Nobel Perdamaian 2026 Dianugerahkan kepada Hakim Mahkamah Internasional Navi Pillay

Penghargaan Nobel Perdamaian 2026 diumumkan di Oslo, Norwegia, pada Jumat (9/10).

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 09 Oktober 2026, 17:12 WIB
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Navi Pillay menjelang pembukaan sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss, pada 18 Juni 2012. (Dok. Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP, Arsip)

Liputan6.com, Oslo - Mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Navanethem "Navi" Pillay atau Navi Pillay, yang kini menjadi hakim Mahkamah Internasional (ICJ), meraih Nobel Perdamaian 2026. 

Menurut Ketua Komite Nobel Norwegia Jorgen Watne Frydnes, Pillay yang lahir di Afrika Selatan 85 tahun lalu menerima penghargaan tersebut atas kiprahnya dalam memperjuangkan perdamaian dan hukum internasional.

"Perjuangan Pillay menjadi sumber harapan dan inspirasi bagi semua orang yang menginginkan dunia lebih damai," kata Frydnes saat mengumumkan pemenang Nobel Perdamaian, seperti dilaporkan Associated Press.

Frydnes mengatakan pihaknya belum berhasil menghubungi Pillay untuk menyampaikan kabar bahwa ia terpilih sebagai penerima Nobel Perdamaian, yang kerap dianggap sebagai penghargaan paling bergengsi di dunia.

"Di tengah meningkatnya jumlah perang dan konflik, serta tekanan politik terhadap para hakim dan lembaga hukum internasional, Komite Nobel ingin mengingatkan bahwa penyelesaian konflik tanpa kekerasan hanya dapat terwujud jika hukum internasional ditegakkan," demikian pernyataan Komite Nobel.

"Sistem hukum internasional yang mampu menyeret penjahat perang ke pengadilan dan memberikan keadilan bagi para korban pelanggaran merupakan syarat utama untuk mewujudkan dunia yang damai."

Komite Nobel Norwegia menerima 287 nominasi untuk penghargaan tahun ini. Lebih dari seperempat kandidat yang dinominasikan merupakan organisasi.

Menurut para pakar, Komite Nobel biasanya mempertimbangkan upaya menjaga perdamaian dalam jangka panjang, mempererat hubungan antarbangsa, serta peran lembaga-lembaga yang bekerja di balik layar untuk mendukung tujuan tersebut.

Tahun lalu, pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, meraih Nobel Perdamaian atas perjuangannya mendorong transisi demokrasi di negaranya.

Machado mendapat pengakuan sebagai perempuan yang "terus menjaga api demokrasi tetap menyala di tengah kegelapan yang semakin pekat."

Tak lama setelah Amerika Serikat (AS) menggulingkan Nicolas Maduro dari kursi presiden Venezuela, Machado menyerahkan medali Nobel miliknya kepada Presiden AS Donald Trump.

Namun, penyerahan medali itu hanya bersifat simbolis. Komite Nobel telah menegaskan bahwa penghargaan Nobel tidak dapat dialihkan kepada orang lain.

Tidak semua orang dapat mengajukan kandidat penerima Nobel Perdamaian. Hak tersebut hanya dimiliki kalangan tertentu, antara lain kepala negara, politikus tingkat nasional, profesor universitas, direktur lembaga kajian kebijakan luar negeri, penerima Nobel sebelumnya, serta anggota Komite Nobel Norwegia.

Empat penghargaan Nobel lainnya telah diumumkan sejak awal pekan ini.

Nobel Kedokteran diberikan kepada tiga ilmuwan yang penelitiannya menghasilkan alat berbasis cahaya untuk membantu mengungkap cara kerja otak.

Nobel Fisika diberikan atas upaya seorang ilmuwan mengungkap misteri kelompok partikel neutrino yang langka.

Sementara itu, Nobel Kimia dianugerahkan kepada dua ilmuwan yang berhasil mengungkap misteri molekul dengan struktur yang saling menyerupai bayangan cermin. Temuan tersebut telah dimanfaatkan dalam pengembangan berbagai jenis obat.

Penyair, penulis esai, dan penerjemah asal Kanada, Anne Carson, meraih Nobel Sastra pada Kamis (8/10).

Carson mendapat penghargaan atas karya-karyanya yang dinilai "berani dan inovatif", dengan memadukan unsur klasik dan modern serta mengaburkan batas antara puisi dan prosa.

Adapun pemenang Nobel Ekonomi dijadwalkan diumumkan pada Senin (12/10).

Tahun ini, hadiah uang bagi pemenang Nobel mencapai 12 juta krona Swedia atau sekitar US$ 1,2 juta. Nilai tersebut berlaku baik bagi pemenang perorangan, kelompok kecil maupun organisasi.

 

Nobel Perdamaian Genap Berusia 125 Tahun

Tahun ini menandai 125 tahun sejak Nobel Perdamaian pertama kali diberikan pada 1901.

Sejak itu, penghargaan tersebut telah diberikan kepada 112 orang dan 28 lembaga. Palang Merah tercatat tiga kali menerima Nobel Perdamaian, sedangkan badan pengungsi PBB meraihnya dua kali.

Sepanjang sejarahnya, Nobel Perdamaian juga tercatat 19 kali tidak diberikan, sebagian besar pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Pada 1948, tahun ketika Mahatma Gandhi dibunuh, Nobel Perdamaian tidak diberikan kepada siapa pun. Gandhi sendiri pernah 12 kali dinominasikan, tetapi tidak pernah memenangkan penghargaan tersebut.

Sementara itu, pada 1939, seorang anggota parlemen Swedia pernah mengajukan Adolf Hitler sebagai kandidat penerima Nobel Perdamaian.

Namun, ia kemudian menarik pencalonan tersebut dengan mengatakan bahwa usulannya sejak awal tidak dimaksudkan untuk ditanggapi secara serius.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya