Mengikuti Perjalanan Sampah Organik dari Rumah sampai Jadi Kompos

Coca-Cola Foundation Indonesia bersama Resikplus menyiapkan komposter di Gilingan, Solo, agar sampah organik bisa diolah menjadi pupuk.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 15 Oktober 2026, 12:00 WIB
Coca-Cola Foundation Indonesia bersama Resikplus menyediakan komposter sampah organik untuk warga Gilingan, Solo, 8 Oktober 2026. (dok. Coca-Cola Indonesia)

Liputan6.com, Solo - Sampah organik dari dapur sering kali berakhir di tempat sampah setelah waktu makan usai. Nasi yang tersisa, potongan sayuran, serta makanan yang tidak habis bercampur dengan jenis sampah lain sebelum akhirnya dibawa pergi.

Di Gilingan, Solo, sisa makanan tersebut mulai diarahkan ke proses pengolahan yang berbeda. Alih-alih langsung dibuang, sampah organik rumah tangga diolah agar dapat terurai dan kembali menjadi kompos.

Inisiatif ini menjadi bagian dari pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Coca-Cola Foundation Indonesia bersama mitra lokal. Setelah mendukung akses air bersih bagi warga, program tersebut diperluas dengan pengolahan sampah organik.

Resikplus mendampingi masyarakat dalam menyiapkan fasilitas dan memahami cara pengelolaannya. "Joganan itu kalau dulu memang di pedesaan lahannya masih luas, bisa gali tanah, semua sisa makanan dimasukkan di situ, ditutup lagi dengan tanah, selesai masalahnya," kata Bayu Imamtoko, Founder Resikplus, saat jumpa pers di Solo, Kamis, 8 Oktober 2026.

Ia merujuk pada cara tradisional masyarakat mengubur sisa makanan di lubang tanah. Namun, cara tersebut sulit diterapkan di permukiman padat dengan lahan terbatas.

Resikplus kemudian mengadaptasi metode tersebut melalui komposter berbentuk kotak berkapasitas 200 liter yang terbuat dari plastik daur ulang. Dengan begitu, warga dapat mengolah sisa makanan tanpa perlu menggali lubang tanah.

Wadah tersebut disiapkan untuk menampung sisa makanan rumah tangga selama proses penguraian berlangsung. Bahan organik yang terkumpul akan diproses hingga berubah menjadi kompos.

 

Mengatasi Sampah Organik

Coca-Cola Foundation memantau program Master Meter yang menyediakan akses air bersih untuk warga RW 10 Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, 8 Oktober 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

"Panen (kompos) kira-kira setiap dua bulan," kata Imam. Cara ini memungkinkan pengolahan sampah organik dilakukan di kawasan pemukiman warga tanpa bergantung sepenuhnya pada pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir.

Alasan lain yang membuat sampah organik perlu mendapat perhatian adalah bau yang muncul ketika sisa makanan menumpuk. Menurut Imam, timbulan sampah organik menjadi salah satu sumber utama bau dari sampah rumah tangga.

Pengolahannya sejak dari sumber dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dibawa keluar kawasan. "Kalau memang pengolahan sisa makanannya berhasil, 60 persen masalah sampah sudah selesai di wilayah itu," ujarnya.

Program pengolahan organik di kawasan ini masih berada dalam tahap sosialisasi dan persiapan. Warga perlu memahami cara memilah sisa makanan, serta mengikuti alur pengumpulan yang telah disiapkan sebelum pengolahan berjalan secara konsisten.

 

Sampah Rumah Tangga

Coca-Cola Foundation memantau program Master Meter yang menyediakan akses air bersih untuk warga RW 10 Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo, 8 Oktober 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Imam memperkirakan rumah tangga dapat menghasilkan sekitar 30 kilogram sisa makanan dalam sebulan. Sekitar 75 persen dari berat tersebut diperkirakan berupa air. Setelah diproses, jumlah kompos yang dihasilkan diproyeksikan berada di kisaran 5–10 kilogram.

Perbedaan berat itu memperlihatkan bahwa hasil akhir pengomposan tidak akan sama dengan berat awal sisa makanan. Perkiraan tersebut menjadi gambaran bagi warga mengenai jumlah material yang berpotensi dihasilkan dari pengolahan sampah dapur.

Kompos yang terbentuk direncanakan digunakan kembali oleh masyarakat. Pada tahun pertama, prioritas program adalah mengolah sisa makanan yang terus dihasilkan rumah tangga. Imam berharap pemanfaatan kompos untuk menanam sayuran dapat dikembangkan setelah proses pengelolaan berjalan lebih matang.

 

Tak Hanya Komposter

Coca-Cola Foundation Indonesia bersama Resikplus menyediakan komposter sampah organik untuk warga Gilingan, Solo, 8 Oktober 2026. (dok. Coca-Cola Indonesia)

Program ini menargetkan sedikitnya 50 warga untuk berpartisipasi pada tahap awal. Imam menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar fasilitas yang tersedia benar-benar digunakan. "Kunci utamanya adalah masyarakat mau bergerak," katanya.

Pengelolaan sampah di Gilingan tidak hanya mengandalkan komposter. Program ini juga menyiapkan mesin pencacah plastik untuk meningkatkan nilai jual kemasan yang terkumpul. Plastik yang telah dicacah diharapkan memiliki nilai ekonomi lebih baik dibandingkan kemasan yang dijual tanpa pengolahan.

Sampah organik dan kemasan dipisahkan agar masing-masing dapat ditangani sesuai karakteristiknya, sedangkan residu tetap menjadi bagian yang perlu ditangani melalui sistem pengelolaan sampah yang berlaku.

Pemisahan sejak awal ini menjadi bagian dari alur pengolahan di tingkat warga, mulai dari sisa makanan yang masuk ke komposter hingga kemasan yang dikumpulkan untuk dicacah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya