Menikmati Pesona Embung Doho di Wonogiri, dari Spot Lari hingga Berkemah

Embung Doho, yang diinisiasi The Coca-Cola Foundation pada 2017, menawarkan jalur lari yang nyaman, jajanan murah, dan area berkemah.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 14 Oktober 2026, 07:00 WIB
Embung Doho di Wonogiri, Jawa Tengah, difoto pada 7 Oktober 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Wonogiri - Di tengah hamparan persawahan Wonogiri, Embung Doho menawarkan ruang untuk berlari menghirup udara sejuk hingga berkemah bersama rombongan. Berada di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Jawa Tengah, kawasan ini menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Saat cuaca cerah, Gunung Lawu tampak dari sekitar embung, menambah daya tarik lanskap di sekelilingnya. Embung Doho pun berkembang menjadi ruang rekreasi warga, tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai penampung air untuk kebutuhan pertanian.

"Buat teman-teman yang mau mencari spot untuk lari atau bersantai sore maupun pagi hari, boleh banget datang ke Embung Doho di Girimarto," kata Novita, salah seorang pengunjung yang sudah cukup sering datang ke tempat tersebut, pada Lifestyle Liputan6.com di lokasi, Rabu, 7 Oktober 2026.

Ia mengenal Embung Doho karena lokasinya tidak jauh dari rumah. Ia biasanya datang pada Sabtu atau Minggu pagi, meski pada hari biasa lebih sering berkunjung pada sore hari.

Menurutnya, kawasan tersebut bersih dan sejuk. Jalurnya juga nyaman untuk berlari. Lintang, pengunjung lainnya, turut menjadikan Embung Doho sebagai pilihan karena lokasinya dekat dari rumah. Ia juga mengingat tempat tersebut pernah ramai diperbincangkan.

Bagi keduanya, berolahraga di Embung Doho menjadi salah satu cara menikmati waktu luang dengan suasana berbeda. Setelah lari, Lintang mengaku kerap mampir untuk jajan cilok, salah satu jajanan yang dijual pedagang setempat.

 

 

Masuk Gratis

Coca-Cola Foundation Indonesia dan Coca-Cola Indonesia menambahkan fasilitas panel surya di Embung Doho, Wonogiri, Jawa Tengah, 7 Oktober 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Pedagang setempat menjual cilok bakar seharga Rp 1.000 per tusuk dan bakso kuah Rp 5.000 per porsi. Harganya yang terjangkau menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin mengisi perut setelah beraktivitas.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Doho, Sudarmin, mengatakan pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk untuk berlari di kawasan embung. "Datang saja, dan kalau bisa, jajan di Taman Kuliner Doho," kata Sudarmin saat ditemui di kawasan tersebut pada Rabu.

Selain menjadi tempat rekreasi, Embung Doho dimanfaatkan sebagai bumi perkemahan. Pengunjung bisa mendirikan tenda secara perorangan maupun berkelompok, meski rombongan besar lebih sering datang. Salah satu kegiatan yang pernah digelar melibatkan komunitas perguruan tinggi dari Wonogiri dengan sekitar 200 peserta.

 

 

Pengelolaan Melibatkan Relawan

Sejumlah pejabat dari Coca-Cola Foundation, Yayasan Obor Tani, Pemkab Wonogiri sedang berbincang di pinggir Embung Doho.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Pengelolaan kawasan masih melibatkan relawan. Sudarmin menjelaskan, dana perawatan berasal dari sejumlah kegiatan, termasuk kontribusi UMKM dan parkir saat acara berlangsung.

Rombongan yang mengadakan kegiatan tertentu dapat dikenai biaya sesuai kebutuhan. Dalam salah satu kegiatan, rombongan sekolah membayar Rp 5.000 per murid untuk mendukung kebutuhan keamanan dan kebersihan.

Berbagai kegiatan turut menghidupkan kawasan embung. Senam bersama digelar setiap minggu dan menarik peserta, termasuk warga dari luar Desa Doho.

Area kuliner juga menyediakan tempat yang lebih tertata bagi pedagang lokal. Sebelumnya, para pedagang berjualan di sekitar embung. Pengelola kini menyesuaikan jumlah UMKM yang terlibat dengan skala acara agar kegiatan usaha tetap terkelola.

 

Sumber Air

Embung Doho yang dibangun di bekas lahan tandus, kini disulap menjadi obyek wisata baru di Kecamatan Girimarto.(Liputan6.com/Fajar Abrori)

Di tengah pemanfaatannya sebagai ruang rekreasi, Embung Doho tetap berfungsi sebagai sumber air bagi pertanian. Dibangun pada 2017 dengan dukungan The Coca-Cola Foundation dan Yayasan Obor Tani, embung ini membantu mengairi lahan pertanian warga.

Inisiatif keberlanjutan terbaru dari Coca-Cola Foundation Indonesia mencakup pemasangan empat panel surya berkapasitas masing-masing 585 watt-peak (Wp), dengan total daya 2.340 Wp. Sistem ini memasok energi untuk pompa air dan kebutuhan operasional Taman Kuliner Doho, sekaligus membantu menekan biaya listrik.

Kawasan Embung Doho juga dilengkapi sistem penampungan dan penyaringan air hujan untuk kebutuhan nonkonsumsi serta pengelolaan air limbah. Coca-Cola Foundation Indonesia memantau dampak program secara berkala untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan menentukan dukungan lanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya