Liputan6.com, Seoul - Korea Selatan menguji coba senjata hipersonik pertama yang dikembangkan di dalam negeri pada Kamis (8/10/2026). Senjata ini dirancang untuk melaju setidaknya lima kali kecepatan suara dan menghindari sistem pertahanan rudal.
Belum ada tanggapan dari Korea Utara, yang pekan lalu juga menguji coba rudal hipersonik hingga jatuh di perairan dekat Jepang.
Advertisement
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menghadiri langsung uji coba tersebut. Dalam pernyataan resmi, Lee menyebut pengujian itu sebagai langkah besar untuk memperkuat kemampuan pertahanan konvensional negaranya.
Namun, pernyataan tersebut tidak menyebutkan lokasi pengujian.
Dalam uji coba itu, senjata hipersonik berhasil terlepas dari roket pendorongnya pada ketinggian yang telah ditentukan. Senjata tersebut kemudian meluncur turun sambil bermanuver ke atas, bawah, dan samping sebelum mengenai sasaran.
Setelah pengembangannya selesai, senjata ini diharapkan mampu menyerang sasaran-sasaran penting secara mendadak dalam operasi militer di Semenanjung Korea.
Lee menegaskan bahwa Korea Selatan "harus menjamin keamanannya dengan kekuatan sendiri".
Menurut kantor kepresidenan, Lee juga meninjau Hyunmoo-5, rudal balistik paling kuat milik Korea Selatan, pada hari yang sama.
Kemandirian Pertahanan Korea Selatan
Ketegangan antara kedua Korea meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah tiga tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan ranjau darat bulan lalu di dekat perbatasan kedua negara yang dijaga ketat.
Militer Korea Selatan dan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menyimpulkan bahwa ledakan tersebut berasal dari ranjau yang dipasang Korea Utara.
Pyongyang membantah bertanggung jawab dan bahkan mengejek tuntutan Seoul agar meminta maaf atas insiden tersebut.
Di sisi lain, Korea Utara semakin sering menguji coba senjata seiring upaya pemimpinnya, Kim Jong Un, memperluas program senjata nuklir dan mengambil sikap yang semakin keras terhadap Korea Selatan.
Sejauh ini, Kim belum menyambut ajakan Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan kembali hubungan diplomatik yang terhenti pada 2019.
Pemerintah Korea Utara menuntut Washington menghentikan kebijakan yang dianggap "bermusuhan" terhadap Pyongyang dan tidak lagi menjadikan denuklirisasi atau penghapusan senjata nuklir sebagai syarat untuk memulai perundingan.
Meningkatnya ketegangan ini menjadi tantangan bagi Lee, yang lebih memilih pendekatan dialog dengan Korea Utara. Ia tetap berusaha menjaga sikap dan pernyataannya agar tidak memperkeruh hubungan dengan Pyongyang, meskipun kemarahan publik atas ledakan ranjau terus meningkat.
Lee juga menyerukan penguatan kemampuan pertahanan konvensional Korea Selatan sekaligus mengurangi ketergantungan negaranya pada AS.
Pada Agustus lalu, Washington secara sepihak memutuskan untuk mengurangi skala latihan militer besar bersama Korea Selatan. Trump saat itu menyebut hubungannya yang "sangat baik" dengan Kim sebagai alasan keputusan tersebut.
Sementara itu, dalam uji coba senjata terbarunya pada 3 Oktober, Korea Utara meluncurkan rudal yang disebut sebagai rudal hipersonik jarak menengah. Pyongyang mengklaim rudal tersebut terbang sejauh lebih dari 1.000 kilometer.
Jepang menyatakan rudal itu jatuh di perairan di luar zona ekonomi eksklusifnya.
Namun, terdapat perbedaan perkiraan mengenai jarak tempuh rudal tersebut. Korea Selatan menyatakan telah mendeteksi rudal itu terbang sejauh lebih dari 700 kilometer, sedangkan Kementerian Pertahanan Jepang memperkirakan jaraknya sekitar 680 kilometer.
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan, mengeklaim perbedaan perkiraan tersebut menunjukkan bahwa Korea Selatan dan Jepang, yang sama-sama merupakan sekutu AS, tidak mampu melacak pergerakan rudal hipersonik secara akurat.
Menurut Kim Yo Jong, hal itu juga menunjukkan bahwa kedua negara tidak akan mampu mencegat rudal tersebut.