Liputan6.com, Jakarta - Kepala SDN 1 Kebondalem, Erning Rustini tidak hadir dalam pemakaman MHA (7), korban dugaan perundungan di Kabupaten Pemalang. Jenazah MHA dimakamkan di TPU Cikemplong, Kamis (1/10/2026). Keluarga korban menyayangkan ketidakhadiran Erning tersebut.
Kusyani (36), bibi korban mengatakan, sejumlah guru dari SDN 1 Kebondalem baru takziah pada sore hari beberpa jam setelah pemakaman.
Advertisement
“Saat pemakaman, dari pihak sekolah tidak ada yang datang. Perwakilan guru datang sore jam tiga,” ucap Kusyani kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Kusyani menyebut bahwa kedatangan perwakilan guru SDN 1 Kebondalwm tersebut juga tidak disertai kehadiran kepala sekolah. Hingga saat itu, keluarga mengaku belum pernah menerima kunjungan langsung dari Erning Rustini.
Kusyani juga menyebut pihak keluarga korban belum menerima permintaan maaf secara langsung dari pihak sekolah sejak korban meninggal dunia.
“Tidak pernah hadir sama sekali,” tukasnya.
Bahkan, ketika perwakilan sekolah mendatangi rumah duka, keluarga mengaku tidak mendengar adanya penyampaian permintaan maaf atas kejadian yang menimpa korban.
“Tidak ada kata maaf sih pas kemarin pihak sekolah ke sini,” pungkas Kusyani.
Di tengah luka kehilangan, keluarga masih mengenang sosok MHA sebagai anak yang mandiri, pendiam dan memiliki semangat tinggi untuk bersekolah.
Yani menceritakan sosok MHA merupakan anak yang cenderung pemalu dan tenang ketika berada di rumah. Namun, setiap hendak berangkat sekolah, semangatnya begitu terlihat.
“Dia itu anaknya pendiam, sudah gitu pemalu,” imbuh Yani.
Menurut Yani, korban terbiasa mempersiapkan keperluannya sendiri sebelum berangkat ke sekolah.
“Kalau sekolah itu paling semangat. Pagi-pagi sudah bangun sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, ayah korban, Nurwandi, mengungkapkan bahwa sebelum meninggal dunia, korban sempat memberikan petunjuk mengenai anak-anak yang diduga melakukan penganiayaan terhadap dirinya.
Menurut Nurwandi, identifikasi tersebut dilakukan dengan memperlihatkan sejumlah foto kepada korban.
“Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia. Dilihatin foto terus dia menunjuk,” cerita Nurwandi.
Keluarga korban juga meminta pihak SDN 1 Kebondalem melakukan pembenahan serius terhadap sistem pengawasan dan keamanan siswa.
Diah Indrianti selalu ibu korban, berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.
“Tolong pihak sekolah bisa memperbaiki tentang keamanan dan kenyamanan siswa. Jangan sampai ada seperti ini lagi,” pinta Diah.
Diah juga meminta fasilitas kamera pengawas atau CCTV di lingkungan sekolah diperbaiki. Selain itu, diperluas cakupannya, terutama di titik-titik yang dianggap rawan.
“Termasuk tolong CCTV bisa diperbaiki. Kalau perlu di setiap sudut diberi semuanya supaya enggak kecolongan,” tuturnya.
Keluarga korban juga menyayangkan sikap orang tua dan keluarga anak yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Sebab dinilai belum menunjukkan empati.
Keluarga berharap apabila proses hukum nantinya menemukan adanya pihak yang terbukti melakukan kesalahan, penanganannya dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasus ini turut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Pemalang. Pelaksana Tugas Bupati Pemalang, Nurkholes, bahkan melakukan inspeksi mendadak ke SDN 1 Kebondalem sekaligus mendatangi rumah duka.
Dari hasil laporan yang diterimanya, Nurkholes menyebut terdapat perselisihan antara korban dan anak yang diduga sebagai pelaku sebelum akhirnya terjadi pemukulan.
“Tadi ke sekolahan dan mendapat laporan kronologi kejadian. Memang ada perselisihan antara korban dan pelaku, kemudian terjadilah pemukulan,” ujar Nurkholes.
Nurkholes juga menyoroti sikap pihak SDN 1 Kebondalem setelah terjadinya kasus tersebut. Evaluasi terhadap kepala sekolah dilakukan, terlebih setelah muncul persoalan terkait pembatalan audiensi dengan wali murid.
“Kita lakukan evaluasi terhadap kepala sekolah dan tentunya akan mengambil langkah dan tindakan tegas,” tegasnya.
Bahkan, Pemerintah Kabupaten Pemalang mempertimbangkan pemindahtugasan kepala sekolah agar tidak lagi bertugas di SDN 1 Kebondalem.
“Kalau bisa kita akan pindah dan tidak boleh ada di sekolah ini lagi,” terang Nurkholes.
Ia menegaskan, apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya unsur pembiaran terhadap perundungan atau pelanggaran lain yang menjadi tanggung jawab sekolah, sanksi disiplin akan dijatuhkan sesuai ketentuan.
“Kalau terbukti bersalah ya pasti ada hukuman disiplin,” tegasnya.
Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai kasus kematian korban dan berbagai sorotan yang diarahkan kepada pihak sekolah, Erning Rustini belum memberikan penjelasan secara rinci.
“Maaf Mas, semua sudah saya serahkan ke kepolisian,” ungkap Erning.