Daftar 10 Pekerjaan Paling Terdampak Otomatisasi AI

Sebuah riset menunjukkan bahwa terdapat jutaan pekerjaan yang akan dipengaruhi oleh otomatisasi. Begini saran dari ahli.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 13 Oktober 2026, 09:30 WIB
Sebuah riset menunjukkan bahwa terdapat jutaan pekerjaan yang akan dipengaruhi oleh otomatisasi. Begini saran dari ahli. (Foto: Unsplash/Annie Spratt)

Liputan6.com, Jakarta - Sekitar 7% tenaga kerja Amerika Serikat (AS), atau 11 juta karyawan, mungkin harus mengubah pekerjaan dalam satu dekade ke depan, menurut laporan McKinsey Global Institute yang dirilis 29 September 2026.

Didorong oleh maraknya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, ekonomi AS mungkin akan menciptakan 40 juta lapangan pekerjaan baru satu dekade ke depan. Namun adopsi AI dan teknologi otomatisasi lainnya juga bisa menurunkan permintaan pekerjaan masa kini sebesar 21%, atau 36 juta pekerjaan hingga 2035.

Melansir CNBC Make It, Senin (12/10/2026), sekitar 25 juta pekerja akan bisa menetap di pekerjaannya yang sekarang, meski alur pekerjaannya berubah. Sementara, 11 juta lainnya harus bergeser ke bidang lain.

"Kabar baiknya adalah permintaan akan lebih besar dari penurunannya," kata direktur McKinsey Global Institute, Tanguy Catlin.

Namun, untuk pekerja yang pekerjaannya dipengaruhi adopsi otomatisasi, jalur kariernya mungkin akan sedikit rumit.

Namun, Catlin menuturkan, bagi pekerja yang terdampak oleh adopsi otomatisasi, yang dalam laporan ini didefinisikan sebagai "proporsi jam kerja saat ini yang berpotensi diotomatisasi atau ditingkatkan secara signifikan" oleh teknologi jalan ke depan mungkin akan penuh tantangan.

Berdasarkan laporan tersebut, berikut adalah 10 pekerjaan yang paling terdampak oleh adopsi otomatisasi, yang ditentukan berdasarkan jumlah karyawan purnawaktu, estimasi persentase jam kerja saat ini yang akan terdampak, serta perkiraan penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi:

 

Daftar 10 Pekerjaan yang Paling Terpengaruh Otomatisasi AI

Sebuah riset menunjukkan bahwa terdapat jutaan pekerjaan yang akan dipengaruhi oleh otomatisasi. Begini saran dari ahli. (Unsplash/Igor Omilaev)

1. Dukungan kantor dan administrasi

  • Jumlah karyawan full-time: 18 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 81%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 38%

2. Pertanian, perikanan, dan kehutanan

  • Jumlah karyawan full-time: 400,000
  • Jumlah jam kerja terdampak: 76%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 43%

3. Teknologi dan analitik

  • Jumlah karyawan full-time: 5,2 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 70%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 22%

4. Manufaktur dan produksi

  • Jumlah karyawan full-time: 8,5 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 68%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 25%

5. Perdagangan ritel dan penjualan

  • Jumlah karyawan full-time: 13,3 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 67%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 27%

6. Bisnis dan keuangan

  • Jumlah karyawan full-time: 10,5 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 62%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 18%

7. Layanan makanan

  • Jumlah karyawan full-time: 13,7 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 60%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 31%

8. Seni, media, dan hiburan

  • Jumlah karyawan full-time: 1,9 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 58%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 13%

9. Transportasi dan Logistik

  • Jumlah karyawan full-time: 13,8 juta
  • Jumlah jam kerja terdampak: 55%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 30%

10. Instalasi dan perbaikan

  • Jumlah karyawan full-time: 6,1 juya
  • Jumlah jam kerja terdampak: 54%
  • Penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi: 15%

Beberapa Pekerjaan Akan 'Diciptakan Kembali'

Sebuah riset menunjukkan bahwa terdapat jutaan pekerjaan yang akan dipengaruhi oleh otomatisasi. Begini saran dari ahli.(Foto: Brooke Cagle/Unsplash)

Menurut Catlin, semakin tinggi otomatisasi bukan selalu berarti permintaan yg berkurang. Beberapa pekerjaan mungkin akan “diciptakan kembali” atau diperbesar oleh adopsi AI, dibanding digantikan.

Contohnya, otomatisasi mungkin memengaruhi 47% jam kerja di bidang legal, namun pengurangan permintaan tenaga kerjanya hanya 18%.

Catlin mengatakan, pengacara secara historis menghabiskan banyak waktu untuk riset, namun kini hal itu dapat dilakukan AI, jadi pengacara bisa fokus pada pekerjaan yang membutuhkan penilaian manusia.

“Pekerjaan atau jabatannya tidak berubah, namun bagaimana waktu dihabiskan berubah secara masif,” tutur Catlin.

Dengan data ini, Catlin menekankan bahwa ada perbedaan antara seberapa banyak pekerjaan secara teori bisa diotomatisasi dengan apa yg akan diotomatisasi dalam sebuah organisasi.

Maka, pekerja yang harus mengganti pekerjaannya bisa berada dalam rentang enam hingga 16 juta, dengan 11 juta sebagai perkiraan dasar.

Mempersiapkan Transisi dengan Membangun Keterampilan

Sebuah riset menunjukkan bahwa terdapat jutaan pekerjaan yang akan dipengaruhi oleh otomatisasi. Begini saran dari ahli. /Photo by Christina @ wocintechchat.com Unsplash

Bagi 11 juta pekerja yang dilepas, berpindah ke pekerjaan baru mungkin tidak akan mudah, menurut Catlin.

Satu dari tujuh akan memiliki jalur langsung ke pekerjaan yang serupa, membutuhkan kualifikasi yang mudah diperoleh, dan menawarkan gaji yang sama atau lebih baik daripada pekerjaan sebelumnya.

Namun hampir 45% mungkin akan melalui jalur yang tak semulus itu, di mana mencari pekerjaan baru dapat mengharuskan mereka untuk pindah tempat tinggal, meningkatkan keterampilan secara signifikan, atau memperoleh kualifikasi baru, seringkali dengan gaji yang lebih rendah daripada peran semula mereka.

“Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut mungkin memerlukan investasi waktu dan investasi uang, dan itu akan menjadi sumber hambatan,” kata Catlin.

Lalu, agar 11 juta pekerja bisa mendapatkan pekerjaan baru dalam satu dekade, sekitar 770.000 pekerja harus berganti kelompok pekerjaan setiap tahun, tingkat perubahan yang kira-kira 3,6 kali lipat dari rata-rata historis.

Bagi Catlin, transisi ini memungkinkan, namun agar dapat berhasil dibutuhkan respon sistemik, di mana perusahaan dan pemerintah membantu pekerja memiliki kemampuan baru.

“Karyawan tidak bisa menutup celah ini sendirian,” tutur Catlin.

Sementara waktu, Catlin menyarankan pekerja untuk membangun kemampuan seperti memecahkan masalah, komunikasi interpersonal, kolaborasi, pemikiran kritis, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk belajar.

Dia mengatakan, kemampuan ini akan memberi akses ke pekerjaan yang lebih baik, serta ketangguhan saat dunia terus berubah.

 

Sumber:

https://www.cnbc.com/make-it/2026/10/09/mckinsey-report-automation-will-affect-36-million-of-jobs-by-2035.html

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya