Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah ke posisi 17.900 pada penutupan perdagangan Senin, (12/10/2026). Analis menilai, tekanan terhadap rupiah itu didorong potensi kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed).
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 14 poin atau 0,08% menjadi 17.913 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.899 per dolar AS.
Advertisement
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada juga bergerak melemah ke level Rp17.899 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.884 per dolar AS.
“Pernyataan terbaru dari pejabat the Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” kata Analis mata uang Ibrahim Assuabi, Senin pekan ini.
Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem sudah mengungkapkan kebutuhan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target 2% bank sentral.
Demikian juga disampaikan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mengindikasikan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk menekan inflasi lebih cepat jika data ekonomi secara umum tetap sesuai dengan perkiraan.
"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed,” ujar Ibrahim.
Melihat sentimen geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakanUkraina dan Rusia telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow.
Trump juga mengumumkan, Ukraina dan Rusia telah menyepakati gencatan senjata terkait energi. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan masih menunggu rincian kesepakatan tersebut, sementara pihak Rusia tidak memberikan komentar.
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat, Harga Minyak Jadi Pendorong
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Senin. Rupiah naik 5 poin atau 0,03 persen ke level 17.894 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di 17.899 per dolar AS.
Penguatan ini dipengaruhi penurunan harga minyak mentah dan indeks dolar AS di tengah perkembangan pasokan energi global.
Analis Bank Woori Saudara (BWS), Rully Nova, memperkirakan rupiah bergerak menguat tipis sepanjang perdagangan hari ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan menguat tipis pada kisaran 17.870 per dolar AS-17.900 per dolar AS dipengaruhi oleh global penurunan harga minyak dan indeks dolar,” ucapnya dikutipdari Antara, Senin (12/10/2026).
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah berjangka Brent turun 0,91 persen menjadi US$ 103,95 per barel. Sementara itu, indeks dolar AS sedikit melemah ke level 102,2.
Pelemahan harga minyak tersebut dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan dengan Rusia terkait pasokan energi. Mengutip Sputnik, Rusia disebut siap memasok 300 ribu ton solar ke pasar global paling cepat pada Oktober. Volume tersebut diperkirakan meningkat menjadi 500 ribu ton pada November dan 1 juta ton pada Desember, dengan potensi pengiriman mencapai 3 juta ton per bulan.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump melakukan pembicaraan melalui telepon. Dalam kesempatan tersebut, Putin menegaskan kesiapan Rusia memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS maupun pasar global.
Sentimen Dalam Negeri
Selain berpotensi meningkatkan pasokan energi global, Rusia juga disebut akan mencabut pembatasan ekspor solar lebih awal dari jadwal. Setelah kebijakan tersebut dicabut, kebutuhan pasar domestik Rusia diperkirakan dapat dipenuhi sepenuhnya oleh pasokan solar.
Perkembangan pasokan energi menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar karena dapat memengaruhi pergerakan harga minyak dan sentimen terhadap mata uang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, stabilitas rupiah juga ditopang oleh lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Lelang yang dilakukan Bank Indonesia (BI) tersebut menyerap dana sebesar Rp 30 triliun, dengan imbal hasil atau yield yang menurun.
Rinciannya, yield SRBI untuk tenor enam bulan tercatat 6,55 persen, tenor sembilan bulan sebesar 6,52 persen, dan tenor 12 bulan mencapai 6,68 persen.
Meski demikian, sejumlah faktor domestik masih menjadi perhatian investor. Rully menyebut tingkat keyakinan konsumen serta penanganan bencana dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera turut memengaruhi sentimen pasar.
“Namun, indeks keyakinan konsumen dan penanganan bencana dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera) masih menjadi perhatian pelaku pasar,” ungkap Rully.
Dengan demikian, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, terutama harga minyak dan indeks dolar AS, serta perkembangan kondisi ekonomi dan penanganan bencana di dalam negeri.