Dubes AS untuk Yunani Mundur Usai Dituduh Salah Gunakan Jabatan

Trump sendiri sebelumnya sudah memastikan bahwa dubes terkait tidak akan lagi menjabat.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 Oktober 2026, 08:05 WIB
Kimberly Guilfoyle saat berbicara dalam Konvensi Nasional Partai Republik di Milwaukee, Amerika Serikat, pada 17 Juli 2024. (AP Photo/J. Scott Applewhite, Arsip)

Liputan6.com, Washington DC - Gedung Putih secara terbuka meminta Duta Besar Amerika Serikat (Dubes AS) untuk Yunani Kimberly Guilfoyle mengundurkan diri pada Selasa (13/10/2026) menyusul semakin banyaknya tuduhan pelanggaran yang ditujukan kepadanya.

Kurang dari dua jam setelah permintaan itu disampaikan, Guilfoyle mengumumkan pengunduran dirinya. Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri spekulasi selama beberapa hari mengenai kelanjutan jabatannya.

Meski demikian, Guilfoyle membantah tuduhan-tuduhan tersebut dan menegaskan akan berjuang keras untuk membela nama baiknya.

Sebelumnya pada Selasa, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyatakan telah meminta Guilfoyle melepaskan jabatannya setelah ia mendapat kecaman keras atas dugaan tindakan tidak pantas, yang sebagian di antaranya diduga melanggar hukum. Tindakan tersebut diduga terjadi sebelum maupun selama ia bertugas di Athena, ibu kota Yunani.

Permintaan pengunduran diri itu terungkap ketika Sekretaris Pers Gedung Putih yang baru menjabat, Katie Zacharia, menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers pertamanya pada Selasa pagi.

"Guilfoyle telah memberikan kontribusi yang sangat baik bagi tim kami, dan kami mendoakan yang terbaik untuknya," tutur Zacharia.

Tak lama setelah Guilfoyle mengumumkan pengunduran dirinya melalui akun X, Trump turut memberikan tanggapan.

"Dia pergi ke Yunani dan menjalankan tugasnya dengan baik. Namun, kami tidak menyukai apa yang kami baca," kata Trump.

Trump mengaku belum berbicara langsung dengan Guilfoyle, tetapi memastikan bahwa ia tidak akan lagi bertugas di Yunani.

Kemungkinan Guilfoyle meninggalkan jabatannya sebelumnya telah disampaikan kepada The Associated Press (AP) pada akhir pekan.

Pada Senin (12/10), Trump juga mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap berbagai laporan mengenai dugaan pelanggaran yang dilakukan Guilfoyle.

Sehari sebelumnya, AP mengutip seorang pejabat senior AS yang mengatakan bahwa Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio "sangat marah" atas laporan mengenai perilaku Guilfoyle.

Guilfoyle Bantah Tuduhan, Singgung Pengabdian Puluhan Tahun

Sejak akhir bulan lalu, The Wall Street Journal menerbitkan serangkaian laporan mengenai dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan Guilfoyle.

Tuduhan tersebut antara lain mencakup ancaman terhadap seorang pejabat Yunani, penerimaan hadiah dan fasilitas yang tidak semestinya, serta tawaran untuk menggunakan pengaruhnya di pemerintahan Trump sebagai imbalan atas pembayaran tagihan kartu kredit dalam jumlah besar.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya di X, Guilfoyle secara langsung membantah tuduhan-tuduhan tersebut.

"Tuduhan ini tidak benar, dan saya akan berjuang sekuat tenaga untuk membela nama baik, reputasi, dan integritas saya," ujarnya.

"Saya telah mengabdikan kehidupan profesional saya untuk memperjuangkan keadilan, membela kebenaran, dan mempertahankan nilai-nilai yang menjadikan Amerika negara yang luar biasa," lanjutnya.

"Saya tidak akan membiarkan tuduhan palsu menentukan bagaimana pengabdian saya kepada masyarakat selama puluhan tahun dipandang."

Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (11/10) malam, tim pengacara Guilfoyle juga membantah bahwa klien mereka telah melakukan kesalahan.

