Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan kripto Strategy membeli 250 bitcoin (BTC) senilai US$ 21,5 juta atau Rp 385,44 miliar (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.930). Aksi pembelian bitcoin itu menunjukkan penurunan volume pembelian sepekan untuk kali kedua berturut-turut. Total kepemilikan bitcoin Strategy mencapai 848.250 BTC.
Mengutip cointelegraph, Selasa (13/10/2026), berdasarkan pengumuman di situs Strategy, perseroan merogoh US$ 21 juta dari pembelian itu melalui penjualan saham biasa, dan sisanya US$ 500.000 atau Rp 8,96 miliar memakai kas yang ada dalam kurun waktu selama sepekan.
Advertisement
Strategy juga melanjutkan pembelian kembali saham preferen STC senilai US$ 192,4 juta atau Rp 3,44 triliun pada pekan ini. Pembelian kembali atau buyback saham preferen itu meningkat dari pekan lalu US$ 176,3 juta atau Rp 3,16 triliun.
Strategy mempertahankan cadangan dana AS sebesar US$ 4,88 miliar atau Rp 87,48 triliun untuk mendukung pembayaran dividen saham preferen dan bunga utang. Saldo kas USD perusahaan tercatat sebesar US$ 640,5 juta atau Rp 11,48 triliun per Minggu.
Pembelian ini menyusul unggahan pada Minggu oleh pendiri sekaligus ketua eksekutif Michael Saylor. Ia mengisyaratkan ada pembelian Bitcoin lagi melalui pesan, "Selalu ada ruang untuk lebih banyak 'oranye' (Bitcoin)." Strategy biasanya melaporkan pembelian Bitcoin mereka melalui dokumen resmi yang diserahkan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), yang tutup pada Senin untuk memperingati hari libur Columbus Day.
Laju akumulasi Bitcoin oleh Strategy telah melambat dalam beberapa bulan terakhir. Kepemilikan Bitcoin perusahaan hanya tumbuh sebesar 0,2% selama kuartal ketiga, di mana perusahaan mengakuisisi 7.218 BTC tetapi juga menjual 5.553 BTC.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
CME Luncurkan Indeks Kripto Tanpa Bitcoin dan Ethereum
Sebelumnya, CME Group bersama CF Benchmarks memperkenalkan indeks kripto baru, CME Emerging Crypto Index, untuk mengecualikan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) dari daftar acuannya.
Indeks ini terdiri dari 10 mata uang kripto yang dipilih secara cermat. Di antaranya BNB, XRP, Solana, Hyperliquid, Chainlink, Stellar, Sui, Uniswap, Avalanche, dan Aave.
Berdasarkan riset CF Benchmarks per 13 Agustus, komposisi indeks ini pada dasarnya berfungsi sebagai keranjang 4 koin, dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (11/10/2026). BNB, XRP, Solana, dan Hyperliquid menyumbang sekitar 92,8% dari total portofolio indeks.
Bobot masing-masing koin tercatat sebagai berikut:
- BNB: 32%
- XRP: 27,6%
- Solana: 18,5%
- Hyperliquid: 14,6%
Enam koin sisanya (secara gabungan): 7,3%.CME juga meluncurkan indeks serupa bernama CME CF Crypto Market Index, yang mencakup 10 koin yang sama ditambah Bitcoin dan Ethereum. CF Benchmarks mengelola kedua indeks ini, dengan nilai diperbarui setiap detik.
Meski begitu, CME belum meluncurkan kontrak berjangka terkait kedua indeks tersebut, sehingga belum ada instrumen pelacakan finansial bagi investor.
Dogecoin dan Cardano Tak Masuk Daftar
CF Benchmarks menetapkan kriteria khusus bagi mata uang kripto yang ingin masuk indeks ini. Koin meme, yang sering dibangun berdasarkan lelucon seperti Dogecoin, secara eksplisit dikecualikan meski memiliki kapitalisasi pasar lebih besar dari Chainlink.
Selain itu, CF Benchmarks menguji penggunaan protokol dan persyaratan kustodian untuk penyimpanan institusional yang aman. Sejumlah koin besar seperti Cardano, Litecoin, Hedera, Monero, Zcash, dan NEAR Protocol turut dikecualikan tanpa alasan spesifik.