Liputan6.com, Jakarta - Maskapai penerbangan berbiaya murah asal Malaysia, Firefly, membatalkan seluruh jadwal penerbangan rute Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang menuju Bandara Seletar, Singapura, hingga Senin (12/10/2026). Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan akibat dampak kabut asap yang melanda kawasan tersebut.
Mengutip Channel News Asia, Senin (12/10/2026), pembatalan ini berdampak pada seluruh layanan penerbangan pulang-pergi yang beroperasi sebanyak enam kali sehari di rute tersebut.
Advertisement
Adapun daftar penerbangan yang terdampak meliputi: FY3122 dan FY3123, FY3124 dan FY3125, FY3126 dan FY3127, FY3128 dan FY3129, FY3130 dan FY3131, serta FY3132 dan FY3133.
Melalui unggahan di akun Facebook resminya, pihak maskapai menyampaikan bahwa seluruh penumpang yang terdampak sedang dihubungi. Selanjutnya, penumpang akan dialihkan ke penerbangan Malaysia Airlines yang tersedia untuk rute Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju Bandara Changi, Singapura.
1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 1.673 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak asap Karhutla selama periode 11 Agustus hingga 9 Oktober 2026. Gangguan tersebut meliputi keterlambatan, pembatalan atau penundaan, pengalihan penerbangan, hingga pesawat yang kembali ke bandar udara keberangkatan.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub terus memantau kondisi penerbangan yang terdampak. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, mengatakan asap Karhutla masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah bandar udara.
Menurut Lukman, keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan. Jika jarak pandang berada di bawah batas minimum, maskapai dapat menunda atau membatalkan penerbangan, mengalihkan pesawat ke bandar udara lain, maupun mengembalikannya ke bandara keberangkatan.
“Kami tidak akan berkompromi terhadap keselamatan. Apabila jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, penerbangan dapat mengalami keterlambatan, pembatalan, penundaan, maupun pengalihan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat,” ujar Lukman dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan pemantauan dan koordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara, pengelola bandara, penyedia layanan navigasi penerbangan, serta operator penerbangan, tercatat 745 penerbangan mengalami keterlambatan. Sementara itu, 907 penerbangan dibatalkan atau ditunda, 15 penerbangan dialihkan ke bandara lain, dan enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan atau return to base (RTB).
10 Maskapai Terdampak
Dampak Karhutla tersebut dirasakan oleh 10 maskapai penerbangan. Citilink Indonesia mencatat jumlah penerbangan terdampak tertinggi, yakni 478 penerbangan. Berikutnya, NAM Air mencatat 300 penerbangan, Wings Air 227 penerbangan, dan Super Air Jet 161 penerbangan.
Maskapai lainnya meliputi Surya Mataram dengan 134 penerbangan, Batik Air sebanyak 112 penerbangan, Garuda Indonesia 97 penerbangan, TransNusa 94 penerbangan, Lion Air 41 penerbangan, serta Sriwijaya Air 29 penerbangan.
Berdasarkan jenis gangguan, pembatalan terbanyak dialami Wings Air dengan 226 penerbangan. Super Air Jet menyusul dengan 158 penerbangan dan Citilink sebanyak 115 penerbangan. Adapun keterlambatan terbanyak tercatat pada Citilink dengan 357 penerbangan, diikuti NAM Air sebanyak 212 penerbangan.
Selain akibat Karhutla, Kemenhub juga mencatat 14 penerbangan dibatalkan karena faktor lain dalam periode yang sama. Penyebabnya meliputi sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, angin kencang, serta kebutuhan perawatan pesawat.
Secara kewilayahan, gangguan paling signifikan terjadi di sejumlah bandara di Kalimantan, antara lain Supadio di Pontianak, Tjilik Riwut di Palangka Raya, Iskandar di Pangkalan Bun, H. Asan di Sampit, Rahadi Oesman di Ketapang, dan Syamsudin Noor di Banjarmasin.
Dampak serupa juga terjadi di Sumatera, termasuk Bandara Sultan Thaha di Jambi dan Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang.