Fitch Prediksi Selat Hormuz Dibuka Awal 2027

Selat Hormuz diperkirakan dibuka kembali lewat kesepakatan tahan lama pada awal 2027 menurut lembaga pemeringkat Fitch Ratings.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 13 Oktober 2026, 12:33 WIB
Matahari terbit di balik kapal tanker yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Selat Hormuz diperkirakan dibuka kembali lewat kesepakatan tahan lama pada kuartal pertama 2027, menurut lembaga pemeringkat Fitch Ratings. Skenario ini menjadi asumsi dasar seiring peringkat kredit kedaulatan di seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara tetap tangguh terhadap perang Amerika Serikat (AS)-Iran.

Harga minyak yang lebih tinggi, pemulihan ekspor minyak, dan penyangga finansial yang besar telah mendukung profil kredit kedaulatan di kawasan tersebut. Hal ini disampaikan Fitch dalam komentar yang menyertai analisis kredit sejawat regional terbarunya, mengutip Anadolu, Selasa (13/10/2026).

Negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) dan Irak menanggung dampak terberat dari konflik ini. Negara-negara itu menghadapi serangan sporadis dari Iran dan kelompok proksi regional, sekaligus gangguan terhadap jalur utama ekspor hidrokarbon mereka.

Di wilayah lain di kawasan ini, sejumlah faktor mengimbangi dampak kenaikan harga minyak. Di antaranya dukungan kuat eksternal bagi Mesir dan Yordania, pertumbuhan pariwisata pesat di Mesir, dan investasi asing langsung yang sehat di Maroko.

Reformasi fiskal yang moderat juga membantu menstabilkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di kawasan ini. Meski demikian, otoritas setempat tetap mewaspadai tekanan terhadap stabilitas sosial.

Rata-rata peringkat kedaulatan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara tidak berubah selama 12 bulan terakhir. Kenaikan peringkat untuk Oman dan penurunan peringkat untuk Bahrain, terjadi sebelum perang dimulai.

 

Tiga Negara Catat Prospek Negatif

Ilustrasi Selat Hormuz. (Sepahnews via AP)

Sementara, Fitch kini mencatat tiga negara berdaulat yang memiliki prospek negatif tanpa satu pun prospek positif. Kondisi ini menunjukkan keseimbangan terendah sejak akhir 2021.

Prospek negatif untuk Qatar dan Ras al Khaimah mencerminkan risiko terkait perang. Keduanya baru-baru ini dihapus dari daftar pengawasan peringkat negatif yang diberlakukan pada puncak permusuhan.

Prospek Qatar mencerminkan ketidakmampuannya mengekspor gas alam cair akibat gangguan di Selat Hormuz. Sementara itu, Ras al Khaimah menghadapi risiko terhadap proyek pariwisata yang berpotensi transformatif, yang sebelumnya mendukung kenaikan peringkatnya.

Selain itu, Israel tetap mempertahankan prospek negatif dari Fitch. Hal itu mencerminkan ekspektasi kenaikan utang publik yang berkelanjutan, serta risiko terkait perang terhadap pertumbuhan ekonomi dan keuangan publik negara tersebut.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya