Raih Rekor MURI, BCA Digital Luncurkan Buku Literasi Keuangan

BCA Digital meluncurkan buku antologi Dear Money, We Need to Talk dan meraih rekor MURI sebagai 'Buku Literasi Keuangan Karya Jurnalis Terbanyak'.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 13 Oktober 2026, 20:30 WIB
Lanny Budiati (Direktur Utama BCA Digital) & Andi Muhammad Yusuf (Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan/OJK) dalam Media Gathering Peluncuran Buku "Dear Money, We Need to Talk" & Peresmian Rekor MURI "Buku Literasi Keuangan Karya Jurnalis Terbanyak) di Perpustakaan Habibie & Ainun, Selasa (13/10/2026).

Liputan6.com, Jakarta - BCA Digital meluncurkan buku antologi Dear Money, We Need to Talk berisi 50 tulisan jurnalis tentang pengalaman pengelolaan keuangan, yang berhasil meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kategori "Buku Literasi Keuangan Karya Jurnalis Terbanyak". 

Peluncuran bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus menjadi puncak rangkaian bluPressAwards 2026.

Ke-50 tulisan yang dimuat sebelumnya melalui proses kurasi dari 118 karya yang dikirim 107 jurnalis dari 106 media. Direktur Utama BCA Digital Lanny Budiati mengatakan, kisah di dalamnya beragam, dari sandwich generation hingga menabung untuk healing.

"Tidak ada satu formula yang sama buat semua orang. Setiap orang punya formula berbeda, dengan masalah dan income masing-masing,” kata Lanny dalam sambutannya, Selasa (13/10/2026).

Director of Business BCA Digital Duardi Prihandiko menyebut, awalnya tidak ada rencana membuat buku. Gagasan muncul dari upaya menyebarkan literasi keuangan seluas mungkin.

"Inklusi sudah banyak, tapi inklusi tanpa literasi itu bahaya,” ujarnya.

Duardi mengatakan, kurasi dilakukan bersama ahli finansial bersertifikat agar isi tulisan ter-verifikasi. Cerita yang terpilih dinilai dekat dengan persoalan sehari-hari.

"Makanya kami kerja sama dengan salah satu ahlinya, expert di bidang ini yang sudah certified, ternyata ketemu 50 yang memang ilmunya sesuai dengan teorinya, tapi masih bagus banget dan berbagai macam angle, yang kami pikir ini akan menjadi ilmu yang bisa untuk teman-teman melihat dan menyesuaikan mana yang paling pas," ungkap Duardi.

Ia mengaku, momen-momen kecil yang dibagikan dari banyak cerita itu justru 'kena' di hatinya.

"Kita enggak pernah tau 'kena'-nya di mana. Kita punya banyak teori, punya banyak ilmu, tapi kalau tidak kena, ya tidak kena saja. Ini adalah 50 type of posisi keuangan, situasi yang mungkin salah satunya akan kena kalau kita baca, jadi ilmunya dapat banget,” kata Duardi.

 

 

 

 

Ada Gap Antara Inklusi Keuangan & Literasi Keuangan Indonesia

Duardi Prihandiko (Director of Business BCA Digital), Andi Muhammad Yusuf (Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan/OJK), dan Rudini Triyadi (Head of Brand Experience & Community BCA Digital) dalam sesi tanya jawab Media Gathering Peluncuran Buku "Dear Money, We Need to Talk" & Peresmian Rekor MURI (Buku Literasi Keuangan Karya Jurnalis Terbanyak) di Perpustakaan Habibie & Ainun, Selasa (13/10/2026).

Sementara, kekhawatiran mengenai timpangnya inklusi keuangan dengan literasi keuangan Indonesia sudah tercermin lewat data OJK. Survei nasional dengan posisi akhir 2025 mencatat indeks inklusi keuangan 93,61%, sedangkan indeks literasi keuangan 69%, sebagaimana disampaikan Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah OJK Andi Muhammad Yusuf.

"Angka inklusi keuangannya sudah sangat tinggi sebenarnya, terakhir sudah 93,61%. Tapi, kalau kita lihat literasi keuangannya seperti semula ya, angkanya memang masih menunjukkan tantangan kita ke depan, karena saat ini posisinya 69 dari 100 penduduk," ujar Yusuf.

Ia menyebut kondisi tersebut rawan. "Orang yang mengakses keuangannya tapi tidak paham secara keseluruhan. Harapannya sebenarnya itu bisa didorong, pengetahuannya, keterampilannya, keyakinannya terhadap lembaga jasa keuangan, termasuk dari sisi sikap dan perliakunya," ujar dia.

Menurut Yusuf, milenial dan Gen Z mencakup lebih dari separuh penduduk Indonesia. Bonus demografi, ujarnya, hanya menguntungkan bila generasi muda dibekali pengetahuan dan keterampilan mengelola uang.

"Jadi memang harapannya literasi keuangan ini dapat membantu orang untuk terlindungi oleh risiko yang ada, punya residensi keuangan, termasuk juga bisa mengarahkan pendapatannya, pengeluarannya, itu sehat," ujarnya mengenai peluncuran buku itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya