Liputan6.com, Jakarta - Bagi kebanyakan orang, eceng gondok yang memenuhi sungai di sekitar pemukiman kerap dianggap sekadar gulma pengganggu. Namun di tangan Maryati, warga Tegalwaru, Bekasi, tanaman liar tersebut justru menjadi pundi-pundi rupiah yang bernilai jual tinggi.
Memanfaatkannya sebagai bahan baku gratis yang melimpah di lingkungan tempat tinggalnya, Maryati mengandalkan kreativitas untuk menyulap eceng gondok menjadi aneka kerajinan anyaman bernilai estetis, seperti tas, keranjang, dan beragam perabot rumah tangga.
Advertisement
Usaha kerajinan yang dirintis secara perlahan ini mengalami lompatan besar usai Maryati bergabung menjadi nasabah PT Permodalan Nasional Madani (Persero) melalui program PNM Mekaar. Lewat program pendampingan usaha yang diberikan PNM, ia memperoleh dorongan besar untuk memoles kualitas produk sekaligus membuka jaringan pemasaran yang lebih luas.
Kini, karya anyaman berbahan dasar gulma sungai Tegalwaru tersebut telah merambah ke berbagai daerah, termasuk pusat kerajinan dan pariwisata seperti Yogyakarta hingga Bali.
Bagi Maryati, pencapaian ini membuktikan bahwa peluang bisnis besar sebenarnya bisa digali dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
"Awalnya eceng gondok ini saya lihat tumbuh di sekitar rumah. Dari situ saya berpikir bagaimana tanaman ini bisa dimanfaatkan dan menghasilkan. Alhamdulillah, sekarang kerajinan yang saya buat sudah bisa dipasarkan ke luar daerah. Saya ingin terus mengembangkan usaha ini supaya produknya semakin dikenal,” ujar Maryati dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Usaha Tak Melulu soal Modal
Perjalanan Maryati menjadi inspirasi nyata bahwa memulai usaha tak melulu membutuhkan modal awal yang banyak. Sudut pandang yang tepat mampu mengubah keterbatasan lingkungan menjadi komoditas ekonomi yang menjanjikan.
Langkah ini selaras dengan misi pemberdayaan yang diusung PNM. Lebih dari sekadar menyalurkan pinjaman modal, PNM konsisten memberikan pembinaan berkelanjutan agar para nasabah mampu meningkatkan kapasitas diri, memperhalus kualitas produk, jeli membaca peluang pasar, hingga akhirnya mencapai kemandirian finansial.
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris, turut mengapresiasi kejelian Maryati dalam memanfaatkan potensi lokal.
"Ibu Maryati tidak perlu mencari bahan baku jauh-jauh untuk memulai usahanya. Ia melihat peluang dari apa yang ada di sekelilingnya, lalu mengubah eceng gondok yang selama ini dianggap gulma menjadi produk yang bernilai dan memiliki pasar. Bagi kami, cerita seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan akses, tetapi juga tentang membuka ruang agar potensi yang sudah dimiliki nasabah dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi," ujar Kindaris.
Kisah sukses Maryati telah membawa eceng gondok melangkah jauh dari habitat aslinya di perairan Tegalwaru. Dari tanaman liar yang tak dilirik orang, kini lahir deretan tas dan keranjang cantik yang menghiasi etalase toko di Yogyakarta hingga Bali. Dari sungai di dekat rumahnya, Maryati berhasil menemukan jalan untuk bertumbuh dan mandiri bersama bisnis yang ia dirikan.