Liputan6.com, Makassar - Video unggahan aktivis disabilitas Nabila May Sweetha viral di media sosial setelah mengungkap pengalaman sepupunya yang menjadi korban pemerkosaan. Korban yang merupakan penyandang disabilitas intelektual disebut sempat dua kali bertemu dengan terduga pelaku saat proses pemeriksaan di Polrestabes Makassar.
Dalam video yang diunggah melalui akun instagramnya @nabilamay_, Nabila mengaku kecewa karena korban yang baru mengalami kekerasan seksual harus kembali melihat terduga pelaku. Ia mempertanyakan apakah peristiwa tersebut merupakan bagian dari prosedur penanganan kasus kekerasan seksual.
Advertisement
"Sepupuku diperkosa kemarin, dirudapaksa dan lain-lain. Dan kepolisian, kurang dari 24 jam mempertemukan dia dengan pelaku pemerkosaan itu di kantor polisi. Saya tidak tahu ini sengaja atau tidak sengaja, dan saya tidak tahu apakah itu wajar dalam proses penanganan kasus kekerasan seksual berat, tapi saya merasa ini tidak manusiawi," kata Nabila dalam video yang beredar yang dikutip Liputan6.com, Kamis (8/10/2026).
Nabila mengatakan pengalaman yang dialami sepupunya membuatnya semakin prihatin terhadap kondisi perempuan penyandang disabilitas. Menurutnya, kelompok tersebut kerap menghadapi berbagai bentuk kerentanan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dan jujur saya tidak bisa lagi berkata-kata. Saya merasa kami, perempuan dengan disabilitas itu banyak sekali menjalani hidup yang menjijikkan, menyedihkan, mengerikan," ujarnya.
Ia juga mempertanyakan peristiwa yang membuat korban kembali berhadapan dengan terduga pelaku sebanyak dua kali. Menurutnya, kondisi tersebut semakin memperberat trauma yang dialami korban.
"Coba saya mau tanya kepada oknum polisi di Polrestabes Makassar yang dengan tidak sengaja ataupun sengaja mempertemukan sepupuku dengan pelaku dua kali, itu hati nurani kalian di mana? Bahkan sperma si bangsat itu masih hidup di dalam rahim sepupuku dan kalian mempertemukan mereka," katanya.
Meski menyampaikan kritik, Nabila mengapresiasi langkah cepat kepolisian dalam menangkap terduga pelaku. Namun ia berharap penanganan korban kekerasan seksual, khususnya penyandang disabilitas, dapat dilakukan dengan lebih sensitif.
"Saya berterima kasih, sangat berterima kasih kepada Polrestabes yang juga sudah dengan sangat sigap menjemput pelaku itu. Tapi saya juga punya harapan bahwa sistem peradilan di Indonesia jauh lebih inklusif lagi, bisa jauh lebih mengerti dan paham lagi keadaan korban dengan disabilitas," ujarnya.
Nabila mengaku khawatir terhadap kondisi korban yang hingga kini masih menghadapi trauma berat. Ia juga menyoroti tingginya kerentanan yang dialami perempuan penyandang disabilitas.
"Saya tidak tahu lagi apa penderitaan hidup yang belum dirasakan oleh sepupuku dan kami penyandang disabilitas perempuan lainnya, sampai seolah-olah para pelaku ini merasa kami kurang cukup menderita di dunia," katanya.
Sebagai keluarga korban, Nabila mengaku merasa berada dalam posisi yang tidak seimbang. Ia menyebut korban mengalami hambatan dalam menyampaikan keterangan kepada penyidik, sementara terduga pelaku dinilai memiliki sumber daya dan jaringan yang lebih besar.
"Sebagai keluarga, saya paham bahwa posisi kami sangat lemah. Sepupuku disabilitas intelektual yang punya hambatan untuk memberi keterangan lengkap, runtut kepada kepolisian. Kami juga bukan keluarga besar dengan sumber daya besar. Sementara pelaku itu orang besar, punya banyak relasi, orang kaya, mantan kapten kapal," ujarnya.
Karena itu, Nabila berharap proses hukum dapat berjalan secara adil. Ia juga meminta dukungan publik serta perhatian dari aparat penegak hukum terhadap kasus yang dialami sepupunya.
"Tapi ke mana lagi saya meminta tolong? Saya berharap ada keadilan yang benar-benar adil di dunia ini selain ke Kapolrestabes Makassar dan kepada Bapak Kapolri," katanya.
Di akhir videonya, Nabila menyampaikan harapan agar perempuan penyandang disabilitas dapat hidup dengan aman tanpa menjadi korban kekerasan. Ia berharap pengalaman yang dialami sepupunya tidak kembali terulang pada perempuan lain.
"Dan tentu saja teman-teman penonton TikTok-ku, teman-teman Instagram, semua aktivis perempuan dan aktivis disabilitas. Dalam kehidupan kami yang sangat singkat di dunia ini, saya cuma berharap sepupuku, saya, dan perempuan disabilitas lain di luar sana satu kali saja bisa merasakan hidup yang aman dan bahagia," tuturnya.
Klarifikasi Kapolrestabes Makassar
Menanggapi video yang viral tersebut, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana membantah adanya anggota yang sengaja mempertemukan korban dengan terduga pelaku. Ia mengaku telah meminta klarifikasi langsung kepada penyidik yang menangani perkara tersebut.
Arya menjelaskan pertemuan pertama terjadi saat terduga pelaku baru diamankan dan korban sedang menjalani pemeriksaan. Saat itu korban melihat pelaku sehingga langsung mengalami histeria.
"Jadi saya tadi tanyakan penyidiknya. Disampaikan saat pertama kali ditangkap korban pas masih diperiksa dan melihat pelaku langsung histeris," kata Arya.
Ia mengatakan peristiwa serupa kembali terjadi ketika pelaku sedang diperiksa. Pada saat yang sama korban datang untuk menjalani pemeriksaan sehingga kembali melihat pelaku.
"Kedua saat pelaku sedang diperiksa, korban hadir juga untuk diperiksa dan masuk ke ruangan lalu melihat pelaku lagi dan histeris lagi," ujarnya.
Arya menegaskan tidak ada anggota yang sengaja mengatur pertemuan tersebut. Menurutnya, korban dan pelaku bertemu secara tidak sengaja dalam proses pemeriksaan.
"Jadi ketemu secara tidak sengaja. Tapi tidak ada yang mempertemukan," tegasnya.
Kapolrestabes mengaku telah menanyakan langsung kepada anggota yang menangani perkara tersebut. Ia memastikan akan menindak tegas apabila ditemukan personel yang sengaja mempertemukan korban dengan pelaku.
"Saya tanyakan dengan tegas kepada anggota saya apakah anggota ada yang memanggil pelaku dan mengundang korban untuk dipertemukan. Dan mereka jawab tidak ada yang melakukan itu," katanya.
"Kalau ada anggota yang sampai tega melakukan itu maka akan saya proses. Apabila benar sengaja dipertemukan maka anggota yang mempertemukan akan saya proses kode etik," sambung Arya.
Ia juga mempersilakan masyarakat melapor apabila memiliki bukti terkait dugaan tersebut. Namun Arya mengingatkan agar informasi yang disampaikan ke publik tetap berdasarkan fakta.
"Bagi masyarakat yang mengetahui juga ada anggota yang mempertemukan maka silakan laporkan dan anggota akan saya tindak tegas. Namun kalau berita yang disampaikan secara masif dan disebarkan tidak benar maka yang menyebarkan berita tersebut harus bertanggung jawab," pungkasnya.