Pengusaha: Padat Karya Tertekan, Pekerja Formal Merosot Seperempat

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyebut industri padat karya masih tertekan akibat melambungnya harga bahan baku, biaya logistik, dan gempuran barang ilegal.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 08 Oktober 2026, 19:45 WIB
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani membeberkan tekanan berat yang tengah dihadapi para pelaku usaha di sektor padat karya. Meski pertumbuhan ekonomi nasional terjaga di kisaran 5%, industri padat karya masih tertatih-tatih akibat kendala dari hulu produksi hingga pemasaran.

Shinta menilai berbagai insentif dari pemerintah belum memadai untuk memulihkan kinerja sektor ini. Beban operasional yang ditanggung pengusaha masih jauh lebih besar ketimbang stimulus yang diberikan.

"Insentif yang dikucurkan pemerintah untuk sektor padat karya mungkin belum terasa dampaknya secara langsung. Tantangan yang dihadapi para pelaku usaha saat ini sangat besar," ujar Shinta dalam sebuah diskusi, Kamis (8/10/2026).

Dari sisi produksi, pengusaha dihadapkan pada kelangkaan serta lonjakan harga bahan baku. Beban operasional kian membengkak akibat melambungnya biaya logistik.

"Keterbatasan bahan baku ini menjadi masalah krusial. Masalahnya bukan hanya dari keterjangkauan pasokan, tetapi juga lonjakan harga akibat kenaikan tarif yang signifikan, ditambah logistic cost yang ikut melambung," paparnya.

Tak hanya urusan produksi, pasar penjualan pun tak kalah mengkhawatirkan. Menurut Shinta, daya beli masyarakat yang melemah di dalam negeri serta lesunya permintaan global kian memperberat langkah pengusaha, terlebih dengan maraknya gempuran produk impor ilegal di pasar domestik.

 

Penyerapan Tenaga Kerja Formal Menurun

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani dalam Konferensi pers Indonesia Economic Outlook Apindo 2026, di Permata Kuningan Jakarta, Senin (8/12/2025). (Liputan6.com/Tira)

Tekanan bertubi-tubi pada industri padat karya ini berdampak langsung terhadap peta ketenagakerjaan nasional. Shinta mencatat bahwa tren investasi dalam satu dekade terakhir kian bergeser ke sektor padat modal yang mengandalkan otomatisasi mesin.

Alhasil, penyerapan tenaga kerja di sektor formal anjlok hampir seperempat atau 25% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebaliknya, porsi pekerja di sektor informal justru melonjak tajam.

"Penyerapan tenaga kerja formal turun hampir seperempat dalam 10 tahun terakhir. Dampaknya, pekerja di sektor informal naik signifikan hingga mendekati 60%," jelas Shinta.

Ia menegaskan bahwa pembukaan lapangan kerja formal yang layak harus menjadi prioritas utama pemerintah. Jika tidak, peralihan tenaga kerja ke sektor informal akan terus membesar.

"Pendidikan dan kesehatan memang penting, tetapi penciptaan lapangan kerja adalah kunci utama. Tanpa ketersediaan lapangan kerja, masyarakat akan terus bergeser ke sektor informal," tegasnya.

Sebab itu, Apindo mendorong pemerintah untuk menghadirkan kebijakan konkret yang mampu membangkitkan kembali gairah industri padat karya di tanah air.

Danantara Siapkan Langkah Dorong Industri Padat Karya

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria bertemu manajemen PT Industri Kereta Api (Persero). (Dok INKA)

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan langkah untuk mendorong kembali industri padat karya salah satunya pada sektor tekstil.

"Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Ibu Shinta. Tetapi problem itu bukan problem hari ini. Justru hari inilah kita mulai bicara mengenai bagaimana mendorong lapangan pekerjaan padat karya. Kami baru saja merintis, kita baru akan mendorong terjadinya pertumbuhan industri tekstil kita kembali." jawab Dony menanggapi pernyataan Shinta soal kondisi industri padat karya.

Dony mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 6%. Pemerintah ingin mengubah struktur ekonomi Indonesia dari yang berbasis komoditas menjadi lebih berbasis industri.

"Kita ingin mengubah basis ekonomi kita dari commodity-based menjadi industrial-based economy.", jelas Dony.

Selain itu, Danantara berencana mengurangi jumlah BUMN dari 1.074 menjadi sekitar 200 perusahaan. Dony mengatakan sektor yang tidak menjadi bagian utama BUMN akan diberikan kepada swasta.

"Kita memotong BUMN-BUMN kita dari 1.074 yang kita harapkan tahun ini hanya tinggal 200 BUMN saja. Teman-teman bisa bayangkan lebih dari 800 BUMN yang kita tutup dan sektor-sektor yang tidak menjadi core kita, kita berikan kepada swasta.", tambahnya.

Menurut Dony, sektor swasta perlu mendapat ruang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Peran sektor swasta harus kita dorong semaksimal mungkin. Mustahil itu hanya dijalankan oleh Danantara sendiri." pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya