Negara Ini Paling Berbahaya bagi Pengguna Bitcoin

Di negara ini terjadi 90 kasus yang terkait kripto dalam waktu lebih dari tujuh bulan. Salah satu penyebab yakni kebocoran data.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 12 Oktober 2026, 06:06 WIB
Ilustrasi kripto. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Prancis telah mencatat 90 kasus yang melibatkan penculikan, pemerasan, ancaman, dan pencurian dengan kekerasan terkait kripto dalam kurun waktu sedikit lebih dari tujuh bulan.

Mengutip cointelegraph, ditulis Senin, (11/10/2026),angka-angka tersebut, yang disampaikan kepada Cointelegraph oleh Kementerian Dalam Negeri Prancis, mencakup periode dari 1 Januari hingga pertengahan Agustus 2026. Pihak berwenang juga mencatat 223 penangkapan, dan 126 orang dipenjara antara bulan Januari hingga Juli.

 Angka-angka ini setara dengan munculnya satu kasus baru setiap dua setengah hari, meskipun tidak ada perbandingan tahun-ke-tahun (year-on-year) resmi untuk mengetahui apakah masalah ini tiba-tiba memburuk,

"Kami tidak memiliki statistik mengenai hal-hal ini untuk tahun 2025, karena pencatatan kejadian baru dimulai pada 1 Januari 2026," ungkap pihak kementerian.

Hal yang membuat angka-angka baru ini semakin mencolok adalah jumlahnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan data dari pelacak publik lainnya mengenai serangan fisik di dunia nyata.

Chainalysis mencatat 30 insiden kekerasan terkait kripto yang diketahui publik di Prancis hingga pertengahan tahun 2026, tapi mencatat skala sebenarnya "hampir pasti lebih besar.

" Perusahaan keamanan Gart.io telah melacak 73 serangan di Prancis sepanjang tahun ini, menempatkan Prancis di posisi pertama mengungguli Amerika Serikat dengan 66 serangan dunia nyata dan Inggris dengan 27 serangan,” demikian seperti mengutip Cointelegraph

Peningkatan serangan fisik yang dikenal sebagai "serangan kunci inggris" (wrench attacks) terhadap pemilik kripto di Prancis mengindikasikan adanya masalah yang lebih besar daripada sekadar serangkaian insiden terisolasi. Kebocoran data pribadi mungkin menjadi penyebab utamanya.

 

Mengapa Prancis?

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Serangan fisik semacam ini bukanlah fenomena baru. Direktori serangan fisik yang dikelola oleh pegiat keamanan Bitcoin, Jameson Lopp, telah mendokumentasikan 365 kasus di 60 negara antara 2014 dan 2026, dengan Prancis menempati urutan teratas.

Namun, hal yang tampaknya baru adalah kecepatan penyebaran kejahatan kekerasan terkait kripto di seluruh negeri. Menurut Chainalysis, serangan telah meluas dari Paris ke berbagai wilayah lain, termasuk Strasbourg, Marseille, Grenoble, Toulouse, dan Nantes.

Para pelaku kejahatan tidak secara khusus menargetkan wisatawan kaya kripto, dan dari para korban yang diketahui domisilinya, 93% adalah warga negara Prancis.

Kepala peneliti Chainalysis, Eric Jardine, mengatakan kepada Cointelegraph, lonjakan kasus ini "kemungkinan besar" disebabkan oleh "kebocoran data yang signifikan."

"Pelanggaran semacam ini tidak hanya mengungkap informasi keuangan; tetapi juga mengungkapkan siapa pemilik kripto, di mana mereka tinggal, dan bagaimana cara menemukan mereka."

Hal ini membuat serangan fisik terhadap pemilik kripto menjadi sangat berbahaya, karena ancaman bisa bermula jauh sebelum penjahat muncul membawa kunci inggris untuk memaksa korban menyerahkan seed phrase atau melakukan transfer kripto. Para penyerang perlu mengetahui terlebih dahulu siapa yang memiliki aset berharga, di mana mereka tinggal, dan bagaimana cara menjangkau mereka.

 

 

Insiden Pembobolan Data di Otoritas Pajak

Ilustrasi kripto (Foto: Unsplash/Andre Francois M.)

Jardine menyebutkan, insiden pembobolan data di otoritas pajak Prancis pada 2024, di mana seorang petugas pajak di wilayah Paris "membocorkan informasi identitas pribadi (PII), data keuangan, dan kepemilikan kripto wajib pajak Prancis" kemungkinan menjadi faktor pemicu. Data Chainalysis menunjukkan adanya lonjakan serangan sejak akhir November tahun yang sama.

Chainalysis juga menyoroti insiden lain pada Januari 2026, ketika perusahaan pelaporan pajak kripto Waltio mengungkapkan adanya kebocoran data yang berdampak pada sekitar 50.000 pengguna, sehingga menambah pasokan data berharga bagi penyerang untuk menentukan target mereka.

Pendiri bursa Bitcoin asal Kanada, Bull Bitcoin, Francis Pouliot, telah berulang kali menentang aturan pelaporan kripto DAC8 di Prancis. Aturan ini memperluas kewajiban pelaporan pajak dan pertukaran informasi bagi pengguna kripto di seluruh Uni Eropa.

"DAC8 telah mengubah konsep Know Your Customer (Kenali Nasabah Anda) menjadi Kill Your Customer," ujar dia.

Ia juga menyebut Prancis sebagai ibu kota pencurian terkait kripto di dunia.

Otoritas Prancis merespons situasi ini dengan mengategorikan serangan-serangan tersebut sebagai kejahatan terorganisasi dan mengoordinasikan penyelidikan melalui JUNALCO, badan khusus negara tersebut yang menangani yurisdiksi kejahatan terorganisasi.

 

 

Dilema Kunci Inggris US$ 5

Sebagian besar pemilik aset kripto telah memahami cara melindungi seed phrase mereka, menggunakan hardware wallet, memastikan keamanan lingkungan digital mereka, serta menghindari tautan phishing.

Meskipun langkah-langkah tersebut tetap penting, semuanya tidak akan berguna jika pelaku kejahatan sudah mengetahui identitas dan tempat tinggal mereka, serta menyadari bahwa mereka memiliki aset berharga yang layak dicuri.

Kriptografi memang dapat melindungi dompet kripto, tapi tidak mampu menghentikan penyerang yang bersenjatakan kunci inggris seharga US$ 5.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya