Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menggelar Festival Transmigrasi 2026 di kawasan Rempang Eco City, Tanjung Banon, Batam, Kepulauan Riau, pada Sabtu 10 Oktober 2026.
Langkah ini menjadi momentum penting dalam memperkenalkan wajah baru program transmigrasi yang mengedepankan pemberdayaan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, serta penguatan pendidikan masyarakat lokal.
Advertisement
Menurut Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, kehadiran para akademisi dari Technical University of Munich asal Jerman di Tanjung Banon turut menghasilkan berbagai masukan konkret demi kemajuan kawasan.
Iftitah merinci ada empat rekomendasi utama yang disampaikan oleh para ahli dari Jerman tersebut.
"Ada empat tadi masukan dari mereka yang sangat baik sekali. Terkait dengan manajemen lahan, termasuk agroforestri. Kemudian yang kedua juga terkait dengan isu lingkungan. Kemudian yang ketiga dengan komunitas, dan yang keempat tentang aktivitas ekonomi yang mereka sarankan adalah pariwisata bahari," papar Iftitah.
Dia mengaku akan jalankan keempat masukan yang diberikan oleh TUM. Tetapi, menurut Iftitah, sebelum diberikan rekomendasi oleh akademisi TUM, sudah ada program yang dijalankan.
"Salah satunya adalah contoh objek untuk observation deck atau gardu pandang. Kami lihat kalau hari Sabtu Minggu itu, di jembatan-jembatan Barelang, terutama Jembatan 1, itu banyak sekali masyarakat kumpul. Saya pernah turun, ramai sekali, menimbulkan macet di jembatan, 'bapak, ibu sedang apa? dijawab kami sedang melihat laut'," kata dia.
"Oleh karena itu saya sampaikan di Tanjung Banon ini, Rempang Eco-City, sama dengan masukan dari TUM itu, view-nya bagus sekali. Nah, kita sedang bangun menara gardu pandang, sehingga kita bisa pindahkan yang di jembatan, yang tentu saja membahayakan lalu lintas, bisa hadir ke sini," sambung Iftitah.
Bakal Dikembangkan
Nantinya, lanjut Iftitah, apabila sudah banyak orang yang datang, maka akan membuka kesempatan lainnya. Seperti tempat usaha makanan, penataan parkir dan lain sebagainya. Termasuk masalah tanah yang pastinya akan segera dihijaukan.
"Tanahnya ini memang harus segera dihijaukan karena kalau tidak nanti tadi disampaikan tergerus. Padahal tadi Pak Ustaz juga sudah menyampaikan bahwa ini ilmu yang terdahulu dari nenek moyang juga sebetulnya, memanfaatkan tadah hujan untuk juga masalah kesulitan air yang ada di sini. Dan termasuk tadi pariwisata bahari, ya termasuk juga komunitasnya," terang dia.
Menurut Iftitah, dalam satu tahun awal transmigran ke Rempang Eco City diberikan sembako untuk masa transisi.
"Kalau dalam satu tahun ini kita berikan sembako untuk masa transisi, ke depan kita akan mampukan mereka. Kita sudah memberikan juga bantuan misalkan perahu. Ada 16 perahu yang kita berikan, itu bisa langsung nanti kita kembangkan untuk ada desa nelayan, ya ada dermaganya untuk aktivitas sosial. Sudah juga masyarakat banyak yang membuka pasar ikan," ucap dia.
Warga Asli Tak Boleh Terlupakan
Kemudian, lanjut Iftitah, untuk pariwisata bahari sudah dilakukan koordinasi dengan Wali Kota Batam.
"Pak Wali Kota juga akan memberikan tanah pinjaman terlebih dahulu sebelum nanti industri masuk adalah untuk pertanian. Intinya masyarakat harus punya pekerjaan, masyarakat harus punya pendapatan," kata dia.
"Nanti ketika bergerak dalam industri yang lebih besar, seperti contoh pembangkit listrik yang sedang dibuka di sini, kita akan mampukan anak mudanya untuk bekerja di sana," sambung Iftitah.
Dia menegaskan, nantinya kalau sudah banyak lapangan kerja di sini, secara alamiah orang akan datang. Namun, Iftitah menegaskan, masyarakat lokal tidak akan terusi.
"Orang yang sudah di sini jangan sampai terusir, jangan sampai dilupakan. Itulah makna dari transmigrasi. Ketika kita lihat potensi daerah akan berkembang karena masuknya investasi dan industri, kita protek yang masyarakat lokal dalam transmigrasi lokal supaya mereka ada kepercayaan diri untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Daerahnya maju, mereka tidak tertinggal. Kehidupannya akan lebih baik lagi," papar Iftitah.
Festival Bakal Terus Berlanjut
Iftitah pun memastikan, Festival Transmigrasi bakal berlanjut dan tak akan berhenti sampai di sini.
"Pasti. Insya Allah nanti tiap tahunan, bahkan mungkin tiap enam bulan kita buat acara-acara yang menarik di sini," ucap dia.
Menurut Iftitah, ke depannya sudah bangun Kampus Patriot di sini. Jadi, kata dia, bangunannya sudah ada dengan modular box.
"Dan rekan-rekan dari Jerman sudah tinggal di sini lebih dari satu minggu. Jadi sebetulnya ini sudah standar internasional. Artinya mereka sendiri sudah merasakan satu kenyamanan," kata dia.
Di sisi lain, Iftitah mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Transmigrasi, menjembatani antara dunia usaha dengan dunia pendidikan supaya pendidikan yang mereka sekolah ini berdampak kepada masyarakat.
"Kami juga tidak ingin masyarakat lokal ini jauh-jauh sekolah ke luar. Kalau mau sekolah di ITB, di UI, di Undip, ITB, sekolah di sini saja. Tidak perlu jauh-jauh. S1-nya nanti kita buka dengan beasiswa untuk yang masyarakat lokal, S2-nya," terang dia.
"Sehingga nanti ketika industri-industri ini berkembang di Batam, ya insyaallah juga akan ada percepatan begitu, mereka sudah siap bekerja. Jadi tidak lagi pada level yang buruh begitu. Levelnya sudah level manajer, levelnya level officer-lah, perwira, white collar. Jadi itulah yang ingin kita kedepankan," sambung Iftitah.
Dia menegaskan, masyarakat lokal juga bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik hingga ke pendidikan tinggi, sehingga tidak lagi hanya menjadi karyawan atau buruh.
"Oleh karena itu yang kita lakukan adalah memampukan masyarakat lokal supaya betul-betul mereka betul-betul berkembang dan tidak hanya menjadi penonton," kata Iftitah.
Menurut dia, kalau ini sukses sebagai pilot project-nya, maka akan kembangkan di seluruh wilayah Indonesia.
"Jadi tidak lagi misalkan sekarang lagi drancang satu pertambangan di kawasan transmigrasi di Sulawesi Barat, di Mamuju. Kita tidak ingin lagi nanti masyarakat Mamuju hanya jadi penonton seperti yang terjadi sekarang ini di Sulawesi Tengah atau di Maluku Utara," ucap dia.
"Betul-betul Sulawesi Barat nanti ITB bisa datang, orang Sulawesi Barat tidak perlu lagi datang ke Bandung. Bahkan sudah dimulai dari awal transmigrasi itu orang Bandung bahkan nanti yang datang ke Sulawesi Barat karena mempelajari mineral strategis bukan hanya di kampusnya, di sekolahnya, langsung di lapangannya. Jadi langsung bersentuhan dengan laboratorium lapangannya," jelas Iftitah.