Bos Microsoft Sebut Aturan AI Kalah Ketat Dibanding Mesin Cuci dan Susu

Presiden Microsoft mendesak pemerintah di berbagai negara memperkuat aturan keselamatan AI, menilai pengawasannya masih kalah ketat dibanding mesin cuci.

oleh Muhammad Yudha PratamaDiterbitkan 12 Oktober 2026, 16:44 WIB
Ilustrasi Kecerdasan Buatan. Dok: intersystems.com

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Microsoft Brad Smith mendesak pemerintah di berbagai negara untuk memperkuat aturan keselamatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurutnya, pengawasan terhadap teknologi ini belum seketat ketentuan untuk produk sehari-hari, seperti susu dan mesin cuci.

Dikutip dari BBC, Senin (12/10/2026), Smith menyampaikan pandangannya dalam wawancara Big Boss Interview. Ia menilai perkembangan AI yang pesat perlu diimbangi dengan perlindungan yang memadai bagi masyarakat.

"Saat ini, mesin cuci Anda tunduk pada lebih banyak aturan keselamatan daripada AI. Setiap karton susu yang Anda lihat di toko kelontong juga tunduk pada aturan keselamatan dan pemeriksaan," ujar Smith.

Ia menilai kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi untuk membantu pekerjaan manusia, melainkan berpotensi menjadi senjata jika disalahgunakan. Karena itu, pemerintah perlu menetapkan standar keselamatan yang jelas agar inovasi tidak mengabaikan risiko.

Salah satu usulannya adalah mewajibkan perusahaan pengembang AI menyediakan emergency brake atau rem darurat. Fitur tersebut memungkinkan sistem dihentikan ketika menunjukkan perilaku berbahaya atau mulai beroperasi di luar kendali manusia.

Smith juga mendorong kewajiban hukum bagi perusahaan untuk melaporkan insiden dan memberi tahu pihak yang terdampak. Langkah ini diperlukan ketika sistem melakukan tindakan berbahaya atau mengalami pelanggaran keamanan.

 

Perlunya Peran Pemerintah

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI), kecerdasan buatan. (Image by rawpixel.com on Freepik)

Selain pelaporan insiden, ia mengusulkan pengujian independen sebelum produk AI diluncurkan. Pemerintah perlu berperan dalam mengevaluasi keamanan teknologi, bukan hanya menyerahkan tanggung jawab kepada perusahaan pembuatnya.

Smith menilai Inggris berpeluang memimpin penyusunan standar keselamatan AI secara global. Negara itu memiliki AI Security Institute, lembaga yang berfokus pada pengujian dan evaluasi keamanan kecerdasan buatan.

 

Brad Smith Nilai Pengaturan Mandiri Belum Cukup

Pandangan Smith berbeda dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mendorong industri mengatur dirinya sendiri agar perusahaan teknologi AS tetap mampu bersaing dengan China.

Pada akhir September 2026, sejumlah perusahaan teknologi AS menyepakati komitmen untuk bekerja sama dengan auditor independen dalam mengevaluasi sistem AI.

Smith menyambut langkah ini, tetapi menilai komitmen sukarela belum cukup untuk menjamin keselamatan publik.

 

Perusahaan Wajib Mengikuti Standar Keselamatan

Menurut Smith, perusahaan yang bertanggung jawab mungkin bersedia mengikuti standar keselamatan. Namun, pengawasan juga harus menjangkau pengembang yang tidak menerapkan prinsip serupa.

Smith menegaskan, regulasi tidak harus menghambat inovasi. Sebaliknya, pemerintah dan pelaku industri perlu bekerja sama agar kecerdasan buatan terus berkembang dengan perlindungan yang memadai bagi masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya