Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan dampak buruk kondisi nelayan yang lemah akibat rendahnya nilai tukar. Menurutnya, kelemahan ini berpotensi mengganggu ketahanan wilayah laut Indonesia.
Ia mencatat Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada 2025 berada di angka 103,9. Angka ini dinilai jauh dari kata sejahtera, bahkan menempatkan nelayan dalam kelompok masyarakat sangat miskin atau desil satu.
Advertisement
"Apa dampaknya kalau nelayan kita miskin? Nelayan kita lemah Pak. Nelayan kita lemah artinya laut kita yang luas itu akan dikuasai oleh nelayan yang kuat," ungkap Zulkifli di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (12/10/2026).
Zulhas, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa istilah 'nelayan kuat' merujuk pada para pelaku usaha perikanan dari negara lain. Ia menyinggung maraknya nelayan asing yang mengeruk sumber daya laut Indonesia. Bahkan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sempat menyebut kekayaan laut RI tergerus pencurian hingga Rp 200 triliun per tahun.
"Siapa nelayan yang kuat? Ya dari China, dari Vietnam, dari Thailand, dari Jepang. Karena nelayan mereka makmur, kuat, bisa menguasai laut kita. Kata Pak Trenggono, kita dicuri per tahun hampir Rp 200 triliun," ujar dia.
"Karena nelayan kita lemah. Jadi dampaknya luas. Akhirnya negara kita pendapatannya kurang, Angkatan Laut mau beli persenjataan enggak ada duitnya. Jadi berputar dia," sambungnya.
Nelayan Masuk Kategori Termiskin, Gak Bisa Makan Tanpa Bantuan
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menilai kehidupan nelayan saat ini masih tergolong dalam kategori desil satu alias kelompok masyarakat paling miskin. Penilaian ini didasarkan pada rendahnya angka Nilai Tukar Nelayan (NTN).
Ia membeberkan, nilai tukar nelayan pada 2025 tercatat sebesar 103,9. Angka tersebut dinilai sangat minim bagi masyarakat pesisir dan menjadi cerminan betapa rendahnya tingkat kesejahteraan serta daya tahan ekonomi mereka.
"Nilai tukar nelayan tahun 2025 itu 103,9, seratus tiga, dari seratus modal baru dia dapat tiga. Nah ini gak bisa makan kalau gak dibantu beras, dia gak bisa sekolahkan anaknya kalau tidak dibantu bantuan tunai," ungkap Zulkifli di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Senin (12/10/2026).
Sebagai pembanding, Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode yang sama mampu menyentuh angka 131. Menurut Zulkifli, capaian NTP sebesar itu sudah terbilang cukup untuk menopang hidup petani. Ia pun menyayangkan kondisi nelayan yang menjadi garda terdepan, tetapi kesejahteraannya justru belum terjamin.
"Berarti nelayan itu masuk kategori desil satu, artinya ini termasuk sangat miskin. Tidak mungkin ini dibiarkan, ya sudah hampir 80 tahun berputar-putar seperti itu. Kalau ada apa penduduk Indonesia yang perang dulu itu nelayan ini yang paling depan. Tapi hidupnya mereka berada di desil satu kategori sangat miskin," beber dia.
Menanggapi situasi ini, Presiden Prabowo Subianto langsung menginstruksikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, untuk memacu nilai tukar nelayan hingga menembus angka 120 pada tahun depan.
"Pak Menteri Kelautan ditergetkan oleh Bapak Presiden tahun ini dan tahun depan untuk melakukan sesuatu terobosan besar-besaran agar nilai tukar ini bisa meningkat dari 103 minimal tahun depan sudah bisa 120. Ada kampung nelayan dan lain-lain," jelas dia.
Kekayaan Laut RI Dicuri Nelayan Asing
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto sempat menyoroti masih banyaknya keberadaan kapal asing yang bebas beroperasi di laut Indonesia setiap malam. Ia menegaskan komitmennya untuk memperkuat keterpihakan pemerintah kepada nelayan lokal.
Prabowo menyebut puluhan ribu kapal asing telah mengeruk kekayaan laut Indonesia, khususnya sumber daya ikan. Sebagai langkah nyata, pemerintah siap memproduksi ribuan unit kapal baru khusus bagi nelayan dalam negeri.
"Puluhan ribu kapal-kapal asing tiap malam berada di laut Indonesia. Puluhan ribu kekayaan laut kita diambil tanpa ada langkah-langkah. Sekarang kita bekerja. Mulai tahun depan kita bangun ribuan kapal-kapal nelayan untuk nelayan-nelayan kita," ucap Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).