Mereka menjelaskan bahwa uang yang diminta Guilfoyle dari seorang penyumbang dana kampanye Trump merupakan pembayaran atas jasa yang belum dilunasi. Jasa tersebut berkaitan dengan penampilan di sejumlah acara publik dan kegiatan sebagai pembicara sebelum ia dicalonkan sebagai dubes.

Kedua pengacaranya, David Schwartz dan Jesse Binnall, juga membantah tuduhan pelanggaran terkait perjalanan Guilfoyle menggunakan pesawat pribadi.

Menurut mereka, sebelum setiap perjalanan tersebut, Guilfoyle selalu meminta dan memperoleh arahan dari Kementerian Luar Negeri AS, kemudian mengikuti arahan serta peraturan perjalanan yang berlaku di kementerian itu.

Namun, kedua pengacara tersebut tidak segera menanggapi panggilan telepon pada Selasa.

 

Tuduhan Mulai Bermunculan Sejak Beberapa Pekan Lalu

Rubio sempat membela Guilfoyle ketika laporan pertama muncul, tetapi kemudian memilih tidak memberikan komentar terbuka mengenai tuduhan-tuduhan berikutnya.

Pekan lalu, Rubio masih memberikan penilaian positif terhadap kinerja Guilfoyle.

"Dubes kami telah menjalankan tugasnya dengan baik di sini," sebutnya.

Namun, setelah laporan baru muncul, Rubio memarahi wartawan yang kembali menanyakan tuduhan tersebut pada Kamis, sebelum ia meninggalkan Athena.

Rubio mengatakan tidak mengetahui apakah tuduhan-tuduhan itu benar. Karena itu, ia menolak memberikan tanggapan atas informasi yang belum dapat dipastikannya.

"Kalian menganggap bahwa hanya karena seseorang memberikan informasi kepada kalian dan kalian memberitakannya, informasi itu pasti benar. Padahal tidak. Bagi saya, itu bukan kebenaran yang sudah pasti. Bukan begitu cara kami bekerja," kata Rubio di dekat tangga pesawatnya.

Saat pernyataan itu disampaikan, Guilfoyle berada di lokasi untuk melepas keberangkatan Rubio.

Sementara itu, seorang pejabat AS lainnya yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas urusan kepegawaian mengatakan bahwa inspektur jenderal Kementerian Luar Negeri sedang menelaah berbagai tuduhan terhadap Guilfoyle.

Tuduhan tersebut mulai muncul dalam laporan The Wall Street Journal pada akhir bulan lalu dan terus bertambah sejak saat itu.

Namun, pejabat tersebut belum dapat memastikan apakah penyelidikan resmi telah dimulai.

Inspektur jenderal, yang bertugas mengawasi dan memeriksa dugaan pelanggaran di lingkungan lembaga pemerintah, biasanya melakukan pemeriksaan awal secara informal ketika menerima pengaduan mengenai pegawai.

Tidak semua pemeriksaan awal berlanjut menjadi penyelidikan resmi. Jika berlanjut, proses tersebut dapat berujung pada sanksi disiplin, termasuk pemecatan.

Kementerian Luar Negeri AS menolak berkomentar mengenai kemungkinan penyelidikan tersebut.

Pemerintah Yunani maupun para anggota kabinetnya juga belum memberikan tanggapan langsung atas pernyataan Zacharia.

Sebelum pengumuman pada Selasa, sejumlah partai oposisi Yunani telah mendesak Kementerian Luar Negeri untuk memanggil Guilfoyle guna meminta penjelasan mengenai tuduhan yang ditujukan kepadanya.

"Yang paling penting, ini menyangkut martabat bangsa," kata mantan Wakil Menteri Luar Negeri Yunani Sia Anagnostopoulou dalam sidang parlemen pada Jumat.

Menanggapi desakan tersebut, Menteri Luar Negeri Yunani Giorgos Gerapetritis mengatakan bahwa Guilfoyle diperlakukan sama seperti dubes negara lainnya. Menurutnya, pemanggilan resmi tidak diperlukan.

Beberapa jam sebelum pengumuman pada Selasa, Guilfoyle masih aktif mengunggah konten di media sosial.

Ia membagikan foto pertemuannya dengan Dubes Spanyol untuk Yunani pada pekan itu, serta ucapan ulang tahun untuk Lara Trump, menantu Presiden Trump.

