Top 3: Arah Harga Emas Usai Dolar AS Melemah

Berikut ini tiga artikel terpopuler atau Top 3 di kanal bisnis Liputan6.com pada Kamis (8/10/2026).

oleh Arthur GideonDiterbitkan 08 Oktober 2026, 06:30 WIB
Harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$ 4.168,33 per ons. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa, didukung pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Investor mencermati ketidakpastian pasar obligasi di AS dan zona euro, khususnya Prancis, serta menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September untuk mendapat petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hanya 22%, setelah pertumbuhan lapangan kerja September berada di bawah perkiraan.

Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih mencapai 84%, berdasarkan FedWatch Tool CME.

Artikel mengenai harga emas ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. Selain itu masih ada sejumlah artikel lain yang layak untuk disimak.

Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Kamis (8/10/2026):

1. Harga Emas Hari Ini Melejit Usai Dolar AS hingga Imbal Hasil Obligasi Melemah

Harga emas dunia menguat pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026 (Rabu pagi Jakarta). Kenaikan harga emas itu didukung oleh terhentinya lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau treasury dan dolar AS yang melemah. Sementara itu, investor menantikan risalah rapat the Federal Reserve (the Fed) pada September untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneternya.

Harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$ 4.168,33 per ons. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup menguat 0,7% ke level US$ 4.187,10.

Simak berita selengkapnya di sini

 

2. Rupiah Menguat ke 17.887 per Dolas AS, Ditopang Kokohnya Cadangan Devisa

Rupiah naik 12 poin atau 0,07% ke level 17.887 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 17.899 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu 7 Oktober 2026. Rupiah naik 12 poin atau 0,07% ke level 17.887 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 17.899 per dolar AS.

Sejalan dengan pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatatkan penguatan ke level 17.880 per dolar AS dari posisi sebelumnya 17.910 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai apresiasi mata uang Garuda didorong oleh posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang tetap kokoh.

Simak berita selengkapnya di sini

 

3. Bisnis Berusia Seabad di Jepang Berguguran

Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)

Bisnis Jepang yang telah berdiri lebih dari seratus tahun kini menghadapi gelombang kebangkrutan dengan laju rekor. Salah satunya Kadoya Sesame Mills, produsen minyak wijen sejak 1858.

Kadoya akan delisting atau menghapuskan saham dari bursa saham lewat tender offer yang didukung firma ekuitas swasta Integral, setelah lebih dari dua dekade tercatat di Jasdaq Securities Exchange sejak 2004, seiring naiknya biaya bahan baku dan risiko geopolitik.

"Perusahaan berusia satu abad di Jepang makin khawatir tidak bisa memperkirakan masa depan dengan laba tinggi yang berkelanjutan dalam jangka panjang, dan takut akan perlahan-lahan mengalami kemunduran," kata Kepala Ekonomi Jepang di Oxford Economics, Shigeto Nagai.

Simak berita selengkapnya di sini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya