Liputan6.com, Paris - Polisi dan demonstran terlibat bentrokan di Liege, Belgia, pada Rabu (8/10/2026), saat kemarahan mahasiswa terhadap biaya pendidikan dan kondisi sekolah semakin meningkat. Aksi tersebut menggema di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran yang berlangsung di negara tetangga, Prancis.
Dikutip dari Axios, Kamis (8/10/2026), Gelombang protes itu menunjukkan meluasnya kekecewaan di berbagai negara Eropa terhadap pendanaan sekolah dan kondisi ruang kelas.
Advertisement
Aksi di Prancis yang awalnya berlangsung di Paris pada pertengahan September sebagai demonstrasi lokal yang digelar pelajar sekolah menengah, berkembang menjadi gerakan nasional berskala besar. Siswa, orang tua, dan serikat guru menuntut peningkatan pendanaan untuk sektor pendidikan.
Dalam beberapa hari terakhir, bentrokan terjadi antara polisi Prancis dan demonstran. Situasi memuncak ketika tangan seorang remaja berusia 15 tahun hancur akibat granat kejut yang ditembakkan polisi.
Lebih dari 6.500 orang, sebagian besar di antaranya masih di bawah umur, telah ditangkap sejak demonstrasi di Prancis dimulai.
Di Belgia, polisi telah melakukan sedikitnya 139 penangkapan di Liege sejak aksi protes dimulai pada 1 Oktober.
Protes Pejalar Meluas ke Eropa
Gelombang aksi saat ini memang bermula di Prancis. Namun, persoalan pendidikan di berbagai negara Eropa telah muncul jauh sebelum demonstrasi tersebut.
Ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, pemangkasan anggaran universitas, hingga melonjaknya biaya pendidikan menjadi sejumlah persoalan yang mendorong demonstrasi terkait investasi pemerintah di sektor pendidikan.
Di Yunani, para siswa menyerukan aksi sekolah secara nasional pada Kamis. Menurut Euronews, aksi tersebut mencakup pertemuan, mogok belajar, demonstrasi, dan kemungkinan pendudukan sekolah.
Di Italia, pendudukan sekolah menengah dimulai di Turin dan Roma pada Senin dengan slogan "Lakukan seperti di Prancis".
Para siswa Italia menyuarakan persoalan yang juga dihadapi siswa Prancis, termasuk minimnya pendanaan, kondisi bangunan sekolah yang memburuk, serta meningkatnya biaya hidup. Sebuah delegasi siswa Italia juga melakukan perjalanan ke Paris sebagai bentuk solidaritas, menurut laporan ANSA.
Di Irlandia, ribuan mahasiswa melakukan demonstrasi di Dublin pada awal bulan ini. Mereka menuntut biaya pendidikan yang lebih rendah, peningkatan pendanaan pendidikan tinggi, serta tempat tinggal yang terjangkau, menurut RTÉ.
Sementara di Jerman, siswa, guru, orang tua, dan serikat pekerja menggelar aksi pada September untuk menuntut peningkatan investasi di sektor pendidikan, penambahan jumlah guru, serta sistem sekolah yang lebih adil, menurut Tagesschau.
Di Austria, kelompok mahasiswa tengah mempersiapkan demonstrasi baru pada pertengahan Oktober. Rencana itu muncul setelah asosiasi universitas di negara tersebut memperingatkan kemungkinan pemangkasan sekitar 1 miliar euro dari anggaran universitas untuk periode tiga tahun berikutnya, menurut ORF.
Dilema Anggaran Pemerintah Eropa
Gejolak pendidikan tersebut terjadi ketika sejumlah pemerintah Eropa menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengendalikan defisit anggaran. Di saat yang sama, meningkatnya biaya pinjaman membuat pembayaran utang menjadi semakin mahal.
Prancis dan Belgia masing-masing diperkirakan mencatat defisit anggaran lebih dari 5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun ini. Sementara defisit Austria diperkirakan berada di atas 4 persen, berdasarkan proyeksi Komisi Eropa.
Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengambil keputusan sulit terkait belanja publik.
Gelombang demonstrasi ini bukanlah gerakan Eropa yang terkoordinasi. Namun, para pelajar di sejumlah negara bergerak dengan membawa kekhawatiran yang serupa mengenai kondisi dan pendanaan pendidikan.