Unggahan ulang tahun tersebut diiringi lagu "Dance the Night" milik Dua Lipa, yang menjadi bagian dari soundtrack film Barbie pada 2023.

Yunani memiliki peran yang semakin penting dan berpengaruh berkat letak geografisnya yang strategis di Eropa Tenggara dan kawasan Mediterania Timur.

Peran tersebut terutama terlihat di sektor energi, ketika perang dengan Iran menyebabkan harga minyak dunia melonjak.

Banyak kapal tanker minyak yang terdaftar di Yunani secara rutin melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah. Selain itu, letak Yunani menjadikannya jalur potensial untuk menyalurkan gas alam cair (LNG) yang diimpor ke kawasan Balkan dan wilayah lainnya melalui jaringan pipa.

Selama menjabat sebagai dubes untuk Yunani, Guilfoyle menjadikan sektor energi sebagai salah satu fokus utamanya.

Namun, kedekatannya dengan para petinggi perusahaan di sektor tersebut justru menjadi salah satu hal yang dipersoalkan dalam berbagai laporan mengenai dugaan pelanggaran.

 

Politikus Demokrat Desak Penyelidikan

Lara Trump, Kimberly Guilfoyle, Eric Trump, Donald Trump Jr. dan Tiffany Trump menunggu Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato pada hari keempat Konvensi Nasional Partai Republik di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (27/8/2020). (AP Photo/Evan Vucci)

Tiga politikus senior Partai Demokrat di Kongres AS telah menyerukan penyelidikan terhadap Guilfoyle.

Mereka adalah Gregory Meeks, anggota DPR AS dari New York; Jeanne Shaheen, senator dari New Hampshire; serta Robert Garcia, anggota DPR dari California.

Meeks merupakan tokoh Demokrat paling senior di Komite Urusan Luar Negeri DPR, sedangkan Shaheen menempati posisi serupa di Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Garcia merupakan tokoh Demokrat paling senior di Komite Pengawasan dan Reformasi Pemerintahan DPR.

Sejak akhir September, The Wall Street Journal telah mengungkap sejumlah dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan Guilfoyle.

Dalam laporan pertamanya, media tersebut menyebut Guilfoyle pernah mengatakan kepada para tamu sebuah acara resepsi bahwa AS dapat melemahkan pemerintahan Yunani jika menghendakinya.

Guilfoyle juga dilaporkan mempromosikan kepentingan bisnis sebuah perusahaan konstruksi dan energi tertentu asal Yunani serta mengizinkan pelobi perusahaan tersebut mengikuti pertemuan diplomatik tertutup.

Ketika Rubio berada di Athena, The Wall Street Journal kembali menerbitkan laporan yang mengutip sejumlah pesan teks.

Dalam laporan itu, Guilfoyle disebut meminta seorang penyumbang dana sekaligus pendukung Trump untuk melunasi tagihan kartu kreditnya sebesar 100.000 dolar AS menjelang sidang konfirmasi pencalonannya sebagai duta besar.

Sebagai imbalannya, ia diduga menjanjikan akses kepada sejumlah pejabat pemerintahan Trump.

The Wall Street Journal kemudian melaporkan bahwa Guilfoyle sangat marah karena tidak diundang ke sebuah acara bertema Yunani dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada awal tahun ini.

Ia disebut menuntut agar dapat menghadiri acara tersebut, sambil membanggakan perjalanan mewahnya ke Prancis bersama sejumlah petinggi perusahaan energi.

Sementara itu, tabloid Inggris The Daily Mail melaporkan bahwa Guilfoyle telah membuat sejumlah staf Kedutaan Besar AS di Athena merasa tidak nyaman.

Menurut laporan tersebut, perilaku Guilfoyle juga dinilai melampaui batas kepantasan bagi seseorang yang menjabat sebagai wakil tertinggi pemerintah AS di Yunani.

Sebelum menjadi diplomat, Guilfoyle dikenal sebagai mantan pembawa acara Fox News Channel dan mantan jaksa di California.

Ia pernah menikah dengan politikus Partai Demokrat Gavin Newsom ketika Newsom menjabat sebagai Wali Kota San Francisco, sebelum kemudian menjadi Gubernur California.

Guilfoyle pernah bertunangan dengan Donald Trump Jr., putra Presiden Trump.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya