IEA Lepas Stok Solar, Harga Minyak Dunia Turun

Harga minyak dunia turun setelah negara anggota IEA sepakat memprioritaskan pelepasan stok solar untuk meredam kenaikan harga BBM.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 08 Oktober 2026, 07:40 WIB
Perubahan harga minyak dunia dipicu beberapa faktor utama, terutama situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Rabu setelah negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat memprioritaskan pelepasan stok solar untuk mengatasi lonjakan harga bahan bakar.

Mengutip CNBC, Kamis (8/10/2026), harga minyak Brent, yang menjadi patokan global, turun 38 sen menjadi US$ 100,20 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) turun US$ 1,16 menjadi US$ 88,28 per barel.

Direktur IEA Fatih Birol mengatakan negara anggota sepakat mendukung “prioritas pelepasan stok solar, sejauh memungkinkan, mengingat kondisi pasar solar yang saat ini ketat.”

Birol menyebut negara anggota IEA telah menggelontorkan sekitar 325 juta barel minyak melalui rencana aksi darurat pada Maret untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran.

Masih ada sekitar 100 juta barel yang belum dilepas melalui rencana tersebut.

 

IEA Masih Simpan 1,1 Miliar Barel

Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Fatih Birol mengatakan negara-negara anggota IEA masih memiliki stok darurat setara 1,1 miliar barel minyak. Jumlah tersebut termasuk lebih dari 200 juta barel solar.

“IEA siap melepaskan lebih banyak stok ini ke pasar jika dan ketika diperlukan,” kata Birol.

Pertemuan IEA dan pernyataan tersebut muncul setelah negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas stok solar di tengah tekanan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Namun, belum diketahui secara pasti berapa banyak solar yang akan dikeluarkan ke pasar.

Harga minyak sempat menguat pada awal perdagangan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa pemulihan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah masih rentan terganggu.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan aliran minyak melalui jalur pipa East-West telah mencapai 5,8 juta barel pada Selasa pagi.

 

Risiko Geopolitik Masih Tinggi

Gambar satelit yang disediakan oleh Vantor pada hari Minggu, 13 Sept 2026 ini menunjukkan dampak dari serangan drone terbaru di pipa East-West di Arab Saudi. (Gambar satelit ©2026 Vantor melalui AP)

Jalur pipa East-West Arab Saudi sebelumnya ditutup pada awal September setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone.

Namun, otoritas penerbangan Arab Saudi dilaporkan mengatakan bandara di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Selasa. Serangan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Selain itu, langkah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran trader terhadap pasokan minyak dunia.

Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam mengatakan minyak masih “terjebak di antara membaiknya pasokan fisik dan risiko geopolitik yang terus berlanjut.”

Analis Pasar Senior XS.com Samer Hasn menilai kemampuan Houthi menyerang fasilitas minyak yang berjarak ratusan kilometer dari perbatasan membuat risiko gangguan besar terhadap pasokan minyak mentah tetap tinggi.

“Risiko ini dapat memburuk jika Houthi merasa perlu meningkatkan tekanan akibat kehilangan lebih banyak wilayah,” kata Hasn.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya