Harga Minyak Dunia Turun Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina

Harga minyak Brent turun 1,65% menjadi US$ 102,99 per barel, sedangkan WTI melemah 1,92% ke US$ 90,09.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 12 Oktober 2026, 12:00 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Ruang Oval, Gedung Putih. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melemah pada Senin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan gencatan senjata yang menargetkan fasilitas energi Rusia dan Ukraina. Harapan peningkatan pasokan energi turut menekan harga, sementara perkembangan konflik Timur Tengah dan ancaman Badai Isaias masih menjadi perhatian pasar.

Mengutip CNBC, Senin (12/10/2016), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun 1,65 persen menjadi US$ 102,99 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November melemah 1,92 persen ke level US$ 90,09 per barel.

“Berlaku segera, ada GENCATAN SENJATA ENERGI dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah menyetujuinya. Jangan melanggarnya!” tulis Trump dalam pernyataan di media sosial.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dukungannya terhadap kesepakatan tersebut. Namun, ia menekankan Rusia juga harus mematuhi kesepakatan itu.

“Ukraina mendukung gencatan senjata, dan penting bagi Rusia untuk mendukungnya juga,” tulis Zelenskyy melalui media sosial.

Pasokan Energi Rusia Jadi Sorotan

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu di Anchorage, Alaska, Jumat (16/8/2025) (Dok. AFP).

Harapan peningkatan pasokan energi Rusia ke pasar global juga menguat setelah Trump menyatakan pada Jumat bahwa Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton solar ke pasar dunia. Pasokan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui pembicaraan telepon.

Di Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan menghubungi Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bin Abdullah. Menurut kantor berita negara Arab Saudi, pembicaraan itu membahas eskalasi situasi di kawasan serta upaya untuk mengatasinya.

Al Jazeera melaporkan Araghchi menyatakan Iran siap membantu memulai dialog antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.

Meski ada harapan peningkatan pasokan, harga minyak diperkirakan tetap bergejolak dalam waktu dekat. Konflik AS-Iran dan dampak Badai Isaias terhadap produsen energi AS berpotensi mengganggu pasokan.

Konflik Timur Tengah dan Badai Isaias

 

UOB menyatakan tekanan kenaikan harga minyak masih berpotensi berlanjut karena Badai Isaias menguat menjadi badai kategori 3 dengan kecepatan angin mencapai 120 mil per jam saat mendekati pesisir Teluk AS. Kondisi tersebut mendorong produsen energi mengurangi produksi lepas pantai.

“Tekanan terhadap harga minyak bisa tetap mengarah pada kenaikan karena Badai Isaias menguat menjadi kategori 3 dengan kecepatan angin 120 mil per jam saat mendekati Pantai Teluk AS, sehingga memaksa produsen energi mengurangi produksi lepas pantai,” tulis UOB dalam catatan pada Senin.

Selain cuaca ekstrem, risiko geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang menopang harga minyak.

“Secara terpisah, serangan rudal Houthi terhadap bandara Riyadh di Arab Saudi pada Sabtu, yang menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang, telah meningkatkan premi risiko Timur Tengah secara signifikan,” tambah UOB.

Dengan demikian, pasar minyak masih menghadapi dua arah tekanan: harapan bertambahnya pasokan energi yang dapat menekan harga dan risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik serta badai yang dapat mendorong harga kembali naik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya