Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto menerima aliran dana lebih dari US$ 50 miliar atau sekitar Rp 896,3 triliun (estimasi kurs Rp 17.926 per dolar AS) ksepanjang 2026. Angka ini mencerminkan besarnya aliran modal ke aset digital.
Berdasarkan laporan JPMorgan yang dikutip Selasa (13/10/2026), aliran dana ke pasar kripto sepanjang 2026 mencapai US$ 50 miliar. Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, nilainya diperkirakan setara US$ 66 miliar atau sekitar Rp 1.183,1 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi pada Mei yang sebesar US$ 52 miliar atau sekitar Rp 932,2 triliun.
Advertisement
Pada awal 2026, pembelian Bitcoin oleh Strategy dan investasi modal ventura di sektor kripto menjadi pendorong utama masuknya dana baru.Namun, arus keluar besar dari produk exchange-traded fund (ETF) kripto pada Mei dan Juni sempat menekan aliran modal.
Situasi mulai berubah pada Agustus. Partisipasi investor ETF kembali meningkat seiring membaiknya optimisme pasar pada kuartal III 2026.Perkembangan ini mengindikasikan bahwa minat investor mulai meluas, tidak lagi hanya didorong pembelian perusahaan dan pendanaan modal ventura.
JPMorgan Soroti Prospek Pasar Kripto pada Kuartal IV
JPMorgan mencatat perubahan signifikan pada kuartal III 2026, ketika aliran dana ETF dan posisi kontrak berjangka kripto sama-sama meningkat.
Memasuki kuartal IV, peningkatan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat optimisme pasar. Keterlibatan investor institusi dan nasabah individu juga semakin luas dibandingkan aktivitas pembelian oleh perusahaan pada paruh pertama tahun ini.
Bitcoin dan Ether memasuki kuartal IV setelah mengalami pemulihan pada kuartal sebelumnya. Kembalinya dana institusi, aliran modal ke altcoin, meningkatnya penggunaan stablecoin, serta perkembangan tokenisasi aset tradisional turut menjadi perhatian pasar.
Pada Oktober, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 83.000 atau Rp 1,49 miliar, sedangkan Ethereum berada di atas US$ 2.500 atau Rp 44,8 juta. Solana juga bergerak di atas US$ 109 atau Rp 1,95 juta.
Pergerakan tersebut menunjukkan ketahanan pasar kripto di tengah perubahan kondisi likuiditas makroekonomi. Meski demikian, peluang penembusan harga ke level yang lebih tinggi tetap bergantung pada kondisi pasar dan keberlanjutan aliran dana.
JPMorgan menyoroti kuartal IV sebagai periode penting bagi aset digital, ketika Bitcoin menghadapi tantangan untuk menembus level US$ 90.000 atau sekitar Rp 1,61 miliar.