. Jadi, pasar cenderung menunggu untuk melihat bagaimana hasilnya nanti,” kata Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn.
Ia menuturkan, pada Kamis, Ketua The Fed Kevin Warsh akan menyampaikan pidato terakhirnya sebelum pertemuan kebijakan suku bunga mendatang, dan memperkirakan sesi perdagangan yang lebih tenang menjelang pertemuan pada Rabu dan Kamis.
Investor juga menantikan data Indeks Harga Konsumen atau the Consumer Price Index (CPI) pada Rabu. Sementara itu, Indeks Harga Produsen dan pernyataan dari Ketua The Fed Kevin Warsh pada Kamis akan dicermati dengan seksama.
Gubernur The Fed Christopher Waller pada Selasa mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi AS baru-baru ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, bukan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang sejauh ini tetap "terkendali dengan baik."
Emas kehilangan daya tariknya di lingkungan suku bunga tinggi karena aset ini tidak menghasilkan bunga.
Saat ini, para pedagang melihat hanya ada peluang 19% untuk kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, tetapi memperhitungkan peluang 88% untuk kenaikan pada Desember, menurut perangkat FedWatch milik CME. Sementara itu, harga minyak turun pada Selasa dan berada di jalur penurunan pertama dalam hampir sepekan.
Dolar AS
Nilai tukar dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi Treasury acuan tenor 10 tahun turun dari level tertingginya masing-masing, tetapi masih bertahan di dekat level yang tinggi.
Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa menyoroti risiko dari tingginya tingkat utang publik dan kenaikan imbal hasil obligasi, yang mungkin akan terdorong lebih tinggi lagi oleh tekanan inflasi akibat perang.
"Kenaikan suku bunga semakin menjadi pedang bermata dua bagi emas. Meskipun suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas, kebijakan ini juga memperberat beban fiskal banyak pemerintah dan dengan demikian memperparah kekhawatiran mengenai keberlanjutan utang,” ungkap para analis Commerzbank dalam sebuah catatan.